Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Mars Purba Ternyata 'Planet Biru' Mirip Bumi

Abi Rama
26/1/2026 22:30
Mars Purba Ternyata 'Planet Biru' Mirip Bumi
Ilustrasi.(freepik)

BUKTI bahwa Planet Mars pernah memiliki air dalam jumlah besar. Mulai dari delta sungai, mineral yang terbentuk akibat interaksi dengan air, hingga struktur permukaan yang menyerupai bentang alam di Bumi, semuanya mengarah pada satu kesimpulan, Mars pada masa lalu adalah planet yang basah. Namun, satu pertanyaan penting masih menjadi misteri, yakni seperti apa iklim Mars kala itu, apakah dingin dan tertutup es, atau justru relatif hangat dengan air yang stabil.

Penelitian terbaru dikutip dari IFL Science melaporkan bahwa sekitar 3 miliar tahun lalu, Mars diduga pernah memiliki samudra raksasa yang membentang di seluruh belahan utara planet tersebut.

Kesimpulan tersebut berasal dari studi tim peneliti yang meneliti Valles Marineris, sistem ngarai terbesar di Tata Surya. Ngarai ini membentang lebih dari 4.000 kilometer dengan lebar mencapai 200 kilometer, menjadikannya struktur geologi yang sangat penting untuk memahami sejarah Mars.

Fokus penelitian diarahkan ke wilayah tenggara Coprates Chasma, bagian dari Valles Marineris yang diyakini pernah menjadi lokasi danau purba yang sangat dalam. Di area ini, para peneliti menemukan struktur geologi yang disebut scarp-fronted deposits (SFDs), yakni endapan yang menunjukkan adanya aliran sungai yang mengalir ke arah dalam ngarai.

Air yang Stabil

Menariknya, seluruh endapan SFD tersebut ditemukan pada ketinggian yang hampir sama, yakni di antara minus 3.750 hingga minus 3.650 meter. Keseragaman ini mengindikasikan bahwa permukaan air di dalam ngarai pada masa lalu bersifat stabil.

Berdasarkan temuan tersebut, air di dalam ngarai diperkirakan mencapai kedalaman sekitar satu kilometer di beberapa titik. Jika kondisi ini benar, maka dataran rendah di belahan utara Mars hampir pasti juga ikut tergenang air. Dengan kata lain, Mars kemungkinan pernah memiliki samudra luas yang menutupi sebagian besar belahan utaranya.

Penulis utama penelitian dari penelitian ini, Ignatius Argadestya dari University of Bern, Swiss menyebut temuan ini sebagai bukti keberadaan samudra terbesar dan terdalam dalam sejarah Mars. Menurutnya, Mars di masa lalu tidak hanya basah, tetapi juga menyerupai Bumi.

“Kita mengenal Mars sebagai planet kering dan merah. Namun hasil penelitian kami menunjukkan bahwa di masa lalu Mars adalah planet biru, mirip dengan Bumi,” ungkap Argadestya. 
Keberadaan samudra raksasa ini membuka kemungkinan bahwa Mars pernah memiliki kondisi yang mendukung kehidupan. Meski demikian, apakah planet tersebut benar-benar pernah dihuni makhluk hidup masih belum dapat dipastikan.

Pencarian jawaban atas misteri tersebut diperkirakan akan memakan waktu lebih lama, terutama setelah Amerika Serikat membatalkan misi Mars Sample Return, yang semula bertujuan membawa sampel batuan Mars ke Bumi untuk diteliti lebih lanjut.

Profesor Fritz Schlunegger, ahli Geologi Eksogen dari University of Bern, menyebut penelitian ini menarik karena memungkinkan para ilmuwan menerapkan konsep geologi yang dikembangkan di Bumi untuk memahami planet lain.

Dalam studi ini, tim menggunakan pendekatan sedimentologi, yaitu dengan membandingkan lingkungan pengendapan sedimen di Bumi dan Mars. Metode tersebut membantu peneliti menafsirkan bagaimana air mengalir dan mengendap di permukaan Mars pada masa lampau.

 (IFL Science/H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya