Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pembekalan Literasi AI Sejak Dini Tuntun Anak Jadi Pemikir Digital

Despian Nurhidayat
20/11/2025 15:22
Pembekalan Literasi AI Sejak Dini Tuntun Anak Jadi Pemikir Digital
Ilustrasi(Dok Ist)

DI tengah percepatan perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, mulai dari navigasi di ponsel hingga sistem rekomendasi di media sosial.

Namun, sebagaimana setiap inovasi besar dalam sejarah, AI membawa potensi luar biasa sekaligus tantangan serius, mulai dari kemalasan berpikir hingga bias algoritmik, dari kemudahan belajar hingga disinformasi. Di sinilah, pendidikan memegang peran krusial, bukan untuk melarang teknologi, tetapi membekali anak-anak dengan kemampuan untuk menguasai keterampilan hidup esensial termasuk berpikir kritis, bertanggung jawab, dan tetap berpusat pada nilai kemanusiaan.

Demikian mengemuka dalam parent workshop bertajuk Membesarkan Pemikir Digital: Membantu Anak Berkembang di Era AI, yang digelar Research & Development for Advancement (Redea) Institute yang menaungi HighScope Indonesia Institute. 

Parent workshop ini menghadirkan Ken Shelton, seorang ahli teknologi pendidikan dari Amerika Serikat dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia seorang penulis buku The Promises and Perils of AI in Education dan penerima Digital Equity Professional Learning Network Excellence Award serta CUE Platinum Disc Award.

Ken Shelton menjelaskan anak-anak di dunia kini sedang tumbuh di masa AI sudah jadi hal biasa mulai dari chatbot hingga sistem personalisasi digital. Generasi mereka akan hidup berdampingan dengan teknologi yang jauh lebih maju dibandingkan dengan saat ini.

“Versi AI saat ini adalah versi terburuk yang akan pernah ada. Namun, saya mengajak orang tua dan pendidik untuk melihat pendidikan AI bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai literasi baru yang sama pentingnya dengan baca-tulis-hitung," ujarnya.

Menurut dia, AI tidak seharusnya jadi penghalang belajar, justru hadir sebagai sarana yang menuntun siswa merumuskan pertanyaan tepat serta menggali pengetahuan lebih dalam.

Seiring dunia bergerak menuju masa depan yang tak terpisahkan dari AI, sekolah dan keluarga perlu membangun kerja sama yang kuat. 

"Pembekalan literasi AI sejak dini bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan untuk memastikan anak-anak bukan hanya pengguna teknologi, melainkan pemikir digital yang mampu menilai, mencipta, dan menavigasi dunia dengan kebijaksanaan," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Ken Shelton turut berdiskusi dengan siswa SMP dan SMA, serta berbicara dalam sesi untuk orang tua. Ia juga memimpin rangkaian pelatihan bagi guru PAUD hingga SMA di Sekolah HighScope Indonesia TB Simatupang serta bagi pendidik dari sekolah binaan di jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK. 

Pada sisi lain, tim Redea Institute menekankan literasi AI merupakan bagian penting tujuan pembelajaran yakni membentuk generasi pemimpin yang memiliki regulasi diri kuat dan pandangan ke depan bagi masyarakat.
Tim Redea juga menjelaskan kerangka literasi AI yang dikembangkan dan diintegrasikan dengan learner outcomes jangka panjang, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga SMA. Literasi AI didefinisikan sebagai kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab agar alat seperti ChatGPT dan Gemini digunakan untuk kebaikan pembelajaran.

Pendiri dan CEO Redea Institute Antarina S F Amir mengatakan partisipasi aktif pendidik menjadi bagian penting dalam memastikan pendekatan literasi AI diterapkan secara konsisten di ruang kelas.

"Kini saatnya kita memikirkan kembali peran kecerdasan buatan dalam pendidikan, dan bagaimana kita dapat mempersiapkan anak-anak sebagai pemikir digital yang siap menghadapi tantangan masa depan,” tutupnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik