Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
LELAKI dan perempuan yang memiliki ukuran pinggang yang besar berisiko lebih tinggi untuk meninggal di usia muda, menurut sebuah studi yang dilakukan di Amerika Serikat.
Hal ini berlaku tanpa memandang indeks massa tubuh (BMI) mereka, seperti yang dinyatakan dalam penelitian yang dimuat di Archives of Internal Medicine.
Namun, ukuran pinggang yang sangat besar, sama dengan ukuran Inggris 24-26 untuk wanita dan XXXXL untuk pria, tampak menggandakan risiko kematian.
Dalam penelitian ini, para peneliti mengamati lebih dari 100. 000 pria dan wanita yang berusia 50 tahun ke atas selama sembilan tahun.
Mereka juga menemukan bahwa pada wanita, kaitan antara ukuran pinggang yang lebih besar dan peningkatan risiko kematian paling jelas terjadi pada mereka yang memiliki berat badan normal.
Studi lanjutan diperlukan untuk memahami mengapa hal ini terjadi, ujar penulis penelitian tersebut.
Dr Eric Jacobs bersama timnya di American Cancer Society di Atlanta mengeksplorasi hubungan antara lingkar pinggang dan risiko kematian di antara 48. 500 pria serta 56. 343 wanita.
Peserta dalam studi ini sebagian besar berketurunan kulit putih. Di awal penelitian, rata-rata usia pria adalah 69 tahun dan wanita 67 tahun.
Dari tahun 1997 hingga 2006, kematian setiap peserta diamati dan penyebabnya dicatat.
Selama periode tersebut, sebanyak 9. 315 pria dan 5. 332 wanita meninggal dunia.
Entah peserta memiliki berat badan normal, overweight, atau obesitas, para peneliti menemukan bahwa risiko kematian bertambah sejalan dengan meningkatnya ukuran lingkar pinggang.
Risiko ini menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pria dengan lingkar pinggang 110 cm ke atas dan pada wanita dengan lingkar pinggang 95 cm ke atas, berdasarkan temuan penelitian ini.
Namun, hanya pada pria dan wanita yang memiliki ukuran pinggang sangat besar (120 cm atau lebih pada pria dan 110 cm pada wanita) risiko kematian menunjukkan peningkatan dua kali lipat sepanjang studi sembilan tahun ini.
Penyebab kematian yang paling umum bagi mereka yang menunjukkan hubungan kuat antara kematian dan ukuran pinggang adalah penyakit pernapasan, diikuti oleh kondisi kardiovaskular dan kemudian kanker.
Kesimpulan dari studi tersebut menyatakan, "Temuan kami menunjukkan bahwa terlepas dari berat badan, menghindari peningkatan lingkar pinggang dapat menurunkan risiko kematian dini. "
Dr David Haslam, ketua Forum Obesitas Nasional, mengungkapkan bahwa penelitian ini sangat signifikan.
"Ini menegaskan bahwa lemak di area perut itu berbahaya.
"Meskipun Anda memiliki BMI normal dan perut yang menonjol, risikonya sama besar dengan seseorang yang termasuk dalam kategori obesitas dengan perut buncit. "
Studi sebelumnya telah membuktikan bahwa obesitas di bagian perut merupakan indikator yang kuat untuk terjadinya penyakit arteri koroner dan berhubungan dengan resistensi insulin serta perkembangan diabetes tipe 2.
Risiko ini terkait dengan akumulasi lemak, yang tidak hanya terletak di bawah kulit namun juga jauh di dalam rongga perut. (BBC/Z-10)
Fokus entitas adalah pada pemberdayaan, baik melalui peningkatan kemampuan komunikasi strategis maupun melalui dukungan emosional dan edukasi bagi perempuan.
Pernyataan itu juga menyampaikan bahwa KJRI Jeddah turut memfasilitasi pemulangan satu WNI dengan kondisi lumpuh akibat sakit ke Indonesia.
Lestari Moerdijat mendorong penguatan peran perempuan sebagai bagian dari langkah strategis pelestarian budaya nasional.
Perempuan pascamenopause menghadapi berbagai tantangan kesehatan, mulai dari penurunan kepadatan tulang hingga melemahnya sistem imun.
Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi, meraih penghargaan Tokoh Perempuan Penggerak Ekonomi dan UMKM.
Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved