Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Lestari Moerdijat: Perlu Penanganan Terpadu untuk Cagar Budaya Rusak Akibat Banjir Sumatra

Ficky Ramadhan
15/12/2025 21:48
Lestari Moerdijat: Perlu Penanganan Terpadu untuk Cagar Budaya Rusak Akibat Banjir Sumatra
Situasi pembersihan pascabencana hidrometeorologi di kompleks makam cagar budaya di Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Senin (8/12/2025).(DOK KEMENBUD)

WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya di tengah ancaman bencana harus dilakukan secara cepat, ilmiah, dan melibatkan berbagai pihak.

"Cagar budaya bukan sekadar bangunan, tetapi penanda jati diri bangsa. Upaya penyelamatan dan pemulihannya harus dilakukan secara terencana, berbasis keahlian, dan terintegrasi dengan manajemen risiko bencana," kata Lestari Moerdijat saat dihubungi, Senin (15/12).

Perempuan yang akrab disapa Rerie itu menekankan pentingnya pelibatan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus dalam pendataan, perencanaan teknis, hingga proses rehabilitasi dan konservasi kawasan cagar budaya terdampak.

"Pendataan kerusakan, pemulihan, dan konservasi cagar budaya tidak bisa dilakukan secara serampangan. Dibutuhkan tenaga ahli, perencanaan teknis yang detail, serta partisipasi aktif pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat," ujar Rerie.

Menurut Rerie, bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatra harus menjadi alarm bahwa pelestarian cagar budaya tidak bisa dilakukan oleh satu lembaga saja. Pendekatan sektoral dinilai tidak lagi memadai menghadapi tantangan perubahan iklim dan risiko bencana yang semakin meningkat.

"Pelestarian cagar budaya harus terintegrasi dengan tata ruang, perlindungan lingkungan, dan kebijakan mitigasi bencana. Ini adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat," ucapnya.

Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan menyatakan telah menyiapkan langkah-langkah intervensi awal setelah masa tanggap darurat berakhir, termasuk pembersihan lokasi, pengamanan situs, serta penyusunan rencana rehabilitasi jangka menengah dan panjang.

Ke depan, penguatan lingkungan cagar budaya secara berkelanjutan dan upaya pencegahan kerusakan akibat bencana diharapkan menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Pendekatan kolaboratif yang cepat, ilmiah, dan berkelanjutan dinilai menjadi kunci dalam menyelamatkan warisan budaya nasional di tengah ancaman bencana alam yang kian kompleks. 

LAKUKAN PENDATAAN
Pemerintah mengambil langkah cepat dengan melakukan pendataan terhadap kondisi sejumlah cagar budaya yang terdampak bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengungkapkan bahwa jumlah cagar budaya yang terdampak terus bertambah. Dari pendataan awal sebanyak 43 situs, kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 70 cagar budaya yang mengalami kerusakan.

"Pada tahap awal kami mencatat sekitar 43 cagar budaya dan museum yang terdampak. Namun seiring masuknya laporan dari daerah, jumlah itu bertambah dan saat ini diperkirakan mencapai sekitar 70 cagar budaya," kata Fadli Zon, Minggu (14/12).

Puluhan cagar budaya tersebut mencakup berbagai jenis situs bersejarah, mulai dari bangunan ibadah, makam bersejarah, hingga museum yang memiliki nilai penting bagi sejarah dan peradaban bangsa. Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan, mengingat kerusakan yang terjadi tidak semata-mata bersifat fisik.

Kerusakan pada cagar budaya tersebut juga merupakan ancaman serius terhadap identitas bangsa, memori kolektif, serta warisan intelektual yang diwariskan lintas generasi. Apabila tidak segera ditangani secara tepat, sejumlah situs bersejarah berpotensi kehilangan nilai autentisitasnya. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik