Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi., mengingatkan masyarakat untuk tidak curhat ataupun berkonsultasi terkait permasalahan hati maupun kepribadian dengan perangkat kecerdasan buatan atau AI.
"Apa yang diungkapkan oleh AI mungkin betul, tapi apakah itu bisa suitable atau cocok untuk situasi kondisi orang ini saat ini, itu yang mesti dipertanyakan lebih lanjut. Kalau kaitannya dengan sesuatu misalnya masalah hati, kepribadian, ada baiknya untuk tidak selalu dengan AI konsultasinya," kata psikolog yang disapa Romi, dikutip Kamis (16/10).
Menurut dia, jawaban AI nanti bisa saja menjadi standar antara satu orang dengan orang lain karena bersandar pada pangkalan data yang sama
memungkinkan akan keluar informasinya sama.
Romi mengatakan AI memang bisa mengumpulkan data-data untuk menjawab atas permasalahan kita. Namun, jika masalahnya menyangkut hal spesifik tentang kepribadian atau masalah tertentu yang sebenarnya tidak bisa dijelaskan lewat data, maka hasilnya akan menjadi kurang tepat jawabannya karena tidak melihat situasi kondisi atau keadaan orang tersebut.
"Bagaimana dia meresponsnya, beradaptasi dengan masalahnya, bagaimana dia juga kemudian mencari jalan keluar dari masalahnya. Hal itu kan kalau kita konsultasi ke seseorang manusia, maka kemungkinan akan dipertimbangkan hal-hal yang lain," jelas dia.
Romi mengatakan saat berkonsultasi dengan manusia justru ada hal-hal lain yang kemudian menjadi bagian pertimbangan, tidak hanya berdasarkan data otentik tentang permasalahannya saja.
Menurut dia, orang mungkin merasa lebih aman berbicara atau curhat dengan AI karena merasa menganggapnya bukan manusia. Tidak ada rasa takut dihakimi atau rahasianya disebarkan, sebab berpikir AI hanyalah mesin.
Romi mengatakan jika seseorang merasa tidak punya teman dekat, sebaiknya jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog karena hal itu bukan berarti dirinya memiliki masalah gangguan jiwa.
Meski curhat dengan teman dekat memang biasanya lebih nyaman karena sudah saling paham. Namun, lanjut Romi, teman yang terlalu memahami kita kadang memberikan saran belum tentu sesuatu yang objektif, tapi berdasarkan pendirian-pendirian tertentu.
Sebaliknya, seorang profesional atau orang dalam kepakarannya akan menjadi lebih objektif dalam memberikan informasi maupun saran.
"Ada baiknya memberikan kesempatan pada diri orang ini yang perlu konsultasi itu untuk mengevaluasi dulu. Apakah saya memang tidak sama
sekali membutuhkan orang untuk curhat, atau memang hanya dengan butuh dengan AI. Karena jangan sampai dengan hasil informasi yang diberikan AI bisa jadi salah jalan juga," ujar Romi.
Lebih lanjut, Romi menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, sebetulnya interaksi dengan sesama manusia akan sangat membantu.
Menurut Romi, meski seseorang merasa bisa berbicara atau curhat dengan AI, perlu diingat bahwa AI bukan manusia. Karena itu, perlu ditelaah lagi sejauh mana batas atau kelenturannya.
"Kalau kadang-kadang cari informasi yang kecil tentang sesuatu 'Saya kok suka cemas ya apa ya penyebabnya bisa ini bisa ini', nah itu mungkin masih bisa ya. Tapi kalau misalnya sudah mendalam, kalau menurut saya sebaiknya tidak dengan AI lagi," jelas Romi. (Ant/Z-1)
Ashley St. Clair, ibu dari anak Elon Musk, menggugat xAI setelah chatbot Grok diduga menghasilkan citra seksual eksplisit dirinya tanpa izin.
Fitur AI Google Photos kini mampu menghapus objek, mengedit foto dengan teks, dan mengganti latar, menjadikannya alternatif Photoshop yang praktis.
Teknologi AI baru bernama CytoDiffusion mampu mendeteksi tanda halus leukemia pada sel darah dengan akurasi tinggi, bahkan melampaui kemampuan dokter spesialis.
Kesadaran akan pentingnya kesiapan data mulai muncul di seluruh spektrum perusahaan, baik skala besar maupun menengah.
Model tersebut berguna bagi investor sebagai alat bantu dalam investasi kuantitatif, dan akademisi dapat menggunakan hasilnya untuk menguji serta menyempurnakan teori.
EKSPLOITASI seksual anak di ruang digital kian mengkhawatirkan dengan maraknya manipulasi konten seksual berupa foto dan video melalui fitur kecerdasan buatan atau AI misalnya lewat Grok.
SOSOK ayah kini sering terasa ada tapi tiada. Data fatherless dari Pendataan Keluarga 2025 menunjukkan bahwa 25,8% anak Indonesia mengalami kondisi fatherless.
Curhat dengan AI itu kan gambaran atau pantulan dari kode atau clue yang kita berikan. Tentu hasil atau feedback yang diberikan tidak ada unsur-unsur humanisnya.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Rose Mini Agoes Salim mengingatkan masyarakat agar tidak curhat atau konsultasi masalah hati dan kepribadian ke AI
JakCare dapat diakses melalui aplikasi JAKI (Jakarta Kini) atau menghubungi 0800-1500-119 tanpa biaya konsultasi.
Curhat merupakan cara manusia menyalurkan perasaan untuk mendapatkan kelegaan, pengertian, dan kadang solusi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved