Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Dilema Media Sosial: Antara Ruang Ekspresi dan Ancaman Identitas Remaja

Basuki Eka Purnama
18/12/2025 07:18
Dilema Media Sosial: Antara Ruang Ekspresi dan Ancaman Identitas Remaja
Ilustrasi(Freepik)

MEDIA sosial kini bukan sekadar platform komunikasi, melainkan ruang yang secara fundamental mengubah lanskap psikologis generasi muda. 

Psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana, memperingatkan bahwa penggunaan media sosial yang masif dapat memengaruhi cara remaja mengenali dan membangun identitas diri mereka.

Pergeseran Pencarian Jati Diri

Menurut Vera, proses pencarian jati diri yang seharusnya berlangsung secara alamiah kini menjadi jauh lebih kompleks. 

Kehadiran standar sosial, tren, dan opini publik yang membanjiri lini masa membuat remaja kehilangan ruang untuk bereksplorasi secara personal.

"Pengaruh paling signifikan adalah perubahan cara remaja membangun identitas diri atau bagaimana mereka mengenali dirinya," ujar lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Vera menjelaskan bahwa pencarian jati diri yang sehat membutuhkan waktu dan interaksi nyata. Namun, paparan informasi yang terus-menerus membuat remaja cenderung mendefinisikan diri mereka berdasarkan kacamata orang lain, bukan melalui pengalaman hidup yang autentik. Akibatnya, mereka menjadi lebih sensitif terhadap penilaian sosial dan terus-menerus mencari validasi dari luar.

Kerentanan Biologis dan Efek Reward

Lebih jauh, Vera menyoroti mekanisme media sosial yang bekerja menyerupai sistem imbalan (reward). Fitur seperti notifikasi dan jumlah *likes* memberikan stimulasi yang sangat menarik bagi otak remaja. Sayangnya, ketertarikan ini tidak dibarengi dengan kematangan fungsi otak yang memadai.

"Otak remaja belum matang secara penuh, terutama bagian prefrontal cortex yang mengatur kontrol diri dan penilaian risiko," ungkap Vera.

Kondisi biologis ini membuat remaja lebih rentan terhadap dorongan impulsif, sulit mengontrol perilaku, dan sering kali abai terhadap konsekuensi jangka panjang dari interaksi mereka di ruang digital. Tekanan ini semakin diperparah oleh perubahan hormonal yang membuat stabilitas emosi mereka naik-turun.

Pentingnya Pendampingan

Meski menyimpan risiko, Vera tidak menampik bahwa media sosial memiliki sisi positif. Platform digital dapat menjadi wadah kreatif untuk berekspresi, ruang belajar yang luas, serta sarana membangun koneksi sosial yang positif jika digunakan dengan bijak.

Namun, ia memberikan catatan tegas bahwa manfaat tersebut hanya bisa diraih dengan pengawasan yang tepat. 

"Tanpa pendampingan, efek negatifnya bisa lebih dominan," tegasnya.

Sebagai langkah preventif, Vera menekankan tiga pilar utama untuk menjaga kesehatan mental remaja di era digital:

  1. Pendampingan orangtua secara aktif.
  2. Peningkatan literasi digital agar remaja mampu memilah informasi.
  3. Penguatan konsep diri agar remaja memiliki fondasi internal yang kuat dan tidak mudah goyah oleh tekanan di ruang siber. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya