Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Kehutanan mencatat penurunan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Total luas karhutla tahun 2025 tercatat sebesar 359.619 hektare, atau turun sekitar 17 ribu hektare atau 5% dibandingkan 2024 yang mencapai 376.806 hektare.
Pemerintah menilai penurunan ini mencerminkan efektivitas penguatan pengendalian karhutla, terutama melalui pendekatan pencegahan.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Thomas Nifinluri mengatakan, penghitungan luas karhutla merupakan bagian dari manajemen terpadu pengendalian karhutla yang mencakup pencegahan, pemadaman, serta penanganan pascakebakaran. Kementerian Kehutanan, kata dia, menjalankan mandat sebagai wali data Informasi Geospasial Tematik bidang karhutla.
“Data hasil perhitungan luas ini digunakan sebagai referensi dalam penentuan strategi mitigasi bencana hidrometeorologi kering atau bencana karhutla di Indonesia. Data ini juga menjadi dasar dalam penanganan pasca karhutla, termasuk untuk penertiban dan penegakan hukum,” ujar Thomas, Jumat (9/1).
Ia menambahkan, penurunan luas karhutla tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor dan penguatan komitmen para pihak. Pemerintah kini mengedepankan perubahan paradigma pengendalian karhutla dengan fokus utama pada pencegahan sebagai langkah antisipatif.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Penanggulangan Kebakaran Hutan Israr Albar mengungkapkan, penurunan luas karhutla tahun 2025 menjadi signifikan jika dibandingkan dengan kondisi 2023, ketika lahan terbakar mencapai sekitar 1,1 juta hektare. Dibandingkan tahun tersebut, terjadi penurunan sekitar 801.573 hektare atau sekitar 69 persen.
“Pada semester pertama 2025, kejadian kebakaran relatif rendah. Namun, pada semester kedua hingga sekitar Oktober–November terjadi peningkatan areal terbakar,” kata Israr.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, provinsi dengan luas karhutla tertinggi sepanjang 2025 adalah Nusa Tenggara Timur dengan 118.409 hektare, disusul Sumatera Utara 38.175 hektare, dan Nusa Tenggara Barat 27.834 hektare. Dari sisi tutupan lahan, sekitar 91 persen atau 328.166 hektare merupakan nonhutan, sedangkan kawasan hutan hanya 9 persen atau 31.452 hektare.
Adapun berdasarkan jenis tanah, kebakaran di lahan gambut tercatat seluas 29.500 hektare atau 8 persen, sementara lahan mineral mencapai 330.119 hektare atau 92 persen.
Menghadapi tahun 2026 yang diperkirakan lebih hangat serta potensi El Nino pada 2027, Israr menegaskan pentingnya memperkuat upaya pengendalian karhutla, terutama pada aspek pencegahan. “Upaya pencegahan harus terus diperkuat untuk menekan risiko kebakaran di masa mendatang,” pungkasnya. (H-2)
Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Yasir mengatakan pihaknya mencatat adanya peningkatan signifikan jumlah titik panas atau hotspot di Pulau Sumatra.
Abdul Muhari pun mengimbau kepada seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.
Wakil Menteri Kehutanan Sulaiman Umar dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi dalam pengendalian karhutla.
Keputusan untuk memperpanjang status tanggap darurat merupakan bentuk komitmen Pemprov Riau dalam penanganan Karhutla.
Menteri KLH/BPLH, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa dunia usaha harus mengambil peran aktif dalam pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Studi terbaru Cedars-Sinai mengungkap lonjakan drastis serangan jantung dan gangguan paru pasca-kebakaran hutan LA Januari 2025.
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Riau akan mengakhiri masa status siaga darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada 30 November 2025.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
BMKG melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) 2025 untuk mengantisipasi cuaca ekstrem dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah.
CUACA sangat terik di Lembata, Nusa Tenggara Timur, akhir-akhir ini memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin masif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved