Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Dikenang sebagai Bapak Pluralisme, Gus Dur Dihadiahi Gelar Pahlawan Nasional

Bimo Aria Seno
10/11/2025 11:57
Dikenang sebagai Bapak Pluralisme, Gus Dur Dihadiahi Gelar Pahlawan Nasional
Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid(Pergunu)

Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh bangsa pada Senin (10/11), bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional. Di antara nama-nama itu, terdapat sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, seorang pemimpin dan guru bangsa yang kerap menjadi simbol pluralisme dan kemanusiaan.

Presiden Republik Indonesia ke-4 ini dikenal sebagai figur yang humanis, berpikiran terbuka, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta toleransi. Ucapannya yang terkenal, “gitu aja kok repot,” menjadi gambaran sikap santainya dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.

Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940. Ia berasal dari keluarga ulama terpandang. Ayahnya, KH Abdul Wahid Hasyim, pernah menjabat sebagai Menteri Agama pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Sementara itu, ibunya, Siti Sholehah, juga dikenal sebagai tokoh perempuan yang berpengaruh di lingkungan pesantren. Gus Dur juga merupakan cucu dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Pendidikan dan Karier

Pada tahun 1963, Gus Dur mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir. Namun, ketertarikannya pada kajian sosial dan politik mendorongnya untuk kemudian melanjutkan studi ke Universitas Baghdad, Irak.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Timur Tengah, ia kembali ke Indonesia pada 1971 dan aktif mengembangkan pendidikan pesantren. Selain itu, ia juga aktif menulis sebagai jurnalis yang kritis terhadap pemerintahan Orde Baru.

Perjalanan karir Gus Dur semakin menonjol pada tahun 1984, ketika ia terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Di bawah kepemimpinannya, NU menegaskan kembali posisinya sebagai organisasi sosial keagamaan yang independen dari politik praktis, sebuah langkah penting dalam sejarah reformasi organisasi Islam tersebut. Jabatan itu diemban Gus Dur selama tiga periode, hingga 1999.

Era Reformasi

Setelah kejatuhan Orde Baru, Gus Dur menjadi salah satu tokoh penting dalam masa transisi menuju era Reformasi. Ia mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai wadah aspirasi politik warga Nahdliyin dan masyarakat luas. Pada Pemilu 1999, PKB berhasil meraih dukungan besar dan mengantarkan Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia ke-4.

Sebagai Presiden, Gus Dur dikenal dengan kebijakan-kebijakannya yang progresif dan berpihak pada masyarakat luas. Beberapa langkah penting yang ia ambil antara lain membubarkan Departemen Sosial untuk menghapus praktik korupsi di dalamnya, mengganti nama Provinsi Irian Jaya menjadi Papua, mencabut TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966, serta menetapkan Konghucu sebagai agama resmi di Indonesia. Ia juga menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional dan mencabut larangan penggunaan huruf Tionghoa, kebijakan tersebut menegaskan komitmennya terhadap pluralisme.

Meski masa pemerintahannya berlangsung singkat dan penuh dinamika politik, Gus Dur tetap dikenang sebagai pemimpin yang tulus, berani, dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009 dan dimakamkan di kampung halamannya, Jombang, Jawa Timur.

Hingga saat ini, sosok Gus Dur sangat dihormati oleh banyak kalangan karena pengabdiannya kepada bangsa, demokrasi, toleransi, dan Islam. Ia adalah seorang tokoh yang mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan keberagaman suatu bangsa yang harus dirangkul bersama-sama. (Gramedia/E-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik