Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan mengungkap cara baru yang aneh dan rumit yang dilakukan sel-sel yang terluka untuk menyembuhkan diri sendiri. Peneliti menemukan bahwa sel dapat membersihkan diri untuk kembali ke keadaan seperti sel punca. Jalan pintas ini, yang disebut katartositosis, mempercepat regenerasi tetapi meninggalkan limbah yang dapat memicu peradangan kronis dan kanker.
Dalam sebuah studi baru yang menggunakan tikus, para peneliti dari WashU Medicine, Fakultas Kedokteran Universitas Washington, dan Fakultas Kedokteran Baylor di Amerika Serikat menemukan strategi penyembuhan lain yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Dikutip dari SciTechDaily bahwa tim tersebut mengidentifikasi pembersihan seluler yang membantu sel-sel rusak dengan cepat kembali ke bentuk seperti sel punca. Mereka menamai proses yang baru dijelaskan ini katartocytosis.
Temuan yang dipublikasikan di Cell Reports ini berasal dari eksperimen pada cedera lambung. Dengan menggunakan model ini, para ilmuwan dapat meneliti bagaimana sel berhasil atau gagal memperbaiki diri setelah rusak oleh infeksi atau penyakit inflamasi.
"Setelah cedera, tugas sel adalah memperbaiki cedera tersebut. Namun, mesin seluler yang matang untuk melakukan tugas normalnya justru menghalangi," ujar penulis pertama sekaligus asisten profesor kedokteran di Divisi Gastroenterologi di WashU Medicine, Jeffrey W. Brown.
"Jadi, pembersihan sel ini adalah cara cepat untuk menyingkirkan mesin tersebut sehingga dapat dengan cepat menjadi sel kecil dan primitif yang mampu berkembang biak dan memperbaiki cedera. Kami mengidentifikasi proses ini di saluran pencernaan, tetapi kami menduga proses ini juga relevan di jaringan lain," jelasnya.
Para peneliti mencatat bahwa katartositosis berlangsung cepat tetapi tidak teratur, yang dapat menjelaskan mengapa beberapa proses penyembuhan gagal, terutama selama cedera jangka panjang. Jika proses ini terus berlanjut tanpa kendali, seperti selama infeksi, hal itu dapat menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan sel yang berkelanjutan, kondisi yang menciptakan lahan subur bagi kanker.
Penumpukan limbah yang dikeluarkan itu sendiri juga dapat berfungsi sebagai penanda untuk melacak atau mendeteksi kanker, kata para peneliti.
Sejak awal, para peneliti memperhatikan adanya puing-puing di luar sel. Awalnya mereka menganggap hal ini tidak penting, tetapi semakin banyak limbah eksternal yang mereka lihat dalam studi awal, semakin Brown mulai curiga bahwa ada sesuatu yang disengaja.
Ia menggunakan model cedera lambung tikus yang memicu pemrograman ulang sel-sel dewasa ke keadaan sel punca secara bersamaan, memperjelas bahwa respons "muntah" yang kini terjadi di semua sel lambung secara bersamaan merupakan ciri paligenosis, bukan kuman.
Dengan kata lain, proses muntah bukan sekadar tumpahan yang tidak disengaja di sana-sini, melainkan cara standar sel yang baru diidentifikasi dalam berperilaku sebagai respons terhadap cedera.
Meskipun mereka menemukan katartocytosis terjadi selama paligenosis, para peneliti mengatakan sel berpotensi menggunakan katartocytosis untuk membuang limbah dalam situasi lain yang lebih mengkhawatirkan, seperti memberi sel dewasa kemampuan untuk mulai bertindak seperti sel kanker.
Penelitian lebih lanjut diperlukan, tetapi para penulis menduga bahwa katartositosis dapat berperan dalam memperparah cedera dan peradangan pada infeksi Helicobacter pylori di usus. H. pylori adalah jenis bakteri yang diketahui menginfeksi dan merusak lambung, menyebabkan tukak lambung, dan meningkatkan risiko kanker lambung.
Temuan ini juga dapat mengarah pada strategi pengobatan baru untuk kanker lambung dan mungkin kanker saluran pencernaan lainnya. Brown dan kolaborator di WashU Medicine, Koushik K. Das, MD, seorang profesor kedokteran, telah mengembangkan antibodi yang mengikat bagian-bagian limbah seluler yang dikeluarkan selama katarositosis, menyediakan cara untuk mendeteksi kapan proses ini mungkin terjadi, terutama dalam jumlah besar.
Dengan demikian, katarositosis dapat digunakan sebagai penanda kondisi prakanker yang memungkinkan deteksi dan pengobatan dini. (H-2)
Prestasi ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan, memperkuat riset terapan, serta menghadirkan solusi teknologi.
Penderita Restless Legs Syndrome (RLS) memiliki risiko lebih tinggi terkena Parkinson dibandingkan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Riset ini bertujuan memberikan panduan bagi elit politik sekaligus edukasi bagi masyarakat mengenai kompetensi pemimpin yang benar-benar dibutuhkan di Indonesia.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, dan motivasi intrinsik siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan.
Penghargaan bagi peneliti muda menjadi instrumen penting dalam membangun ekosistem riset nasional yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
Upaya peningkatan kualitas nutrisi masyarakat Indonesia terus diperkuat melalui riset dan publikasi ilmiah yang berkelanjutan.
Penelitian ini menawarkan rekomendasi yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan regional.
Para ilmuan menemukan bahwa bagian otak yang awalnya dianggap hanya memproses penglihatan ternyata dapat memicu gema sensasi sentuhan.
Resiliensi petani merupakan syarat penting jika pengelolaan usaha kelapa di provinsi tersebut ingin berkelanjutan.
Hasil penelitian menemukan persoalan kental manis bukan hanya perihal ekonomi, tetapi juga regulasi yang terlalu longgar.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menilai Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved