Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Saat Bumi Memanas, Hujan tak Lagi Sama

Thalatie K Yani
12/1/2026 07:16
Saat Bumi Memanas, Hujan tak Lagi Sama
Ilustrasi(MI/Usman Iskandar)

MELIHAT jauh ke masa lalu Bumi merupakan cara terbaik bagi para ilmuwan untuk memprediksi apa yang akan terjadi pada planet kita saat ini. Salah satu periode yang paling menarik perhatian adalah Periode Paleogen, yang dimulai sekitar 66 juta tahun lalu, sesaat setelah kepunahan dinosaurus.

Pada era tersebut, atmosfer Bumi mengandung konsentrasi karbon dioksida yang jauh lebih tinggi dibandingkan sekarang, yang memicu lonjakan suhu global secara ekstrem. Sebuah studi terbaru dari University of Utah dan Colorado School of Mines mencoba menjawab bukan sekadar berapa banyak hujan yang turun, melainkan kapan dan seberapa sering hujan tersebut muncul di tengah cuaca panas yang menyengat.

Jejak Iklim Tanpa Termometer

Karena alat pengukur hujan belum ada jutaan tahun lalu, para peneliti mengandalkan "proksi" atau petunjuk alami yang tertinggal pada batuan, tanah, dan fosil.

"Dari bentuk dan ukuran fosil daun, Anda dapat menyimpulkan aspek iklim masa itu karena Anda melihat di mana tanaman serupa dengan daun tersebut tumbuh saat ini," ujar Thomas Reichler, profesor ilmu atmosfer di University of Utah. "Jadi, ini adalah proksi iklim. Ini bukan pengukuran langsung suhu atau kelembapan; ini adalah bukti tidak langsung untuk iklim masa itu."

Selain fosil daun, jejak sungai purba juga memberikan petunjuk penting. Banjir bandang akibat hujan lebat mengukir dasar sungai dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan hujan gerimis yang stabil. Menurut Reichler, aliran air yang sangat besar selama periode hujan singkat mampu mengangkut batuan jauh lebih kuat dibandingkan hujan ringan setiap hari.

Pola Hujan yang Tak Terduga

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience ini menantang asumsi lama, pemanasan global hanya akan membuat wilayah basah menjadi lebih basah dan wilayah kering menjadi lebih kering.

"Ada alasan fisik yang kuat untuk asumsi tersebut. Namun, studi kami sedikit mengejutkan karena wilayah lintang menengah pun cenderung menjadi lebih kering," jelas Reichler.

Temuan kuncinya terletak pada intensitas. Selama pemanasan ekstrem, hujan menjadi tidak teratur. Muncul periode kering yang panjang, yang kemudian diikuti oleh ledakan hujan lebat dalam waktu singkat. Mirip dengan sistem monsun yang kuat.

Dampak Bagi Masa Depan

Kondisi ini sangat berbahaya bagi ekosistem. Reichler memperingatkan, "Jika ada periode kering yang relatif lama dan kemudian di antaranya terdapat periode yang sangat basah seperti dalam kondisi iklim monsun yang kuat, maka kondisinya tidak menguntungkan bagi banyak jenis vegetasi."

Pelajaran penting dari iklim purba ini adalah bahwa dalam dunia yang memanas, keandalan curah hujan jauh lebih penting daripada total jumlah hujan setahun. Model iklim modern saat ini mungkin masih meremehkan seberapa ekstrem pola hujan bisa berubah. Memahami perbedaan ini sangat krusial bagi manusia untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman banjir, kekeringan, dan tantangan pengelolaan air di masa depan. (Earth/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya