Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kemasan Aseptik: Solusi Strategis Atasi Tantangan Distribusi Susu Program MBG

Basuki Eka Purnama
22/12/2025 22:46
Kemasan Aseptik: Solusi Strategis Atasi Tantangan Distribusi Susu Program MBG
Diskusi panel bertajuk "Tantangan Distribusi Susu di Indonesia dalam Mendukung Program Susu Sekolah MBG" di IPB University, Bogor.(MI/HO)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan hampir satu tahun menjadi pilar strategis pemerintah dalam meningkatkan status gizi anak sekolah. Meski demikian, pelaksanaannya masih terbentur tantangan besar, yakni persoalan logistik dan distribusi susu di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur.

Susu merupakan komoditas pangan yang sangat rentan rusak, terutama di tengah iklim tropis dan kondisi geografis Indonesia yang luas. 

Selama ini, susu pasteurisasi sangat bergantung pada sistem rantai dingin (cold chain) yang ketat. Namun, keterbatasan listrik dan jauhnya jarak distribusi dari sentra produksi ke sekolah-sekolah di pelosok membuat biaya logistik membengkak serta meningkatkan risiko keamanan pangan.

Dalam diskusi panel bertajuk "Tantangan Distribusi Susu di Indonesia dalam Mendukung Program Susu Sekolah MBG" di IPB University, Bogor, Dewan Pakar Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Epi Taufik, menilai susu UHT dengan kemasan aseptik sebagai solusi paling realistis untuk skala nasional. Teknologi ini dianggap mampu menjawab tantangan distribusi tanpa ketergantungan pada fasilitas pendingin.

“Apakah kemasan aseptik dapat mengatasi tantangan distribusi susu di Indonesia? Jawabannya ya. Ini adalah salah satu teknologi paling strategis untuk konteks Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar,” ujar Prof. Epi.

Ia menambahkan bahwa susu dengan kemasan aseptik memiliki masa simpan panjang hingga 6–12 bulan pada suhu ruang, sehingga jauh lebih aman dari risiko kontaminasi mikroba selama proses distribusi. 

Keunggulan ini sangat relevan untuk mendukung pemerataan gizi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang minim fasilitas penyimpanan dingin.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, menjelaskan bahwa industri saat ini terus berinovasi menghadirkan kemasan yang fungsional sekaligus higienis. 

“Tren konsumen yang semakin sadar kesehatan dan isu lingkungan mendorong industri untuk menghadirkan kemasan yang menjaga keamanan produk sekaligus selaras dengan prinsip keberlanjutan,” jelasnya.

Aspek keberlanjutan ini juga menjadi fokus pelaku industri seperti PT Frisian Flag Indonesia (FFI). Corporate Affairs Director FFI, Andrew Saputro, mengungkapkan pihaknya telah mengevaluasi opsi kemasan dengan jejak karbon lebih rendah tanpa mengorbankan kualitas produk.

Kesiapan dari sisi hulu pun kian diperkuat dengan kehadiran LamiPak Indonesia. Memasuki 2025, perusahaan ini memproyeksikan kapasitas produksi penuh hingga 21 miliar kemasan per tahun untuk memperkuat rantai pasok nasional.

PR Manager PT LamiPak Indonesia, Ahmad Rizalmi, menegaskan kesiapan pihaknya dalam mendukung Program MBG melalui penyediaan kemasan aseptik berkualitas tinggi yang diproduksi di dalam negeri. 

Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan industri, tetapi juga memastikan distribusi susu menjadi lebih aman dan efisien bagi jutaan anak sekolah di seluruh Indonesia. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik