Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya di tengah ancaman bencana harus dilakukan secara cepat, ilmiah, dan melibatkan berbagai pihak.
"Cagar budaya bukan sekadar bangunan, tetapi penanda jati diri bangsa. Upaya penyelamatan dan pemulihannya harus dilakukan secara terencana, berbasis keahlian, dan terintegrasi dengan manajemen risiko bencana," kata Lestari Moerdijat saat dihubungi, Senin (15/12).
Perempuan yang akrab disapa Rerie itu menekankan pentingnya pelibatan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus dalam pendataan, perencanaan teknis, hingga proses rehabilitasi dan konservasi kawasan cagar budaya terdampak.
"Pendataan kerusakan, pemulihan, dan konservasi cagar budaya tidak bisa dilakukan secara serampangan. Dibutuhkan tenaga ahli, perencanaan teknis yang detail, serta partisipasi aktif pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat," ujar Rerie.
Menurut Rerie, bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatra harus menjadi alarm bahwa pelestarian cagar budaya tidak bisa dilakukan oleh satu lembaga saja. Pendekatan sektoral dinilai tidak lagi memadai menghadapi tantangan perubahan iklim dan risiko bencana yang semakin meningkat.
"Pelestarian cagar budaya harus terintegrasi dengan tata ruang, perlindungan lingkungan, dan kebijakan mitigasi bencana. Ini adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat," ucapnya.
Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan menyatakan telah menyiapkan langkah-langkah intervensi awal setelah masa tanggap darurat berakhir, termasuk pembersihan lokasi, pengamanan situs, serta penyusunan rencana rehabilitasi jangka menengah dan panjang.
Ke depan, penguatan lingkungan cagar budaya secara berkelanjutan dan upaya pencegahan kerusakan akibat bencana diharapkan menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Pendekatan kolaboratif yang cepat, ilmiah, dan berkelanjutan dinilai menjadi kunci dalam menyelamatkan warisan budaya nasional di tengah ancaman bencana alam yang kian kompleks.
LAKUKAN PENDATAAN
Pemerintah mengambil langkah cepat dengan melakukan pendataan terhadap kondisi sejumlah cagar budaya yang terdampak bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengungkapkan bahwa jumlah cagar budaya yang terdampak terus bertambah. Dari pendataan awal sebanyak 43 situs, kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 70 cagar budaya yang mengalami kerusakan.
"Pada tahap awal kami mencatat sekitar 43 cagar budaya dan museum yang terdampak. Namun seiring masuknya laporan dari daerah, jumlah itu bertambah dan saat ini diperkirakan mencapai sekitar 70 cagar budaya," kata Fadli Zon, Minggu (14/12).
Puluhan cagar budaya tersebut mencakup berbagai jenis situs bersejarah, mulai dari bangunan ibadah, makam bersejarah, hingga museum yang memiliki nilai penting bagi sejarah dan peradaban bangsa. Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan, mengingat kerusakan yang terjadi tidak semata-mata bersifat fisik.
Kerusakan pada cagar budaya tersebut juga merupakan ancaman serius terhadap identitas bangsa, memori kolektif, serta warisan intelektual yang diwariskan lintas generasi. Apabila tidak segera ditangani secara tepat, sejumlah situs bersejarah berpotensi kehilangan nilai autentisitasnya. (H-1)
Berdasarkan hasil kajian tim Kementerian PU bersama Universitas Syiah Kuala (USK) ditemukan adanya pergerakan air bawah tanah yang memicu ketidakstabilan lereng.
HARAPAN baru mulai tumbuh di tengah warga Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
MENTERI Dalam Negeri Tito Karnavian memperingatkan pemda di Sumatra Utara agar tidak menyelewengkan dana penanganan bencana.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
BADAN Rescue Nasional Demokrasi (NasDem) Sumatera Barat menargetkan pembentukan pengurus Badan Rescue NasDem Daerah (BRND) tingkat kota, kabupaten dan kecamatan yang ada di Sumbar.
DUA bulan pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025, sebanyak 40 warga di Sumatra Utara masih dinyatakan hilang.
Menjelang 12 hari memasuki Bulan Suci ramadan 1457 H, kondisi warga penyintas banjir besar di Aceh Tengah masih sangat memprihatinkan.
Ini merupakan bentuk kepedulian USK terhadap mahasiswa terdampak sekaligus upaya meringankan beban ekonomi mereka.
Mahasiswa diingatkan agar sebaik mungkin menghindari hal-hal yang merugikan.
Untuk menutupi kebutuhan pupuk tanaman padi, mereka harus beralih ke pupuk nonsubsidi.
Sebanyak 20 sumur bor berteknologi RO dibangun di wilayah terdampak banjir Aceh untuk menyediakan air bersih dan mendukung pemulihan warga.
Dampak dari kondisi cuaca ini, kata dia, juga berpotensi terjadi gelombang tinggi yang berkisar antara 1,5 meter hingga 2,5 meter di perairan wilayah Aceh bagian barat dan selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved