Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Harga Tiket Museum yang Mahal Persulit Akses Pengetahuan dan Biaya Belajar Mahal

M Iqbal Al Machmudi
04/1/2026 21:27
Harga Tiket Museum yang Mahal Persulit Akses Pengetahuan dan Biaya Belajar Mahal
Museum Nasional Indonesia.(Antara)

DESTINASI wisata edukatif untuk pelajar seharusnya bertarif murah atau wajar. Dalam arti, terjangkau oleh masyarakat, termasuk orangtua pelajar yang penghasilannya rendah. Dengan menaikkan harga tiket masuk, ini mempersulit akses pengetahuan dan menciptakan biaya belajar yang mahal.

"Jika dinaikkan, tandanya pemerintah tidak memiliki itikad untuk mendukung program pendidikan. Pemerintah justru cederung berpihak pada pengusaha wisata jika destinasi milik swasta atau memeras rakyat jika destinasi wisata dikelola pemerintah," kata Guru Besar Literasi Budaya Visual FSRD ITB, Prof Acep Iwan Saidi saat dihubungi, Minggu (4/1).
Komentar Acep ini merespons kebijakan pengelola Museum Nasional Indonesia (MNI) yang menaikkan harga tiket masuk.

BEBANKAN PENGUNJUNG
Duta Baca Indonesia, Heri Hendrayana Harris atau Gol A Gong menilai kebijakan pengelola Museum Nasional Indonesia (MNI) yang menaikkan harga tiket masuk bisa membebankan pengunjung. 

"Bagi kementerian kemungkinan kecil, saran saya bagi masyarakat seharusnya cukup dipungut Rp5 ribu dan Rp10 ribu untuk umum. Sementara selebihnya bisa disubsidi oleh negara," kata Gol A Gong saat dihubungi, kemarin.

Sebagai duta baca ia menyayangkan masyarakat dipersulit dengan biaya mahal untuk mengunjungi wisata edukasi. "Ini menjadi paradoks karena nutrisi ke otak dengan cara mengunjungi museum atau wisata edukasi menjadi terhambat karena biaya yang tinggi. Seharusnya museum menjadi prioritas di banyak daerah," ujarnya.
 
BIAYA BELAJAR MAHAL
Pegiat pendidikan dari Sanggar Askala Edukasi, Nurfahmi Budi, dan seoran guru, Kartini, menyesalkan keputusan pengelola MNI yang membebani masyarakat untuk berkunjung belajar sejarah ke museum. Nurfahmi menuturkan, seharusnya pemerintah memberikan kemudahan akses kepada warga negaranya agar dapat mencari pengetahuan dan belajar secara baik. “Namun kebijakan pengelola MNI yang menaikkan harga tiket masuk sampai dua kali lipat tanpa pertimbangan matang justru memberatkan warga negara untuk belajar. Ingin jadi cerdas saja butuh biaya mahal,” ujar Nurfahmi yang juga pendiri Sanggar Askala Edukasi, Jumat (2/1/2026).

Nurfahmi menilai, MNI merupakan milik pemerintah sehingga tidak boleh bertindak seolah seperti swasta yang mengejar keuntungan besar. 
Senada, Kartini, seorang guru sekolah swasta di Kabupaten Bekasi, juga kecewa. Kartini merasa makin banyak pengeluaran biaya hanya untuk dapat belajar ke museum. Kartini menyebut, kini harga tiket masuk dewasa Rp50.000 dan pelajar Rp30.000. Sehingga, jika dia membawa lima murid saja, habiskan Rp150.000. Sebelumnya harga tiket masuk untuk pelajar PAUD sampai SMA dan mahasiswa gratis, namun per 1 Januari 2026 harus membayar Rp30.000 per orang. Begitu juga harga tiket masuk pengunjung dewasa dari semula Rp 25.000 per orang, menjadi Rp50.000. Sedangkan biaya tiket masuk warga negara asing yang sebelumnya Rp50.000 per orang, berubah menjadi Rp150.000. 

KESEIMBANGAN
Secara terpisah, Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB), Kementerian Kebudayaan, Esti Nurjadin, mengatakan bahwa Kementerian Kebudayaan sebagai penanggung jawab institusi Museum Cagar Budaya (MCB) termasuk MNI, menilai kebijakan ini merupakan bagian dari komitmen MNI dalam memastikan keseimbangan antara keberlanjutan pengelolaan layanan dan jaminan terbukanya akses publik. “Fasilitas masuk tanpa biaya tiket juga berlaku untuk pelajar dan mahasiswa pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan KIP Kuliah,” kata dia. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya