Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Bukan Sekadar Nyaman, Suhu Tubuh Ternyata Kunci Kesehatan Mental dan Jati Diri

Thalatie K Yani
06/1/2026 10:14
Bukan Sekadar Nyaman, Suhu Tubuh Ternyata Kunci Kesehatan Mental dan Jati Diri
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, sains memandang suhu hanya sebagai kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan peran yang jauh lebih dalam. Sinyal dari kulit membantu otak memahami tubuh, memandu emosi, hingga mendukung stabilitas jati diri seseorang.

Sebuah tinjauan yang diterbitkan dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences menjelaskan bagaimana persepsi suhu (thermoception) memengaruhi kesadaran tubuh dan kesehatan mental. Dr. Gerardo Salvato dari University of Pavia mencatat bahwa sinyal suhu mendukung identitas dan kesehatan emosional. Kehangatan menghubungkan perawatan dini, ikatan sosial, dan pengenalan diri ke dalam satu sistem yang berkesinambungan.

Bagaimana Kulit Mendeteksi Suhu?

Kulit manusia bertindak sebagai permukaan sensorik raksasa dengan ujung saraf khusus. Sinyal hangat bergerak perlahan melalui satu set saraf, sementara sinyal dingin bergerak lebih cepat melalui set lainnya.

Menariknya, lokasi kulit menentukan fungsinya:

  • Kulit berambut: Membantu menjaga keseimbangan internal dan kenyamanan.
  • Kulit halus (telapak tangan/kaki): Membantu menilai suhu objek selama aktivitas sehari-hari.
  • Kontak kulit-ke-kulit yang hangat juga krusial di awal kehidupan, karena membantu bayi baru lahir membangun kesadaran tubuh pertama mereka.

Suhu dan Rasa Memiliki Tubuh

Temuan baru menunjukkan hubungan erat antara suhu dan "kepemilikan tubuh" (body ownership). Dalam eksperimen ilusi tubuh, ketika otak "tertipu" sehingga seseorang merasa lengan buatan sebagai miliknya, suhu kulit pada anggota tubuh asli sering kali menurun. Hal ini menunjukkan otak menggunakan suhu sebagai bagian dari pemetaan identitas fisik.

Sinyal suhu ini diproses di otak, terutama di area bernama Insula. Jika area ini rusak, misalnya akibat stroke, pasien mungkin berhenti mengenali anggota tubuh mereka sendiri sebagai bagian dari diri mereka.

Kaitan dengan Gangguan Mental

Penelitian ini memberikan harapan baru bagi penanganan gangguan mental seperti anoreksia nervosa, trauma, dan nyeri kronis. Pada penderita anoreksia, ditemukan pola suhu kulit yang tidak biasa, yang menunjukkan adanya kesulitan otak dalam menggabungkan sinyal internal dan eksternal tubuh.

Para ilmuwan meyakini bahwa suhu mendukung keseimbangan emosional:

  • Sinyal Hangat: Identik dengan rasa aman dan perawatan.
  • Sinyal Dingin: Sering dikaitkan dengan kewaspadaan atau stres.

Sentuhan Hangat dan Koneksi Diri 

Sentuhan sosial yang hangat tidak hanya memberikan kenyamanan fisik, tetapi juga memperkuat rasa aman secara emosional.

"Saat kita berpelukan, kombinasi sinyal taktil dan termal meningkatkan rasa kepemilikan tubuh kita, sehingga kita lebih terhubung dengan diri kita yang berwujud. Merasakan sentuhan hangat pada kulit meningkatkan kemampuan kita untuk merasakan diri sendiri dari dalam dan mengenali eksistensi kita sendiri. Kita merasa, 'ini adalah tubuh saya, dan saya berpijak di dalamnya'," ujar Dr. Laura Crucianelli, dosen psikologi di Queen Mary University of London.

Pemahaman ini kini mulai diterapkan dalam terapi klinis, termasuk pengembangan anggota tubuh prostetik yang dapat memberikan umpan balik suhu agar terasa lebih alami bagi penggunanya. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik