Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Guru Besar Undip: Buku Sejarah Indonesia 2025 Jadi Benteng Identitas Nasional di Era Disrupsi

Rahmatul Fajri
17/12/2025 20:08
Guru Besar Undip: Buku Sejarah Indonesia 2025 Jadi Benteng Identitas Nasional di Era Disrupsi
Soft launching buku Sejarah Indonesia 2025.(Dok. Kemenbud)

KEHADIRAN buku Sejarah Indonesia 2025: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global dinilai menjadi langkah krusial negara dalam membentengi pilar kebangsaan dari gempuran disrupsi informasi, hoaks, hingga pseudohistori (sejarah semu). Hal tersebut dikatakan oleh Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip), Singgih Tri Sulistiyono, dalam acara soft launching buku tersebut yang digelar Kementerian Kebudayaan di Jakarta, Minggu (14/12).

Menurut Singgih, penguatan identitas keindonesiaan sangat mendesak dilakukan di tengah arus globalisasi yang masif.

“Ini waktu yang tepat ketika bangsa menghadapi globalisasi, disrupsi, hoaks, dan pseudohistori yang memperlemah pilar kebangsaan. Kita perlu menemukan kembali identitas keindonesiaan yang semakin lama semakin tergerus,” ujar Singgih.

Singgih menjelaskan bahwa buku ini membawa pembaruan besar dibandingkan narasi sejarah sebelumnya. Kredibilitas akademiknya didukung oleh kolaborasi editor dari berbagai universitas ternama, mulai dari UI, UGM, Unair, hingga Unhas, guna memastikan tidak adanya dominasi perspektif tunggal.

“Kebaruan buku ini berasal dari temuan sejarah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, serta pendekatan metodologi yang Indonesia-sentris. Kita berangkat dari otonomi sejarah sendiri, namun tetap menempatkannya dalam konteks interaksi global,” jelasnya.

Buku ini disusun dalam 10 jilid utama yang merangkum perjalanan nusantara dari masa prasejarah, era kolonialisme sebagai antitesis perjuangan, hingga dinamika pembangunan pasca-kemerdekaan dan era Reformasi. Satu jilid tambahan berupa faktaneka dan indeks juga disediakan untuk memperkuat rujukan akademik.

Senada dengan Singgih, Penggagas Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali, memandang buku ini sebagai penanda penting hadirnya negara dalam melestarikan memori kolektif bangsa. Ia mengingatkan bahwa meski narasi nasionalisme baru berusia sekitar satu abad, bentang sejarah Indonesia sebenarnya telah mencapai 51 ribu tahun.

“Buku ini mengingatkan bahwa kecintaan terhadap Indonesia harus sejauh mungkin, melampaui batasan waktu yang selama ini kita pahami,” kata Asep.

Sementara itu, Ketua Klub Tempo Doeloe (KTD) Jakarta, Agil Kurniadi, menekankan pentingnya strategi diseminasi agar buku ini tidak hanya menjadi pajangan perpustakaan. Ia berharap konten sejarah ini dapat disampaikan secara menarik agar benar-benar memberikan manfaat literasi bagi publik luas.

Pemerintah menargetkan roadmap distribusi massal buku ini akan dilakukan pada tahun 2026. Sejarah Indonesia 2025 diharapkan menjadi rujukan utama bagi penguatan literasi kebangsaan dan fondasi berpikir generasi mendatang dalam menghadapi tantangan dunia internasional. (H-3)
 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik