Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Teknologi Genomik jadi Strategi Meredam Beban Biaya Kesehatan di Indonesia 

M Iqbal Al Machmudi
13/2/2026 16:26
Teknologi Genomik jadi Strategi Meredam Beban Biaya Kesehatan di Indonesia 
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.(Dok. Antara)

KEMENTERIAN Kesehatan mempercepat implementasi kedokteran presisi sebagai jawaban atas terus melonjaknya pembiayaan kesehatan akibat penyakit kronis di Indonesia. Melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI), pengobatan kini diarahkan pada pendekatan berbasis analisa genetik individu yang lebih akurat dan efisien.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, teknologi genomik yang dikelola Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Binomika) memungkinkan pemeriksaan kesehatan menjadi lebih personal. Hal ini menjadi titik balik dari paradigma lama yaitu satu obat untuk semua.

"Pemeriksaan kesehatan kita akan menjadi jauh lebih akurat, lebih presisi, dan lebih personal. Otomatis, pengobatannya juga bisa lebih tepat sasaran dan efektif dalam menyembuhkan," kata Budi dalam keterangannya, Jumat (13/2).

Hingga awal tahun 2026, program BGSI telah merekrut lebih dari 20 ribu partisipan dan menghasilkan 16 ribu sequence whole genome manusia. Capaian ini dipandang bukan sekadar angka riset, melainkan basis data penting untuk menekan pemborosan anggaran kesehatan.

Sementara itu, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menyoroti kaitan erat antara genomik dan ketahanan fiskal negara. Menurutnya, terapi yang tepat sasaran akan memangkas biaya pengobatan yang berlarut-larut akibat diagnosis yang tidak akurat.

"Jika terapinya tepat, pemborosan biaya pengobatan bisa dihindari. Keuangan negara di sektor kesehatan akan menjadi jauh lebih efektif," kata Febrian.

Namun demikian, Febrian mengingatkan bahwa proyek ini adalah "lari maraton" yang membutuhkan konsistensi dan komitmen jangka panjang, bukan hasil instan.

Dukungan serupa datang dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Panjaitan. Ia mendorong agar inisiatif genomik ini tidak berhenti pada urusan medis, tetapi diperluas untuk mengelola keanekaragaman hayati Indonesia secara luas.

Optimasi sumber daya genetik nasional, menurut Luhut, adalah kunci tidak hanya pada  ketahanan kesehatan, namun juga  ketahanan pangan serta ekonomi nasional di masa depan. "Potensi sumber daya genetik kita harus dikelola secara optimal," tegasnya.

Saat ini, implementasi BGSI telah didukung oleh 10 rumah sakit yang berfungsi sebagai hubs (pusat jejaring). Kedepan, integrasi data genomik ini diharapkan menjadi pilar utama sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan mandiri.  (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya