Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI musim hujan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD). Penyakit ini menjadi ancaman kesehatan setiap tahun karena meningkatnya curah hujan menyebabkan banyak genangan air, tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.
DBD adalah infeksi virus yang gejalanya biasanya muncul 4-10 hari setelah seseorang terinfeksi. Gejala umumnya meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, serta munculnya bintik-bintik merah di kulit. Bila tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian.
Oleh sebab itu, pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan penyebaran virus dengue. Salah satu upaya utama dalam mencegah DBD adalah melalui gerakan 3M Plus, yaitu serangkaian tindakan sederhana untuk memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti.
1. Menguras
Kuraslah tempat penampungan air, seperti bak mandi, drum, atau toren, secara teratur.
Jentik nyamuk berkembang biak di air bersih yang tergenang, sehingga penting untuk membersihkan wadah air secara rutin.
Selain itu, benda di sekitar rumah seperti ember, pot, atau kaleng bekas juga perlu diperhatikan agar tidak menampung air hujan.
2. Menutup dan mengubur
Tempat air yang masih digunakan sebaiknya ditutup rapat untuk mencegah nyamuk bertelur. Sementara itu, barang bekas yang tidak terpakai perlu dikubur atau dibuang agar tidak menjadi sarang nyamuk.
3. Mendaur ulang
Barang bekas yang masih bernilai guna, seperti botol, kaleng, atau plastik bekas bisa dikumpulkan untuk diolah kembali atau dijadikan benda bermanfaat, misalnya pot tanaman atau tempat penyimpanan.
Adapun unsur “Plus” dalam gerakan ini mencakup langkah tambahan untuk meningkatkan perlindungan dari gigitan nyamuk, seperti menggunakan obat antinyamuk, memasang kawat kasa di ventilasi dan jendela, menjaga kerapian pakaian agar tidak menjadi tempat persembunyian nyamuk, serta menanam tanaman pengusir nyamuk seperti lavender atau kayu manis di sekitar rumah.
Selain penerapan 3M Plus, upaya pencegahan kini dapat diperkuat dengan vaksin DBD. Vaksin ini mampu menurunkan risiko infeksi berat, mencegah komplikasi, serta mengurangi kebutuhan rawat inap akibat DBD. Efektivitas vaksin akan maksimal jika diberikan secara lengkap sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Kombinasi antara perilaku hidup bersih melalui 3M Plus dan vaksinasi akan dapat menekan penyebaran DBD selama musim hujan. Dengan penerapan itu keluarga juga akan terlindungi dari potensi penyakit yang berisiko fatal ini. (alodokter.com/Z-1)
Kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan ketahanan masyarakat terhadap bahaya demam berdarah melalui aksi nyata berbasis komunitas.
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Case fatality rate (CFR) atau jumlah angka kematian karena demam berdarah dengue (DBD) menurun signifikan dari 2021 di kisaran 0,9%, menjadi 0,4% pada 2025.
Indonesia mencatatkan capaian signifikan dalam upaya pencegahan angka kematian dari kasus demam berdarah (DBD).
KASUS demam berdarah di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, melonjak tajam. Dalam satu bulan sebanyak 157 warga terkena penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti itu.
Pada 2025, tercatat 161.752 kasus Dengue dengan 673 kematian yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.
SEPANJANG periode Januari hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 44 warga di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, positif terserang Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan ketahanan masyarakat terhadap bahaya demam berdarah melalui aksi nyata berbasis komunitas.
Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya petugas kesehatan dan beberapa puskesmas harus terlibat menggerakan masyarakat supaya lingkungan bersih.
Kementerian Kesehatan menerapkan teknologi Wolbachia untuk menekan penyebaran demam berdarah dengue (DBD).
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Case fatality rate (CFR) atau jumlah angka kematian karena demam berdarah dengue (DBD) menurun signifikan dari 2021 di kisaran 0,9%, menjadi 0,4% pada 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved