Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Healing Artinya Bukan Sekadar Liburan, Ini Makna Psikologis Sebenarnya

Thalatie K Yani
15/1/2026 12:00
Healing Artinya Bukan Sekadar Liburan, Ini Makna Psikologis Sebenarnya
Ilustrasi(freepik)

Belakangan ini, kata healing menjadi sangat populer di berbagai platform media sosial, mulai dari Instagram, TikTok, hingga Twitter. Penggunaan istilah ini sering kali diasosiasikan dengan kegiatan berlibur, staycation, atau sekadar bepergian ke tempat yang indah untuk melepas penat. Namun, tahukah Anda bahwa healing artinya jauh lebih dalam daripada sekadar jalan-jalan atau menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat?

Secara harfiah, kata healing berasal dari bahasa Inggris yang berarti penyembuhan atau pemulihan. Dalam konteks kesehatan secara umum, istilah ini merujuk pada proses pengobatan luka fisik maupun penyakit. Namun, dalam konteks psikologi yang kini marak diperbincangkan, healing merujuk pada proses penyembuhan luka batin, trauma masa lalu, atau pemulihan dari kelelahan emosional yang mendalam.

Pergeseran Makna: Antara Bahasa Gaul dan Psikologi

Fenomena penggunaan kata healing di Indonesia mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan, terutama di kalangan Generasi Z dan Milenial. Dalam bahasa pergaulan sehari-hari, istilah ini sering kali disederhanakan menjadi sinonim dari refreshing atau liburan.

Padahal, terdapat perbedaan mendasar antara refreshing dan healing:

  • Refreshing: Merupakan kegiatan penyegaran sesaat untuk menghilangkan rasa bosan atau jenuh akibat rutinitas. Efeknya bersifat sementara dan biasanya tidak menyentuh akar permasalahan emosional seseorang. Contohnya adalah menonton bioskop, makan enak, atau berwisata.
  • Healing (Self-Healing): Merupakan proses internal yang mendalam untuk menyembuhkan luka psikologis. Proses ini membutuhkan waktu, usaha, dan sering kali tidak nyaman karena seseorang harus berhadapan dengan trauma atau emosi negatif yang selama ini dipendam.

Kesalahpahaman dalam mengartikan healing artinya sekadar liburan dapat berbahaya. Seseorang mungkin merasa sudah melakukan 'healing' dengan berlibur ke Bali, namun saat kembali ke rumah, kecemasan dan depresi yang dirasakan tetap ada karena akar masalahnya belum terselesaikan. Hal ini sering disebut sebagai pelarian atau escapism, bukan penyembuhan.

Tanda-Tanda Anda Membutuhkan Healing yang Sebenarnya

Kapan sebenarnya seseorang membutuhkan proses healing yang serius dan bukan sekadar liburan? Berikut adalah beberapa indikator psikologis yang perlu diwaspadai:

  1. Emosi Tidak Stabil: Anda menjadi mudah marah, menangis tanpa sebab yang jelas, atau tersinggung oleh hal-hal sepele yang biasanya tidak mengganggu Anda.
  2. Kehilangan Minat: Hal-hal yang dulunya menyenangkan kini terasa hambar. Anda kehilangan motivasi untuk melakukan hobi atau pekerjaan.
  3. Gangguan Tidur dan Fisik: Mengalami insomnia berkepanjangan, mimpi buruk, atau keluhan fisik psikosomatis seperti sakit kepala dan gangguan pencernaan tanpa penyebab medis yang jelas.
  4. Trauma Masa Lalu yang Muncul Kembali: Ingatan buruk tentang kejadian masa lalu terus menghantui dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
  5. Burnout Berkepanjangan: Rasa lelah yang tidak hilang meskipun sudah beristirahat atau tidur cukup.

Metode Self-Healing yang Efektif Secara Psikologis

Jika Anda merasakan tanda-tanda di atas, proses penyembuhan diri atau self-healing perlu dilakukan dengan metode yang tepat. Berikut adalah beberapa langkah yang diakui secara psikologis untuk membantu proses pemulihan batin:

1. Mindfulness (Kesadaran Penuh)

Mindfulness adalah praktik memusatkan perhatian pada kondisi saat ini tanpa menghakimi. Teknik ini mengajarkan kita untuk menerima perasaan dan pikiran apa adanya. Meditasi rutin dan latihan pernapasan adalah cara sederhana untuk memulai mindfulness. Tujuannya adalah agar kita tidak terus-menerus terjebak dalam penyesalan masa lalu atau kecemasan akan masa depan.

2. Journaling (Menulis Jurnal)

Menumpahkan isi pikiran ke dalam tulisan atau expressive writing terbukti ampuh meredakan stres. Cobalah untuk menuliskan apa yang Anda rasakan, apa yang membuat Anda terluka, dan apa yang Anda syukuri setiap harinya. Menulis membantu mengurai benang kusut dalam pikiran sehingga emosi menjadi lebih tervalidasi.

3. Memaafkan Diri Sendiri (Self-Compassion)

Salah satu hambatan terbesar dalam healing adalah rasa bersalah dan kritik pedas terhadap diri sendiri. Belajarlah untuk berdamai dengan diri sendiri. Pahami bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan dan itu adalah bagian dari proses belajar. Perlakukan diri Anda dengan kebaikan yang sama seperti Anda memperlakukan sahabat Anda.

4. Membatasi Paparan Media Sosial

Ironisnya, tempat di mana istilah healing menjadi tren justru sering menjadi sumber kecemasan. Melihat pencapaian orang lain di media sosial dapat memicu rasa insecurity. Melakukan detoks media sosial dapat memberikan ruang bagi mental Anda untuk beristirahat dari perbandingan sosial yang tidak sehat.

5. Mencari Bantuan Profesional

Penting untuk diingat bahwa healing artinya proses pemulihan yang mungkin membutuhkan bantuan ahli. Jika trauma atau depresi yang dirasakan sudah sangat berat dan mengganggu fungsi hidup sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Terapi profesional seperti CBT (Cognitive Behavioral Therapy) jauh lebih efektif daripada sekadar liburan mewah.

Kesimpulan

Memahami bahwa healing artinya adalah proses penyembuhan luka batin merupakan langkah awal yang krusial. Liburan dan bersenang-senang memang valid sebagai cara untuk refreshing atau coping stress sementara, namun itu bukanlah solusi jangka panjang untuk masalah kesehatan mental yang serius. Jadikan healing sebagai perjalanan personal untuk mengenal diri sendiri, menerima luka masa lalu, dan bangkit menjadi pribadi yang lebih utuh dan kuat secara mental.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya