Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menyebut puasa Ramadan 2026 kemungkinan besar mengalami perbedaan di kalangan umat Islam Indonesia. Untuk itu, dia mengajak masyarakat menyikapi potensi perbedaan awal Ramadan 2026 dengan dewasa dan bijak.
"Hampir dipastikan berpotensi berbeda, mengawali Ramadhan ini kita berbeda. Karena sudah ada yang sudah menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari ini. Karena menggunakan hisab sekaligus kalender global," ungkapnya dilansir dari laman resmi MUI, dikutip Selasa (17/2).
Menurut Cholil, sebagian pihak menggunakan metode hisab dengan kalender global dalam menentukan awal Ramadan 2026. Sementara pihak lainnya menggunakan metode hisab yang dikombinasikan dengan imkanur rukyat, yaitu kemungkinan terlihatnya hilal setelah matahari terbenam.
"Sementara yang lainnya, menggunakan hisab sekaligus metode imkan rukyat yang kemungkinan bisa dilihat dari terbenamnya matahari. Nah, menurut imkan rukyat kemungkinan hilal bisa dilihat ini tak mungkin dapat diamati," sambungnya.
Ia menjelaskan bahwa posisi hilal diperkirakan masih berada di bawah 3 derajat. Padahal, berdasarkan kesepakatan Mabims, forum ulama Asia Tenggara yang terdiri dari Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam, hilal dinyatakan memenuhi kriteria jika berada di atas 3 derajat.
"Jadi bisa dipastikan awal Ramadhan kita ini akan berbeda. Ada yang tanggal 18 dan ada yang tanggal 19 Februari. Saya berharap semuanya memaklumi hal ini. Yang penting kita bisa menjalankannya dengan baik dan khusyuk," ungkapnya.
Cholil menekankan agar potensi perbedaan awal puasa 2026 tidak menimbulkan gesekan yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim.
"Saya berharap masyarakat sudah dewasa. Ini masalah khilafiyah fikr, masalah perbedaan pemikiran. Dan tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan, tapi dijadikanlah perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak," sambungnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat tersebut juga menjelaskan pentingnya memahami konsep wihdatul mathali’ dan sa’atul mathali’, yakni perbedaan cara menentukan terlihatnya bulan berdasarkan lokasi geografis.
"Ada yang menganggap seluruh dunia adalah satu kalender, satu mathla’, satu tempat terlihatnya bulan. Sehingga di satu negara yang dilihat bisa di sini juga sama-sama dianggap melihat dan memulai puasa," terangnya.
Ia mempersilakan umat Islam mempelajari perbedaan metode penentuan awal Ramadan sebagai bagian dari pengayaan ilmu. Namun ia kembali menegaskan agar perbedaan tersebut tidak dijadikan sumber perpecahan. (H-4)
"Tapi jadikan ikhtilaf ummati rahmat. Menjadi rahmat bagi kita untuk kita belajar lebih banyak," tegasnya.
Dengan potensi perbedaan awal Ramadan 1447 H yang bisa jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026, umat Islam di Indonesia diharapkan tetap menjaga persatuan dan menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk serta saling menghormati perbedaan. (H-4)
KEMENTERIAN Agama akan menggelar sidang isbat awal puasa 1 Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi hari ini, Selasa (17/2).
Menjelang datangnya bulan suci, pertanyaan mengenai kapan Mekah mulai puasa selalu menjadi sorotan umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia
Simak estimasi awal puasa Ramadan 2026 di berbagai negara. Mayoritas diprediksi mulai 19 Februari 2026 berdasarkan perhitungan astronomi global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved