Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, sains memandang suhu hanya sebagai kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan peran yang jauh lebih dalam. Sinyal dari kulit membantu otak memahami tubuh, memandu emosi, hingga mendukung stabilitas jati diri seseorang.
Sebuah tinjauan yang diterbitkan dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences menjelaskan bagaimana persepsi suhu (thermoception) memengaruhi kesadaran tubuh dan kesehatan mental. Dr. Gerardo Salvato dari University of Pavia mencatat bahwa sinyal suhu mendukung identitas dan kesehatan emosional. Kehangatan menghubungkan perawatan dini, ikatan sosial, dan pengenalan diri ke dalam satu sistem yang berkesinambungan.
Kulit manusia bertindak sebagai permukaan sensorik raksasa dengan ujung saraf khusus. Sinyal hangat bergerak perlahan melalui satu set saraf, sementara sinyal dingin bergerak lebih cepat melalui set lainnya.
Temuan baru menunjukkan hubungan erat antara suhu dan "kepemilikan tubuh" (body ownership). Dalam eksperimen ilusi tubuh, ketika otak "tertipu" sehingga seseorang merasa lengan buatan sebagai miliknya, suhu kulit pada anggota tubuh asli sering kali menurun. Hal ini menunjukkan otak menggunakan suhu sebagai bagian dari pemetaan identitas fisik.
Sinyal suhu ini diproses di otak, terutama di area bernama Insula. Jika area ini rusak, misalnya akibat stroke, pasien mungkin berhenti mengenali anggota tubuh mereka sendiri sebagai bagian dari diri mereka.
Penelitian ini memberikan harapan baru bagi penanganan gangguan mental seperti anoreksia nervosa, trauma, dan nyeri kronis. Pada penderita anoreksia, ditemukan pola suhu kulit yang tidak biasa, yang menunjukkan adanya kesulitan otak dalam menggabungkan sinyal internal dan eksternal tubuh.
Para ilmuwan meyakini bahwa suhu mendukung keseimbangan emosional:
Sentuhan sosial yang hangat tidak hanya memberikan kenyamanan fisik, tetapi juga memperkuat rasa aman secara emosional.
"Saat kita berpelukan, kombinasi sinyal taktil dan termal meningkatkan rasa kepemilikan tubuh kita, sehingga kita lebih terhubung dengan diri kita yang berwujud. Merasakan sentuhan hangat pada kulit meningkatkan kemampuan kita untuk merasakan diri sendiri dari dalam dan mengenali eksistensi kita sendiri. Kita merasa, 'ini adalah tubuh saya, dan saya berpijak di dalamnya'," ujar Dr. Laura Crucianelli, dosen psikologi di Queen Mary University of London.
Pemahaman ini kini mulai diterapkan dalam terapi klinis, termasuk pengembangan anggota tubuh prostetik yang dapat memberikan umpan balik suhu agar terasa lebih alami bagi penggunanya. (Earth/Z-2)
Banyak yang salah kaprah, healing artinya sering disamakan dengan liburan. Padahal, maknanya berkaitan erat dengan pemulihan trauma dan kesehatan mental.
Ulasan mendalam Broken Strings oleh Aurelie Moeremans, perjalanan musik sang aktris, dan alasan mengapa karyanya begitu menyentuh hati.
Psikolog Virginia Hanny menjelaskan fenomena post holiday blues yang kerap menyerang pekerja dan pelajar usai liburan. Kenali gejalanya dan kapan harus waspada.
Sebelum tragedi pembunuhan Rob Reiner dan istrinya, polisi ternyata pernah dua kali mendatangi rumah mereka terkait isu kesehatan mental Nick Reiner.
Tim dokter FKUI dan relawan UI Peduli memberikan dukungan psikososial dan layanan medis bagi penyintas banjir dan longsor di Samar Kilang, Aceh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved