Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
AIR yang tersisa setelah hujan menjadi masalah serius yang memerlukan perhatian segera. Selain mengeluarkan bau tidak sedap dan menarik perhatian nyamuk, genangan air juga membawa sejumlah bakteri berbahaya yang bisa menimbulkan masalah kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan setiap tahunnya lebih dari 3,4 juta kematian disebabkan penyakit yang berkaitan dengan air, banyak di antaranya disebabkan air kotor atau genangan. Air yang terendam termasuk dalam Kategori 3 (Air Hitam), kategori air yang paling terkontaminasi dan berbahaya.
Untuk meningkatkan kesadaran, mari kita bahas risiko kesehatan utama yang muncul akibat genangan air hujan.
Genangan air hujan dapat membawa berbagai ancaman kesehatan yang signifikan. Salah satu bahaya yang paling umum adalah Leptospirosis. Bakteri Leptospira hidup dalam urine tikus atau hewan liar lainnya, dapat terbawa air dan mampu bertahan dalam genangan dalam beberapa hari.
Infeksi berpotensi terjadi apabila air yang terkontaminasi mengenai luka kecil di kulit atau membran mukosa (seperti mata, hidung, atau mulut). Gejala awal termasuk demam, nyeri otot, dan sakit kepala, yang bisa berkembang menjadi kondisi serius seperti masalah ginjal.
Lebih jauh, genangan yang muncul di sekitar saluran pembuangan atau kawasan padat penduduk biasanya mengandung bakteri penyebab gangguan pencernaan. Bakteri seperti E. coli atau Salmonella serta berbagai virus yang menyebabkan diare dapat menyebar melalui cipratan air atau lewat tangan yang tidak sengaja menyentuh air, kemudian menyentuh makanan. Paparan ini dapat mengakibatkan diare, muntah, dan sakit perut, di mana anak-anak dan lansia sangat rentan terhadap dehidrasi.
Ancaman berikutnya adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penyebab ISPA sangat bervariasi, bisa dari bakteri, virus, atau mikroba lainnya, yang dapat dipicu oleh lingkungan yang lembap dan tercemar akibat genangan. Gejala utamanya adalah batuk dan demam, dan dalam kondisi parah bisa disertai sesak napas dan nyeri dada.
Terakhir, genangan air hujan menjadi habitat ideal bagi perkembangbiakan nyamuk. Nyamuk Aedes, yang membawa virus Dengue, hanya membutuhkan wadah kecil berisi air yang statis untuk bertelur.
Proses perkembangan larva menjadi nyamuk dewasa berlangsung cepat sehingga tempat air yang dibiarkan terbuka dapat menjadi sumber masalah dalam waktu singkat. Peningkatan drastis jumlah nyamuk ini meningkatkan kemungkinan penularan penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Chikungunya.
Mengingat dampak buruk yang mungkin ditimbulkan, melakukan langkah-langkah pencegahan menjadi sangat penting. Menghindari genangan air yang kotor atau berbau, serta menjaga kebersihan diri terutama mencuci tangan sebelum makan adalah pertahanan awal Anda.
Masyarakat juga perlu memiliki kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan dari genangan air, yang bukan hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga sebagai investasi penting untuk kesehatan masyarakat yang lebih baik, guna mengurangi angka penyakit fatal yang ditularkan melalui air kotor. (Kemenkes/H2OGlobal/Z-2)
Kasus leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, meningkat tajam sepanjang 2025. Sebaliknya, kasus demam berdarah dengue (DBD) justru mengalami penurunan.
Leptospirosis perlu mendapat perhatian serius, terutama di wilayah terdampak banjir.
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menyebut per 29 November 2025 suspek kasus leptospirosis banyak ditemukan di Jawa Tengah yakni 1.550 kasus.
KASUS leptospirosis kembali menjadi perhatian seiring meningkatnya risiko penularan penyakit tersebut pada musim penghujan.
KASUS leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menunjukkan tren peningkatan.
Hingga akhir November 2025, Dinas Kesehatan Klaten mencatat terdapat 133 kasus leptospirosis dengan 22 di antaranya meninggal dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved