Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
VIRUS Nipah merupakan penyakit zoonotik dari kelelawar sebagai inang alaminya. Kebiasaan hewan tersebut yang mengonsumsi buah dari pohonnya membuat virus Nipah bisa berpindah ke manusia.
Pada kelelawar buah genus Pteropodidae banyak ditemukan di beberapa negara seperti Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, India, Indonesia, Madagaskar, Malaysia, Papua Nugini, Thailand, dan Timor Leste.
Oleh karena itu, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, meminta masyarakat untuk melakukan PHBS, tidak memakan buah bekas gigitan kelelawar, hingga tidak mengonsumsi daging mentah.
"Buah selalu cuci bersih kalau itu ada kulitnya dikupas tuntas biasanya risikonya menjadi hampir nol," kata Dominicus dalam konferensi pers secara daring, Kamis (29/1).
Kemudian untuk mengolah daging harus dimasak matang agar virus itu mati.
"Jadi kalau kita memasaknya maka virus ini mati itu prinsip umum bukan cuma untuk cegah virus Nipah tapi bisa untuk virus-virus yang lain juga," ujar dia.
Selain kelelawar buah sebagai inang alamiah, virus Nipah dapat menginfeksi beberapa hewan seperti babi, kuda, kambing, domba, kucing, dan anjing.
Virus Nipah sangat menular ketika sudah menginfeksi babi, dengan waktu infeksius terjadi saat masa inkubasi 4–14 hari.
"Umumnya, babi yang terinfeksi tidak mengalami gejala apa pun, namun beberapa mengalami demam akut, sesak napas, dan gejala neurologis seperti gemetar, berkedut, dan kejang otot," ungkapnya.
Adapun perlu diwaspadai pula apabila babi tersebut mengalami batuk yang tidak biasa. (Iam/I-1)
Dokter Unair mengingatkan kelelawar adalah inang alami virus Nipah. Masyarakat diminta waspada dan tidak memakan buah bekas gigitan kelelawar.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Virus yang disebut BRZ batCoV ini ditemukan pada spesies kelelawar berkumis yang umum di sebagian besar Amerika Latin.
Tim tersebut meneliti 60 spesimen museum dari enam spesies kelelawar cokelat besar (Eptesicus fuscus), kelelawar merah timur (Lasiurus borealis), kelelawar Seminole (Lasiurus seminolus)
Selama ini, banyak penelitian yang menyoroti kaitan dengan perubahan penggunaan lahan atau tekanan akibat aktivitas manusia, namun mekanisme pastinya masih kurang jelas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved