Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGGANTI gula yang selama ini dipromosikan sebagai pilihan “lebih sehat” ternyata tidak sepenuhnya aman bagi otak. Studi terbaru yang terbit 3 September 2025 di Neurology (American Academy of Neurology) menemukan konsumsi tinggi pemanis rendah/nihil kalori dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif.
Tujuh jenis diuji: aspartam, sakarin, asesulfam-K, eritritol, xilitol, sorbitol, dan tagatose. Hasilnya, hampir semua—kecuali tagatose—berkaitan dengan penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir, terutama pada penderita diabetes.
“Pemanis rendah kalori sering dianggap alternatif sehat gula, tetapi temuan ini menunjukkan potensi bahaya jangka panjang,” ujar Claudia Kimie Suemoto, MD, PhD, Universitas Sao Paulo. Ia menekankan perlunya riset lanjutan tentang opsi alami seperti madu, sirup maple, atau gula kelapa.
Studi ini didanai Kementerian Kesehatan Brasil serta lembaga riset nasional.
Hasil ini membuka peringatan serius: konsumsi pemanis buatan mungkin membawa risiko tersembunyi bagi kesehatan otak, terutama bagi kelompok usia produktif dan penderita diabetes. (News Medical/Z-10)
Makanan manis sederhana dapat memicu fluktuasi gula darah yang tidak stabil. Dampaknya, rasa lapar akan muncul lebih cepat saat sedang menjalankan ibadah puasa di siang hari.
Tubuh membutuhkan gula dalam jumlah cukup, tetapi konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Asupan gula berlebih bukan sekadar masalah kalori, melainkan ancaman bagi metabolisme anak yang masih dalam tahap perkembangan.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Gula dapat merangsang pelepasan serotonin dan endorfin di otak, yaitu zat kimia yang membuat perasaan lebih nyaman dan bahagia.
Serangan jantung kerap dikaitkan dengan kebiasaan merokok, jarang berolahraga, atau pola makan yang buruk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved