Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Karhutla Riau Terus Meluas Tembus 745,5 Hektare, Angin Bawa Asap ke Kota Pekanbaru

Rudi Kurniawansyah
13/2/2026 21:11
Karhutla Riau Terus Meluas Tembus 745,5 Hektare, Angin Bawa Asap ke Kota Pekanbaru
Petugas berupaya memadamkan karhutla di Riau.(MI/Rudi Kurniawansyah)

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Provinsi Riau terus meluas dan bahkan telah menembus hingga 745,5 hektare (ha). Sedangkan karhutla pada lahan gambut di wilayah penggiran atau perbatasan dan pesisir telah membawa kabut asap ke Kota Pekanbaru, Riau.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Kabalai Dalkarhut) Sumatra Ferdian Krisnanto kepada Media Indonesia mengatakan, Upaya pemadaman masih terus dilakukan terutama untuk menghambat rembetan atau melokalisir dan agar tidak menambah luasan. 

“Kita juga berupaya supaya tidak terjadi bencana asap. Kondisi angin bertiup dari utara ke selatan, jadi ada potensi asap dari lokasi-lokasi kebakaran di pesisir menuju ke Pekanbaru,” kata Ferdian kepada Media Indonesia, Jumat (13/2).

Dijelaskannya, sejauh ini estimasi lapangan hasil ukur kasar dengan GPS per pagi ini didapati total luas pada 8 lokasi telah mencapai 745,5 ha. Di antaranya Desa Karya Indah, Kampar seluas 2 ha, Bukit Timah, Dumai seluas 2 ha, Rantau Bais, Rokan Hilir (Rohil) seluas 2 ha, Sukarjo Mesim, Bengkalis seluas 50 ha status lahan hutan lindung atau HL. Kemudian Tanjung Leban, Bengkalis seluas100 ha status hutan produksi atau HP. Selanjutnya Teluk Meranti, Pelalawan seluas 3,5 ha status lahan areal peruntukkan lain (APL), Pulau Muda, Pelalawan, seluas 21 ha, dan Teluk Beringin Pelalawan seluas 565 ha (APL, HP, HL).

“Wilayah kebakaran ada beberapa status, ada yang masuk HP, APL. Rata-rata di lokasinya berdekatan dengan kebun sawit. Ada yang sawit masyarakat ada juga yang berbatasan dengan sawit perusahaan. Yang di kampar wilayah Rimbo Panjang dan Karya Indah posisi dekat perumahan, ada yang sudah kaplingan ada nama pemilik,” papar Ferdi.

Ia mengungkapkan, indikasi karhutla terjadi akibat berbagai macam hal. Dari awalnya upaya pembersihan lahan hingga akibat terpaan angin kencang.

“Indikasi macem-macam seperti di Pulau Mendol informasi dari tim saya awalnya ada masyarakat membersihkan lahan dengan membakar sisa-susa tumpukan (merun) karena angin kencang jadi tidak terkendali. Yang di Kampar tadi indikasi pembersihan lahan bisa jadi untuk perumahan atau kebun karena disamping-sampingnya sudah kaplingan-kaplingan,” ungkap Ferdi.

Ia menambahkan, untuk cuaca beberapa lokasi kebakaran ini yang hampir sudah 20 hari tidak hujan. 

“Ini menyulitkan kami mendapatkan sumber air pemadaman dan kondisi bahan bakaran yang juga kering plus yang gambut sudah kering dengan tinggi muka air tanah minus hampir 90-an cm. Wilayah-wilayah pesisir Riau CH (curah hujan) sudah sangat minim,” jelasnya.

Adapun kendala-kendala lapangan, menurut Ferdi, mulai dari sumber air buat pemadaman yang makin berkurang, akses ke lokasi yang jauh dan jelek jalannya sehingga beberapa lokasi pemadaman harus menginap di TKP (tempat kejadian perkara).

“Seperti yang di Tanjung Leban ini. Bahan bakaran kering melimpah dan angin kencang sering berubah arah sehingga meningkatkan potensi bahaya bagi personel manggala agni yang berada di kepala api,” ungkap Ferdi.

Ia juga menambahkan, guna mencari solusi cepat, Manggala Agni kemarin bersama para pihak mengadakan rapat di markas Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan pemadam kebakaran (BPBD dan Damkar) Riau.

“Kami rapat di BPBD Provinsi Riau dengan kesimpulan rekomendari penetapan status Siaga Darurat Provinsi. Saat ini kabupaten yang sudah menetapkan status Siaga Darurat adalah Kabupaten Pelalawan dan proses di Kabupaten Bengkalis,” pungkasnya.(RK/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya