Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Musim Rambutan Hilang di Akhir 2025, Pakar IPB Ungkap Tiga Penyebab Utamanya

Basuki Eka Purnama
07/1/2026 11:39
Musim Rambutan Hilang di Akhir 2025, Pakar IPB Ungkap Tiga Penyebab Utamanya
Ilustrasi(Freepik)

FENOMENA langkanya buah rambutan yang biasanya membanjiri pasar sebagai penanda akhir tahun ini menjadi sorotan masyarakat. Tanaman yang identik dengan musim penghujan ini seolah menghilang dari peredaran di penghujung tahun 2025. 

Menanggapi kondisi tersebut, pakar buah tropika dari IPB University, Prof Sobir, memaparkan bahwa hilangnya musim rambutan dipengaruhi oleh tiga faktor krusial: iklim, fisiologi tanaman, dan pergeseran nilai ekonomi.

"Ada tiga kemungkinan utama penyebab minimnya produksi rambutan pada akhir 2025," ujar Prof Sobir, dikutip Rabu (7/1).

Faktor Iklim dan Fenomena Kemarau Basah

Penyebab pertama berkaitan erat dengan anomali cuaca. Menurut Prof Sobir, kondisi iklim pada 2025 cenderung mengalami kemarau basah. Hal ini menjadi penghambat serius bagi siklus hidup pohon rambutan yang membutuhkan perlakuan alam tertentu untuk berbunga.

"Pohon buah-buahan tropika seperti rambutan akan berbunga bila tanaman memiliki cadangan hasil fotosintesis yang cukup dan mendapat periode kering selama 2–4 minggu. Biasanya tanaman berbunga di awal musim hujan, sekitar Oktober–November, dan dipanen pada Desember saat musim hujan," jelasnya. 

Tanpa adanya periode kering yang jelas, induksi pembungaan tidak dapat berlangsung secara optimal.

Siklus Biannual Bearing

Selain faktor cuaca, sifat fisiologis tanaman juga memegang peranan penting. Prof Sobir menjelaskan bahwa rambutan memiliki sifat biannual bearing atau berbuah dua tahunan. 

Artinya, tanaman cenderung berbuah lebat pada satu tahun, namun produksinya akan menurun drastis pada tahun berikutnya. Hal ini disebabkan karena cadangan hasil fotosintesis tanaman telah terkuras habis pada masa panen raya sebelumnya.

Pergeseran Nilai Ekonomi

Terkait anggapan bahwa pohon rambutan kini semakin sedikit atau enggan berbuah, Prof Sobir menilai hal tersebut bisa saja terjadi dari sisi ekonomi. 

Rendahnya nilai jual rambutan membuat para pemilik pohon atau petani seringkali enggan melakukan pemanenan jika jumlah buah di pohon tidak melimpah. 

Biaya operasional panen dianggap tidak sebanding dengan hasil yang didapat sehingga buah dibiarkan begitu saja.

Harapan Produksi di 2026

Meski produksi di akhir 2025 merosot, harapan baru muncul untuk tahun mendatang. 

Terkait kemungkinan pergeseran musim buah, Prof Sobir menyatakan hal tersebut sangat bergantung pada pola musim. Jika periode kemarau berlangsung jelas dan cukup kering, potensi produksi buah pada musim berikutnya diprediksi akan meningkat.

Optimisme ini diperkuat oleh data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

Untuk 2026, BMKG memprediksi sebanyak 94,7% wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan tahunan dengan kategori Normal (1.500-4.000 mm/tahun). 

Dengan pola cuaca yang kembali stabil, produksi rambutan pada tahun 2026 diharapkan dapat kembali normal dan kembali menghiasi meja makan masyarakat di akhir tahun. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya