Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BENCANA banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir November masih menyisakan dampak serius bagi masyarakat. Meski desakan publik meningkat, pemerintah belum menetapkan bencana di wilayah Sumatra tersebut sebagai bencana nasional.
Menanggapi polemik tersebut, Tenaga Ahli di Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa penetapan status bencana nasional tidak dapat diputuskan hanya berdasarkan banyaknya korban jiwa atau luasnya kerusakan. Ia menyebut mekanisme hierarkis penanganan harus tetap menjadi acuan.
“Perangkat daerah seperti BPBD adalah pihak pertama yang bertanggung jawab. Selama pemerintah daerah masih dapat menjalankan fungsinya untuk melakukan penanganan dan koordinasi pada pihak terkait, status bencana nasional belum perlu diterapkan,” ujarnya dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (5/12).
Menurutnya, eskalasi status bencana baru dilakukan jika pemerintah kabupaten atau kota tidak lagi mampu menangani kondisi darurat. Dalam mekanisme tersebut, kepala daerah menyatakan kondisi darurat kepada pemerintah provinsi, dan jika provinsi juga tidak sanggup, barulah pemerintah pusat mengambil alih penanganan. “Sebelum naik tingkat, daerah harus terlebih dulu menetapkan status darurat. Baru kemudian provinsi, lalu sampailah ke pusat apabila memang daerah sudah tidak sanggup,” jelasnya.
Djati berpendapat bahwa tergesa-gesa menjadikan bencana sebagai tanggung jawab pusat justru berpotensi melumpuhkan birokrasi daerah. Ketika kewenangan langsung dipusatkan, aparat daerah yang paling memahami kondisi lapangan dikhawatirkan tidak dapat menjalankan perannya secara optimal.
“Kalaupun ditetapkan sebagai bencana nasional, lalu untuk apa? Di daerah sebenarnya mereka masih mampu melakukan pencarian, pertolongan, hingga evakuasi. Tapi ketika status langsung ditarik ke pusat, semua tim dari pusat datang, sementara daerah yang masih bisa bekerja justru tidak diberi ruang,” ungkapnya.
Terkait persoalan anggaran, ia menyoroti lemahnya alokasi pembiayaan mitigasi dan pencegahan bencana. Menurutnya, anggaran penanggulangan bencana selama ini masih didominasi untuk penanganan darurat dan pemulihan pascabencana, bukan upaya pencegahan jangka panjang.
“Sebetulnya anggaran penanggulangan bencana itu minimal harus disiapkan satu persen dari total anggaran. Dan proporsi terbesar seharusnya bukan di darurat atau pasca bencana, tetapi di pra bencana,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa anggaran kebencanaan tersebar di berbagai lembaga, kementerian, hingga organisasi tingkat daerah. Karena itu, setiap wilayah wajib memiliki dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) agar perhitungan anggaran dan pembagian peran dapat berjalan efisien. Ia juga mendorong keterlibatan masyarakat serta sektor swasta dalam penguatan sistem penanggulangan bencana.
Djati menilai rangkaian kejadian siklon tropis dalam satu dekade terakhir harus menjadi alarm serius bagi peningkatan kesiapsiagaan hidrometeorologi di Indonesia. Ia menyebut BMKG sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini sebelum bencana, namun respons sistematis dari daerah belum berjalan optimal.
“Yang perlu dipastikan adalah kesiapan daerah dalam merespon peringatan dini. Bukan hanya memiliki rencana kontingensi, tetapi juga benar-benar mengaktifkannya,” pungkasnya. (H-2)
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah dalam menangani bencana di sejumlah wilayah Sumatra, meskipun peristiwa tersebut tidak ditetapkan sebagai bencana nasional.
PERKUMPULAN Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI) menyampaikan sikap terkait penanganan banjir dan longsor yang melanda Sumatra.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah dilakukan skala nasional sejak 26 November 2025
Seskab Teddy Indra Wijaya menepis kritik lambatnya penanganan bencana di Sumatera. Ia tegaskan pemerintah bergerak cepat tanpa sorot kamera.
Hal tersebut diperoleh Evello setelah menganalisis narasi dari 11.706 video di Tiktok, 9.173 unggahan di Instagram dan 18.371 unggahan video Youtube.
Jumlah korban jiwa banjir Sumatra mencapai 1.053 jiwa. Sementara bencana akibat Siklon Senyar menyebabkan 10 korban jiwa di Malaysia, dan 20 korban jiwa di Thailand.
DOSEN Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, Dr. Mada Sukmajati menilai, argumen Pilkada melalui DPRD atau Pilkada tidak langsung masih perlu didukung data ilmiah.
MANTAN Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo hadir dalam pengukuhan guru besar,Prof. Zainal Arifin Mochtar dan pidatonya soal demokrasi
Integrasi data layanan kesehatan menjadi bagian dari ekosistem respons kebencanaan berbasis pengetahuan yang dikembangkan untuk pengambilan keputusan kesehatan yang lebih tepat sasaran.
Ketua Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito mengingatkan pentingnya menjaga otonomi desa yang merupakan buah dari reformasi.
EKSPLOITASI seksual anak di ruang digital kian mengkhawatirkan dengan maraknya manipulasi konten seksual berupa foto dan video melalui fitur kecerdasan buatan atau AI misalnya lewat Grok.
“Pemilihan lokasi pemasangan EWS didasarkan pada kejadian banjir susulan akhir tahun 2025 di Desa Lampahan Timur,”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved