Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Komunikasi dan Digital (Komdigi), Dewan Pers, dan Media Indonesia memberikan edukasi kepada media, mahasiswa, pers kampus, komunitas digital, teknologi dan kreatif, serta masyarakat tentang teknologi Artificial Intelligence (AI) yang digelar di Hotel Lombok Raya Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (13/11).
Edukasi tentang pemahaman terkait Artificial Intelligence (AI) ini dihadiri sekitar 100 orang, dan dikemas melalui forum Insight Talk Literasi Cerdas di Era Kecerdasan Artifisial. Komdigi menggagas forum Insight Talks sebagai wadah diskusi publik untuk meningkatkan kesadaran, dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya literasi digital dan Artificial Intelligence yang bertanggungjawab.
Hadir pada kesempatan tersebut, Staf Ahli Menteri Komdigi Bidang Sosial, Ekonomi dan Budaya, Raden Wijaya Kusumawardhana, Plt. Direktur Ekosistem Media Farida Dewi Maharani, sejumlah narasumber yakni, Direktur Pemberitaan Media Indonesia, Abdul Kohar, anggota Dewan Pers, Yogi Hadi Ismanto, dan Dosen Teknik Informatika Universitas Mataram (Unram), Nadiyasari Agitha..
Staf Ahli Menteri Komdigi Bidang Sosial, Ekonomi dan Budaya, Raden Wijaya Kusumawardhana mengatakan, tujuan Komdigi melakukan kolaborasi dengan beberapa komunitas termasuk dengan media khususnya di daerah, antara lain untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi media di daerah.
Dia mengatakan, pentingnya literasi tidak hanya lintas digital, tapi juga perlunya literasi Artificial Intelligence sangat strategis. Literasi diharapakan akan memberikan kemampuan bagi teman-teman di daerah untuk tahu bagaimana menggunakan teknologi digital dengan baik, dan juga memberikan solusi.
“Maka dengan literasi Artificial Intelligence itu juga diharapkan memberikan solusi berbagai permasalahan prioritas nasional yang bisa diselesaikan bersama, itu bisa diselesaikan dengan teknologi digital. Nah, itu salah satunya,” kata Raden Wijaya kepada wartawan.
Menurut dia kegiatan tersebut digelar bukan karena ada persoalan, melainkan karena teknologi itu harus inklusif, harus melibatkan semua. “Jangan sampai ada yang tertinggal. Justru akan jadi masalah kalau ada yang tidak dapat. Pemerataan itulah inklusif. Jadi tidak ada persoalan, justru tanggungjawab negara harus hadir dirasakan manfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Plt. Direktur Ekosistem Media, Direktorat Jendral Komunikasi Publik dan Media, Komdigi, Farida Dewi Maharani menyebutkan, peserta Insight Talks sebanyak 115 orang terdiri dari peserta media lokal, sisanya dari mahasiswa, dan juga komunitas lainnya. “Ini tidak sekedar menjadi ajang untuk sharing tapi harapannya ini juga jadi ajang untuk kita berkolaborasi,” kata Farida.
Dikatakannya, di era digital saat ini informasi menjadi suatu hal yang dihadapi sehari-hari, maka yang namanya kolaborasi berjejaring menjadi penting, berjejaring sesama media maupun dengan konten kreator.
“Tapi pada intinya yang kami inginkan dari giat hari ini sebagai bagian dari generasi digital memastikan bahwa, kita media lokal, nasional mampu memanfaat teknologi secara bertangngjawab tidak hanya sekedar memanfaatkan mempermudah pekerjaan,” tegas Dewi.

Sementara itu, Direktur Pemberitaan Media Indonesia, Abdul Kohar, mengatakan, keberadaan Artificial Intelligence dapat membantu pekerjaan junalisme jadi lebih mudah. “Tapi kita juga dituntut tangungjawab yang lebih tinggi, kita harus transparan, kita harus jujur bahwa beberapa produk itu adalah dibantu oleh Artificial Intelligence,” kata Abdul Kohar.
Dia menyebutkan Media Indonesia juga menggunakan Artificial Intelligence, “Jadi kita tidak bisa menolak Artificial Intelligence. Jurnalis yang baik itu tidak menolak Artificial Intelligence, tapi bisa hidup berdampingan dengan Artificial Intelligence, justru dialah nanti yang mengarahkan Artificial Intelligence untuk tujuan-tujuan yang konstruktif, bukan untuk hal-hal yang bersifat destruktif dan itu pasti ada,” tegasnya.
Abdul Kohar menyebutkan, Artificial Intelligence ibarat dua mata pisau tergantung siapa yang menggunakan, bisa digunakan untuk mengiris bawang, tetapi juga bisa digunakan untuk membunuh, “Yang kita inginkan adalah bagaimana pisau yang ada ini mampu membuat kerja-kerja kita semakin efektif, semakin presisi,” tandasnya.
Namun dia mengingat Artificial Intelligence harus berada di dalam kontrol manusia, kontrol jusnalis. “Karya jurnalistik itu, ya tetap judulnya, ya orang, ya manusia, ya jurnalis. Bukan mesin, mesin sangat membantu kerja-kerja jurnalistik,” kata Abdul Kohar.
Anggota Dewan Pers, Yogi Hadi Ismanto, antara lain memaparkan berbagai hal antara lain pedoman penggunaan kecerdasan buatan dalam karya jurnalistik.
Dia juga menyinggung tentang pola bisnis media yang bakal berubah dengan adanya pola bisnis baru. “Akan ada pola profit baru terkait royalti seperti yang pada beberapa waktu lalu ramai soal royalti musik,” kata Yogi.
Dosen Teknik Informatika Universitas Mataram, Nadiyasari Agitha, memaparkan tentang berbagai hal terkait penggunaan Artificial Intelligence . Nadiyasari memberikan perspektif akademik dan lokal tentang penggunaan Artificial Intelligence secara etis dan produktif, sekaligus memperkuat kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem digital yang cerdas.
Menurut dia, pihaknya tidak bisa terlepas dari Artificial Intelligence, sehari-hari apalagi di informatika pasti menggunakan Artificial Intelligence . “Boleh ditanyakan langsung ke beberapa mahasiswa saya yang saat ini juga hadir. Mereka ini tanpa Artificial Intelligence mungkin menggelepar. Maksud saya tidak berdaya deh tanpa Artificial Intelligence ,” ucapnya.
Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem digital yang inklusif, bertetika, dan berdaya saing sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan masyarakat digital yang cerdas dan adatif terhadap perubahan teknolgi global.

Sesi workshop mengangkat produktifitas digital yang disampaikan Muhammad Khaidar Rahman, seorang Sofware Engineer dan Artificial Intelligence Researcher.
Di hadapan peserta, Khaidar mengajarkan dan memberikan ilmu yang ternyata belum familiar diterapkan oleh kalangan peserta, terutama terkait penggunaan tools Artificial intelligence.
Menurut Khaidar masih banyak yang belum mengetahui tentang cara yang efektif dan efisien untuk prompting, dan melakukan agent mode Artificial Intelligence ini digunakan untuk apa dan sebagainya.
Khaidar memberikan praktik ke peserta untuk mencari solusi dari Artificial Intelligence mengenai sekolah rakyat. Hasilnya bisa berupa artikel, poster atau video. “Jadi saya cukup banyak menjelaskan tentang Artificial Intelligence ini digunakan sebagai apa, bisa sebagai penulisan, pembuatan poster, video, aplikasi, bahkan sebagai partner bicara,” katanya.
Khaidar menyebutkan, bahwa ternyata banyak kalangan di NTB masih belum begitu maksimal atau terpapar bagaimana cara menggunakan Artificial Intelligence dengan cara yang lebih efisien, lebih produktif dan tepat sasaran sesuai kebutuhan. “Jadi harapannya ke depan kita bisa lebih aware lagi cara penggunaannya, dan menyelesaikan kebutuhan dan permasalahan kita,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Khaidar juga memberikan call to action untuk join grup WhatsApp yang dibuatnya. “Gunanya agar diskusi dan workshop ini bisa berkelanjutan jadinya literasi digital dan Artificial Intelligenc -nya makin berkembang ke depannya,” tandasnya.
Hari Kasidi, salah seorang jurnalis di Mataram memberikan tanggapan positif dengan terselenggaranya workshop dengan tajuk Literasi Cerdas di Era Kecerdasan Artifisial yang menghadirkan peserta dari kalangan pers, mahasiswa dan komunitas.
Dia menilai kegiatan tersebut sangat positif dan bermanfaat karena menambah wawasan dan khazanah keilmuan bagi para peserta khususnya wartawan. Menurut dia, penggunaan Artificial Intelligence dalam kerja jurnalistik dewasa ini di tengah kemajuan teknologi memang suatu keniscayaan, namun dengan tetap memperhatikan dan berpegang pada prinsip jurnalistik.
“Seperti penekanan para narasumber dari anggota Dewan Pers, Direktur Pemberitaan Media Indonesia dan Dosen Fakultas Komunikasi Unram, yang mengingatkan pentingnya klarifikasi dari sebuah informasi atau pemberitaan,” ujarnya.
Hari mengatakan, pada intinya penggunaan Artificial Intelligence diperlukan untuk mendukung kinerja, dan tugas jurnalistik, namun harus tetap memperhatikan prinsip dan kode etik jurnalistik. Dikatakannya, apalagi menyangkut sebuah fakta dan data, dimana seorang wartawan diharuskan datang ke lokasi melakukan proses wawancara dengan narasumber yang kredibel untuk menghasilkan sebuah berita yang berkualitas, dan tepercaya seta menghindari berita hoaks.
“Harapannya, ke depan kegiatan serupa lebih sering diadakan dan bila perlu ada kelas khusus untuk para wartawan. Karena ada banyak hal yang perlu dipertanyakan dan didiskusikan lebih lanjut,” ujarnya. (E-2) (Adv)
Dewan Pers mengeluarkan klarifikasi terkait beredarnya informasi mengenai pungutan biaya untuk penyebaran pamflet imbauan kewaspadaan penyalahgunaan profesi pers di sejumlah daerah.
Sepanjang 2025, isu kemerdekaan pers, profesionalisme jurnalistik, serta keberlanjutan ekonomi media menjadi tiga persoalan utama yang saling berkaitan.
Totok mengatakan Dewan Pers tidak dapat lagi memfasilitasi UKW dalam jumlah besar seperti tahun 2024 karena keterbatasan anggaran.
Dalam jurnalisme modern, AI hadir sebagai alat bantu efisien, bukan pengganti manusia. Literasi dan etika digital jadi kunci melawan hoaks di era kecerdasan buatan.
Setiap karya jurnalistik memiliki nilai pengetahuan dan etika yang dapat membentuk persepsi publik.
LEBIH dari 80 ribu koperasi desa/kelurahan Merah Putih (KDKMP) diluncurkan Presiden Prabowo Subianto secara serentak di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam menghadapi derasnya banjir informasi, publik membutuhkan rujukan kredibel. Di sinilah peran penting Indonesia.go.id.
WhatsApp bersama Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Kementerian Perdagangan RI, dan Direktorat Tindak Pidana Siber Polri, telah meluncurkan kampanye kesadaran publik
Kemkomdigi mengatakan memblokir sejumlah situs hingga konten di media sosial atau medsos yang diakses oleh pelaku terduga peledakan di SMAN 72 Jakarta.
PELINDUNGAN data pribadi merupakan fondasi utama ekonomi digital. Kepercayaan digital adalah mata uang baru dalam ekonomi berbasis data.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved