Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA langkanya buah rambutan yang biasanya membanjiri pasar sebagai penanda akhir tahun ini menjadi sorotan masyarakat. Tanaman yang identik dengan musim penghujan ini seolah menghilang dari peredaran di penghujung tahun 2025.
Menanggapi kondisi tersebut, pakar buah tropika dari IPB University, Prof Sobir, memaparkan bahwa hilangnya musim rambutan dipengaruhi oleh tiga faktor krusial: iklim, fisiologi tanaman, dan pergeseran nilai ekonomi.
"Ada tiga kemungkinan utama penyebab minimnya produksi rambutan pada akhir 2025," ujar Prof Sobir, dikutip Rabu (7/1).
Penyebab pertama berkaitan erat dengan anomali cuaca. Menurut Prof Sobir, kondisi iklim pada 2025 cenderung mengalami kemarau basah. Hal ini menjadi penghambat serius bagi siklus hidup pohon rambutan yang membutuhkan perlakuan alam tertentu untuk berbunga.
"Pohon buah-buahan tropika seperti rambutan akan berbunga bila tanaman memiliki cadangan hasil fotosintesis yang cukup dan mendapat periode kering selama 2–4 minggu. Biasanya tanaman berbunga di awal musim hujan, sekitar Oktober–November, dan dipanen pada Desember saat musim hujan," jelasnya.
Tanpa adanya periode kering yang jelas, induksi pembungaan tidak dapat berlangsung secara optimal.
Selain faktor cuaca, sifat fisiologis tanaman juga memegang peranan penting. Prof Sobir menjelaskan bahwa rambutan memiliki sifat biannual bearing atau berbuah dua tahunan.
Artinya, tanaman cenderung berbuah lebat pada satu tahun, namun produksinya akan menurun drastis pada tahun berikutnya. Hal ini disebabkan karena cadangan hasil fotosintesis tanaman telah terkuras habis pada masa panen raya sebelumnya.
Terkait anggapan bahwa pohon rambutan kini semakin sedikit atau enggan berbuah, Prof Sobir menilai hal tersebut bisa saja terjadi dari sisi ekonomi.
Rendahnya nilai jual rambutan membuat para pemilik pohon atau petani seringkali enggan melakukan pemanenan jika jumlah buah di pohon tidak melimpah.
Biaya operasional panen dianggap tidak sebanding dengan hasil yang didapat sehingga buah dibiarkan begitu saja.
Meski produksi di akhir 2025 merosot, harapan baru muncul untuk tahun mendatang.
Terkait kemungkinan pergeseran musim buah, Prof Sobir menyatakan hal tersebut sangat bergantung pada pola musim. Jika periode kemarau berlangsung jelas dan cukup kering, potensi produksi buah pada musim berikutnya diprediksi akan meningkat.
Optimisme ini diperkuat oleh data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Untuk 2026, BMKG memprediksi sebanyak 94,7% wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan tahunan dengan kategori Normal (1.500-4.000 mm/tahun).
Dengan pola cuaca yang kembali stabil, produksi rambutan pada tahun 2026 diharapkan dapat kembali normal dan kembali menghiasi meja makan masyarakat di akhir tahun. (Z-1)
Makanan beku kerap dinilai buruk untuk kesehatan. Padahal, ahli gizi menyebut beberapa jenis makanan beku tetap kaya nutrisi dan justru baik untuk menjaga kesehatan jantung.
Beberapa buah yang dianggap "sehat" dan "baik untuk jantung" bisa memicu peradangan, memperburuk aliran darah, serta memperlemah kekuatan kaki dengan cara yang tidak terlihat.
Setiap bagian anggur, mulai dari kulit, daging, hingga bijinya, mengandung komponen aktif yang berperan besar dalam mencegah berbagai penyakit kronis.
Kacang merah mengandung serat pangan tingkat tinggi, pati resisten dan protein, tetapi kadar lipid dan gula yang rendah.
Walaupun buah kaya vitamin, mineral, serat, dan air, tubuh tetap membutuhkan protein, lemak, dan karbohidrat kompleks untuk fungsi optimal.
Cari tahu kapan musim rambutan tiba di Indonesia. Simak jadwal panen raya, jenis rambutan termanis, dan tips memilih buah yang dagingnya 'ngelotok'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved