Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

BMKG: Kesiapsiagaan Bencana Harus Menjadi Budaya Masyarakat Indonesia

Ficky Ramadhan
18/11/2025 18:03
BMKG: Kesiapsiagaan Bencana Harus Menjadi Budaya Masyarakat Indonesia
KEPALA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani.(Dok. Antara/ TV Parlemen)

KEPALA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana harus menjadi budaya dan cara pandang hidup masyarakat Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam peringatan 10 Tahun Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) yang digelar di Auditorium Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Selasa (18/11).

"Tingginya potensi bencana di Indonesia menuntut kesadaran kolektif yang berkelanjutan. Letak Indonesia pada pertemuan empat lempeng tektonik dunia (Indo-Australia, Eurasia, Filipina, dan Pasifik) menyebabkannya memiliki 13 segmen subduksi dan lebih dari 295 sesar aktif," kata Faisal.

Menurutnya, kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu kawasan seismik paling aktif di dunia. Data BMKG mencatat rata-rata terjadi 30 ribu gempa bumi setiap tahunnya.

"Catatan ini tentu bukan hanya angka namun menjadi penanda bahwa kesiapsiagaan dan mitigasi menjadi garda terdepan yang harus terus digencarkan oleh seluruh pihak," ujarnya.

Dalam 10 tahun pelaksanaannya, BMKG terus mendorong literasi kebencanaan melalui program SLG. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan keterampilan, kesiapsiagaan, dan cara pandang hidup dalam menghadapi potensi bencana.

Jakarta, kata Faisal, juga memiliki rekam jejak terdampak gempa besar. Kota ini pernah mengalami kerusakan akibat gempa bumi pada tahun 1699, 1780, 1834, dan 1903. Rentetan kejadian tersebut diduga kuat dipicu aktivitas subduksi lempeng karena dampaknya yang meluas.

Catatan sejarah ini, menurut Faisal, menjadi pengingat bahwa Jakarta tetap memiliki potensi bahaya gempa, sehingga budaya kesiapsiagaan perlu terus dibangun.

Faisal menambahkan bahwa salah satu tugas pokok BMKG adalah memastikan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami tersampaikan dengan cepat dan akurat kepada pemangku kepentingan. Ia berharap program SLG dapat terus membawa manfaat besar.

"Guna menjaga keberlangsungan program ini, BMKG tidak dapat berjalan sendiri tanpa kolaborasi erat dan kontribusi dari seluruh pihak," ucapnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama menyatakan bahwa SLG merupakan langkah strategis yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

"Tujuan dari kegiatan SLG adalah tidak hanya seremonial, namun sebagai pengingat bersama untuk dapat merespon informasi gempabumi dan tsunami dengan baik, baik itu masyarakat maupun institusi terkait," jelasnya.

Selama satu dekade, program SLG telah terlaksana di 215 lokasi dengan total 11.215 peserta. Capaian ini turut diperkuat oleh program BMKG Goes to School yang menjangkau 64.400 peserta.

"Pada tahun ini telah terlaksana SLG di 37 lokasi dari 40 lokasi yang telah dimulai dari bulan Juni," tambah Nelly.

Pada momentum peringatan 10 tahun ini, BMKG juga meluncurkan buku Satu Dekade Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami berjudul "Menyemai Ketangguhan di Atas Lempeng yang Tak Diam". Buku tersebut merangkum perjalanan dan kegiatan SLG selama 10 tahun, dan diharapkan menjadi sumber literasi bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat luas.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono berharap kegiatan SLG dapat terus meningkatkan kapasitas pengetahuan mengenai mitigasi gempabumi dan tsunami. Ia menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar pertemuan sesaat, tetapi harus menjadi wadah koordinasi seluruh pemangku kepentingan dalam pengurangan risiko bencana. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik