Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
FAKULTAS Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melalui Ikatan Alumni FK UI (ILUNI FK UI) melaporkan bahwa akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah terdampak banjir di Aceh, berangsur pulih, khususnya di Kota Langsa, Aceh Tamiang, dan beberapa kabupaten lainnya. Pelayanan kesehatan sempat lumpuh total selama hampir empat pekan. Kini telah dilakukan revitalisasi rumah sakit rujukan.
Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat & Bantuan Kebencanaan ILUNI FK UI, dr. Yogi Prabowo menjelaskan bahwa empat minggu lalu masyarakat hampir tidak dapat mengakses layanan kesehatan. Kondisi tersebut menyebabkan kebingungan warga ketika menghadapi kegawatdaruratan, baik kasus cedera, persalinan, maupun penyakit akut.
"Empat minggu lalu masyarakat sangat sulit mengakses layanan kesehatan. Ketika ada kegawatdaruratan, mereka bingung harus ke mana. Ini menjadi persoalan serius," kata dr. Yogi dalam konferensi pers secara daring, Rabu (31/12).
Menurut dr. Yogi, kondisi mulai membaik setelah dilakukan revitalisasi rumah sakit di Langsa, Aceh Tamiang, serta kabupaten lain. Saat ini, masyarakat sudah dapat mengakses layanan rawat inap, persalinan, penanganan luka, infeksi, serta berbagai penyakit lainnya di rumah sakit.
Namun demikian, operasional puskesmas masih belum berjalan maksimal. Layanan kesehatan dasar masih banyak mengandalkan tim medis yang datang langsung ke desa-desa terdampak untuk memberikan pengobatan keliling.
"Puskesmas belum sepenuhnya operasional. Masih ditangani oleh tim medis yang datang ke lokasi pedesaan untuk memberikan layanan kesehatan," jelasnya.
Lebih lanjut, FKUI mencatat sejumlah tantangan medis utama di lapangan. Salah satunya adalah pembersihan lumpur yang menumpuk tebal di fasilitas kesehatan. Banyak puskesmas hingga kini masih berlumpur dan belum sepenuhnya dibersihkan.
"Kalaupun dibersihkan, jalan menuju fasilitas kesehatan masih berlumpur. Pasien dan pengungsi yang keluar masuk akan membawa lumpur kembali, sehingga kondisi cepat kotor lagi," ucapnya.
Tantangan berikutnya adalah rusaknya berbagai peralatan medis di puskesmas dan beberapa rumah sakit lainnya. Kondisi ini membuat sejumlah layanan penunjang belum dapat berjalan optimal.
"Banyak peralatan rumah sakit rusak dan tentu tidak bisa dipenuhi dalam waktu singkat. Ada yang harus diganti, ada yang masih bisa diperbaiki," jelasnya.
Meski demikian, Yogi menegaskan bahwa layanan kesehatan tetap berjalan dengan standar yang ada. Pemeriksaan laboratorium dan radiologi lanjutan seperti MRI belum dapat dilakukan. Namun, tindakan operasi bersifat darurat sudah bisa dilaksanakan. (H-4)
SERANGAN nyamuk di sejumlah lokasi pengungsian pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang menjadi perhatian serius. Kemenkes memastikan kondisi tersebut Kejadian Luar Biasa (KLB).
Bukan saja saat malam tiba, tapi pada siang hari pun nyamuk memenuhi sudut-sudut ruangan tenda pengungsian dan kamar.
BULAN Sabit Merah Indonesia (BSMI) melakukan soft launching Klinik Pusat Pelayanan Kesehatan dan Rehabilitasi (PPKR) Aceh Tamiang pada Minggu (18/1).
Kompleks pesantren seluas sekitar 2,5 hektare ini berada di kawasan seluas lima hektare yang sempat menjadi titik penumpukan material kayu dari aliran sungai.
BNPB bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, serta mitra swasta terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyerahkan 90 unit Huntara di Aceh Tamiang. Sinergi BUMN Danantara sediakan hunian layak pasca-bencana.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved