Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Program MBG di SMPN 1 Tamansari Bogor, Sinergi Pemenuhan Gizi dan Kepedulian Lingkungan

Ficky Ramadhan
16/12/2025 13:07
Program MBG di SMPN 1 Tamansari Bogor, Sinergi Pemenuhan Gizi dan Kepedulian Lingkungan
Program MBG yang disalurkan oleh SPPG Mutiara Keraton Bogor(MI/Ficky Ramadhan)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mutiara Keraton Bogor yang dikelola oleh Jimmy Hantu atau Sujimin berjalan lancar di SMP Negeri 1 Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Setiap harinya, program ini menjangkau sebanyak 1.142 siswa.

Kepala sekolah SMP Negeri 1 Tamansari, Ermaini mengatakan bahwa menu MBG yang diberikan kepada siswa cukup variatif dan disesuaikan dengan selera anak-anak, sehingga mereka tetap antusias mengikuti program tersebut.

"Kita mendapatkan MBG ini setiap harinya untuk 1.114 siswa. Makanannya cukup variatif karena tidak sama setiap harinya. Jadi berbeda-beda," kata Ermaini saat ditemui di lokasi, Selasa (16/12).

Menurutnya, menu ayam menjadi salah satu yang paling diminati siswa. Namun, pengolahannya tidak monoton.

Ermaini juga menambahkan, SPPG Mutiara Keraton Bogor juga terbuka terhadap masukan dari siswa. Jika anak-anak mulai bosan dengan menu tertentu, permintaan dapat disampaikan langsung.

"SPPG cukup mengakomodir apa yang diinginkan anak. Misalnya anak sudah bosan, mereka kirim surat melalui rantang minta dikirim kebab, atau hamburger. Dan itu dikirim," jelasnya.

Sementara itu, terkait distribusi, Ermaini mengakui sempat ada kendala pada hari pertama pelaksanaan karena pihak sekolah masih menyesuaikan pola pembagian. Namun setelah dilakukan evaluasi, distribusi MBG berjalan sesuai harapan.

"Pada awal datang pertama kali memang kita cukup repot dalam pendistribusian karena belum tahu polanya. Tapi hari kedua kita evaluasi, dan sampai sekarang berjalan sesuai yang kita harapkan," ungkapnya.

Ia menjelaskan, makanan MBG biasanya tiba di sekolah sekitar pukul 06.30 WIB, bersamaan dengan kedatangan siswa. Makanan kemudian dikumpulkan dan dipisahkan berdasarkan jenjang kelas.

"Setelah kegiatan pembiasaan di sekolah, sekitar jam 08.00 WIB, petugas piket masing-masing kelas mengambil makanan dan menyimpannya di kelas. Lalu saat jam istirahat sekitar jam 10.00 WIB, makanan dikonsumsi siswa dengan pendampingan guru," tutur Ermaini.

Lebih lanjut, Ermaini mengungkapkan, dalam pelaksanaan MBG, masih terdapat sisa makanan dari sebagian siswa. Ada juga siswa yang membawa pulang makanan tersebut.

Kendati demikian, pihak sekolah juga memiliki sistem pengelolaan sisa makanan yang terorganisasi. Sisa makanan dipilah oleh petugas sekolah.

Pengelolaan sisa makanan MBG itu untuk mendukung program budidaya maggot yang telah lebih dulu dijalankan sekolah sebagai upaya pengurangan sampah.

"Kalau sisa yang masih bagus dan belum disentuh anak, kita pisahkan dan bagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Kalau yang sudah bekas makan anak, kita jadikan pakan maggot," jelasnya.

Ia menegaskan, melalui pengelolaan ini, tidak akan ada makanan yang terbuang sia-sia dan seluruh rangkaian program MBG memberikan manfaat berkelanjutan bagi sekolah maupun lingkungan sekitar.

"Artinya setelah dimakan anak-anak, ada proses pemilahan dulu. Tidak ada yang terbuang," pungkasnya. (Fik/M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik