Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI dari Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) Rafika Aprilianti mengungkapkan bahaya mikroplastik dari sampah pakaian yang bisa mencemari sungai serta merusak ekosistem di dalamnya.
Rafika menjelaskan, mikroplastik tidak hanya membawa risiko dari bahan dasarnya sendiri seperti ftalat dan BPA yang bersifat pengganggu hormon, tetapi juga bertindak seperti magnet yang menyerap racun lain seperti pestisida dan logam berat di sungai.
"Ketika organisme air menelan mikroplastik, racun-racun ini masuk ke tubuh mereka dan dapat menyebabkan kerusakan organ, gangguan reproduksi, serta menurunkan populasi ikan endemik," kata Rafika, Senin (18/11).
Menurutnya, ketika polusi dari pewarna pakaian dan mikroplastik sudah mendominasi, sungai kehilangan fungsi alaminya sebagai sumber air bersih dan penopang kehidupan.
Rafika menyebut bahan sintetis seperti polyester, nylon, dan spandex sebagai kontributor terbesar dari polusi mikroplastik yang dihasilkan oleh sampah pakaian.
Guna mencegah polusi mikroplastik, Rafika mendorong masyarakat menghindari penggunaan fast fashion atau pakaian yang diproduksi dengan cepat dan murah.
Dia juga mengingatkan, pakaian yang sudah tidak dipakai sebaiknya disumbangkan kepada orang yang membutuhkan.
"Kalau bosan dengan pakaian itu-itu saja bisa mix and match. Pakaian yang masih layak pakai bisa disetorkan ke orang yang membutuhkan atau ditukar melalui berbagai proyek bersaling-silang," ujarnya.
Ia juga merekomendasikan memilih pakaian dengan persentase serat alami yang lebih tinggi untuk mengurangi pelepasan mikroplastik ke lingkungan.
Diketahui, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova sebelumnya menyampaikan bahwa penelitian yang dilakukan sejak 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di Jakarta.
"Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka. Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain," ia menjelaskan.
Peneliti menemukan rata-rata 15 partikel mikroplastik per meter persegi area per hari pada sampel air hujan di kawasan pesisir Jakarta.
Menurut Reza, ini terjadi karena siklus plastik kini telah menjangkau atmosfer. Mikroplastik yang terbawa angin turun kembali bersama air hujan. Guna menekan polusi mikroplastik dan risiko paparannya, penggunaan produk plastik harus diminimalkan. (Ant/Z-1)
Pemulihan Aceh dan Sumatra membutuhkan energi besar dan napas yang panjang
Mendagri mengatakan telah mengunjungi sejumlah lokasi pengungsian dan menyaksikan secara langsung kondisi warga yang memprihatinkan, terutama terkait kebutuhan sandang.
Pakaian bekas yang belum dicuci dan ditumpuk begitu saja dapat mengandung virus Molluscum contagiosum, yang tidak diketahui sejak kapan telah bersarang di dalam serat atau bagian baju.
Seseorang yang mengalami infeksi kulit usai menggunakan pakaian bekas juga dapat mengidentifikasi ruam kemerahan sebagai tanda bahaya pada tubuhnya.
Pasar pakaian dalam pria diperkirakan terus tumbuh. Merek lokal Agree Underwear optimistis dalam 3 tahun ke depan akan terjadi lonjakan permintaan, terutama di segmen lokal premium.
Bencana banjir terparah saat ini melanda Desa Tebing Tinggi di Kabupaten Balangan, ketinggian air mencapai lebih dua meter
Miliaran tahun silam, air pernah mengalir di permukaan Mars. Para ilmuwan sepakat bahwa planet ini pernah memiliki jaringan Sungai.
Perubahan warna air kali terjadi pada Sabtu (4/10) sore hingga petang kemarin.
Pada era modern saat ini, peradaban terbaik untuk Kabupaten Bekasi adalah mengembalikan hamparan sungai sepanjang mungkin tanpa ada yang membatasi.
Para peneliti menemukan lebih dari 15.000 km aliran sungai kuno di Mars, menunjukkan Planet Merah pernah hangat dan basah akibat hujan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved