Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
Banjir rob di pesisir, sampah di sungai dan pantai, terumbu karang yang memutih, serta pariwisata yang terus menekan ruang pesisir bukan lagi cerita masa depan. Semua itu sudah terjadi hari ini. Di tengah situasi ini, Bali Ocean Days 2026 Conference & Showcase akan digelar pada 30–31 Januari 2026 di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, sebagai forum lintas sektor yang mempertemukan pengambil kebijakan, pelaku industri, ilmuwan, dan inovator untuk mencari solusi nyata - bukan sekadar wacana.
Memasuki edisi ketiganya, Bali Ocean Days 2026 mengangkat tema “Navigating Solutions for a Regenerative Ocean Future.” Forum ini diselenggarakan oleh Sky Blue Sea Foundation bersama Darmawan & Associates, didukung oleh Pertamina sebagai mitra pengembang solusi energi berkelanjutan, dengan InterContinental Bali Resort Jimbaran sebagai tuan rumah.
“Bali Ocean Days tidak kami rancang sebagai ruang diskusi biasa, tetapi sebagai meja kerja lintas negara, lintas sektor, dan lintas kepentingan. Kita tidak punya waktu lagi untuk hanya saling berbagi keprihatinan. Yang kita butuhkan adalah keputusan, keberanian, dan eksekusi,” kata Paul Tan, Ketua Dewan Pembina Sky Blue Sea Foundation.
Bali Ocean Days 2026 akan mempertemukan lebih dari 40 pembicara dan organisasi dari 11 negara: Indonesia, Fiji, Papua Nugini, Seychelles, Malaysia, Filipina, Hong Kong, Australia, Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman. Sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara kepulauan dijadwalkan hadir, bersama pemimpin lembaga internasional, ilmuwan, dan pelaku keuangan berkelanjutan.
Selama dua hari, peserta akan terlibat dalam diskusi dan sesi kerja yang mencakup enam isu utama: negara kepulauan dan krisis iklim, sains dan teknologi kelautan, ekowisata dan pelestarian terumbu karang, perikanan berkelanjutan dan perlindungan spesies, masyarakat pesisir dan ruang hidup, serta sampah plastik dan polusi laut.
Di antaranya akan hadir:
Dari Indonesia, pembukaan dijadwalkan dihadiri oleh:
Forum ini juga menghadirkan para ilmuwan dan praktisi, antara lain Prof. Indra Jaya (IPB), Dr. Rahmadi Prasetyo (MERO Foundation), Daniel Griffin (The Coral Champions), Arnaud Brival (praktisi restorasi terumbu karang di Raja Ampat), dan Vincent Chalias (Ocean Gardener). Dari sisi kebijakan dan pembiayaan pembangunan, hadir Yann Martres, Country Director Indonesia dari Agence Française de Développement (AFD).
Pascal Philippe, Sekretaris Jenderal SBS Foundation sekaligus Direktur Program Bali Ocean Days, menegaskan bahwa skala krisis laut menuntut skala kolaborasi yang sama besarnya.
“Tahun ini kami secara sengaja mempertemukan pembicara dan organisasi dari 11 negara untuk berbagi data, praktik terbaik, dan pengalaman kebijakan. Krisis laut tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lokal yang terpisah-pisah. Tanpa dukungan dan kolaborasi internasional, kita akan bekerja dalam skala yang terlalu kecil. Bersama, kita bisa bekerja dalam skala yang besar dan berdampak,” ujar Pascal.
Yang membedakan Bali Ocean Days dengan banyak forum lain adalah eco-showcase - ruang tempat solusi nyata dipertemukan langsung dengan pembuat kebijakan dan investor.
Peserta akan bertemu dengan inisiatif seperti Handprint, Parongpong RAW Lab, Shiva Industries, Biosphere Foundation, MDPI, The SeaCleaners, PALLLM, dan Gerakan Ciliwung Bersih - mulai dari pengolahan sampah, restorasi ekosistem, hingga sistem pembiayaan inovatif.
Tahun ini, Bali Ocean Days juga menjadi tuan rumah side event SEA-MaP (Southeast Asia Regional Program on Combating Marine Plastics), sebuah program ASEAN didukung oleh World Bank dan GIZ, yang bertujuan membawa isu pengurangan sampah plastik dari level proyek ke level kebijakan dan pembiayaan kawasan.
Salah satu keluaran paling penting dari Bali Ocean Days 2026 adalah peluncuran Coral Emergency Declaration - sebuah seruan bersama untuk menghentikan degradasi terumbu karang akibat praktik pariwisata laut, pelayaran, dan aktivitas pesisir yang tidak berkelanjutan.
Deklarasi ini disusun bersama jaringan organisasi konservasi dan sains kelautan yang berpartisipasi dalam konferensi, termasuk the Reef World Foundation, the Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF), the Coral Triangle Center (CTC), the WWF Coral Reef Rescue Initiative (CRRI), dan Positive Ripple Consulting.
Dokumen ini menyoroti bahwa destinasi utama seperti Bali, Komodo, Raja Ampat, Banda, Bunaken, Wakatobi, Alor, Derawan, dan Lembeh kini menghadapi tekanan serius akibat jangkar kapal wisata, lalu lintas perahu yang padat, limbah dan sanitasi kapal, serta lemahnya pengawasan di kawasan konservasi.
Deklarasi ini mengusulkan delapan langkah kebijakan mendesak, termasuk larangan nasional penggunaan jangkar di kawasan sensitif, kewajiban sistem pengolahan limbah kapal, perluasan buoy tambat, briefing lingkungan wajib bagi operator wisata, penguatan pengawasan dan penegakan hukum, sanksi tegas dan konsisten, asuransi wajib kerusakan terumbu karang, serta pembatasan jumlah pengunjung berbasis daya dukung ekosistem.
“Deklarasi ini harus menjadi salah satu gerakan konkret untuk mendorong perubahan yang cepat dan berkomitmen dalam melindungi pesisir, terumbu karang, dan destinasi laut Indonesia. Ini adalah titik awal untuk menyatukan kebijakan, standar, dan tanggung jawab lintas sektor,” tambah Pascal Philippe.
Di akhir acara, Sky Blue Sea Foundation Trophy of Honor akan diberikan kepada Sir David Attenborough, dan akan diterima oleh Matt Fraser, Manajer Biodiversity and Ecology dari Minderoo Foundation, yang mendukung film Ocean with David Attenborough sebagai penyandang dana, produser eksekutif, dan mitra advokasi. Film tersebut akan diputar sebagai penutup acara. Sebuah pengingat bahwa laut bukan sekadar latar belakang pembangunan, tetapi fondasinya. (H-2)
Konferensi dan pameran tahunan Bali Ocean Days (BOD) Conference & Showcase kembali digelar di InterContinental Bali Resort, Jimbaran.
Ilmuwan temukan fenomena Marine Darkwaves, yakni kegelapan mendadak di dasar laut yang merusak ekosistem kelp dan terumbu karang.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Studi terbaru mengungkap terumbu karang bertindak sebagai "konduktor" yang mengatur ritme harian mikroba laut, melampaui perubahan musiman.
Ilmuwan WHOI mengungkap mengapa hiu betah di kedalaman laut. Ternyata, ikan bigscale pomfret menjadi jembatan makanan antara zona dalam dan permukaan.
Penelitian baru menemukan penyebab kelaparan massal singa laut di California bukan hanya karena kurangnya ikan. Namun turunnya kualitas gizi mangsa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved