Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Samanta Elsener M.Psi menekankan bahwa peran orangtua menjadi faktor paling penting dalam mencegah anak terpengaruh konten negatif di platform digital.
Menurut Samanta, anak-anak cenderung menerima segala sesuatu yang dilihatnya serta memiliki rasa penasaran yang besar.
Tanpa pengawasan dari orangtua, anak dapat dengan mudah terpapar segala jenis konten di media sosial, termasuk konten negatif.
"Ketika dia mendapatkan banyak sekali variasi konten, tanpa ada diskusi dengan orang dewasa yang dalam hal ini adalah orangtua memberikan pengawasan, anak menjadi liar dan dia merasa bahwa boleh melakukan apapun," kata Samanta, dikutip Selasa (25/11).
Peran pengawasan tersebut, sambungnya, tidak hanya sebatas tanggung jawab orang tua tetapi anggota keluarga atau kerabat terdekat lain yang ada di rumah.
Samanta menjelaskan, kurangnya pendampingan, membuat anak kehilangan standar normatif dalam bersikap sehingga kontrol atas perilaku impulsif mereka rendah.
Ia menjelaskan bahwa ketika emosi anak terpicu, mereka cenderung bersikap impulsif dengan meniru apa yang mereka lihat di platform digital.
"Menurut dia, dari semua konten-konten yang dia dapatkan itu, layak dia lakukan untuk membela dirinya," ujarnya.
Untuk itu, Samanta menekankan pentingnya orangtua memberikan pandangan agar anak memahami cara mengatur emosi melalui diskusi yang relevan dengan pengalaman yang telah ia alami sehari-hari.
"Kita bisa menciptakan pertanyaan yang kreatif seperti 'Tadi di sekolah yang paling seru main sama siapa?', 'Siapa gurunya yang tadi marah di sekolah?', 'Ada kejadian apa yang bikin kamu sebal tadi di sekolah?' Dengan begitu anak akan jadi terbiasa untuk ekspresif dan cerita sama orangtuanya," tuturnya.
Samanta juga mendorong orangtua untuk mengenal teman-teman anak serta karakter mereka melalui interaksi langsung. Dengan begitu, anak akan berkembang menjadi pribadi yang mampu menilai situasi di sekitarnya.
Kedekatan ini membantu anak mengenali mana perilaku yang patut ditiru dan mana yang harus dihindari. (Ant/Z-1)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kemampuan seseorang mengelola emosi sangat berperan penting dalam menentukan seberapa besar dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh berita buruk terhadap kesehatan mentalnya.
Meutya menerangkan platform media sosial punya punya teknologi yang lebih canggih sehingga harus bertanggung jawab menyaring konten seperti pornografi, hingga kekerasan.
Kemenkodigi memastikan audit sistem teknologi internal dilakukan dalam rangka bersih-bersih internal dari judi dalam jaringan alias judi online.
MODERASI konten menggunakan gabungan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan, manusia, dan laporan dari komunitas. Ini untuk memerangi konten negatif secara efektif.
KEMENTERIAN Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut belum ada teknologi yang bisa digunakan untuk mencegah judi online.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved