Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KEKURANGAN kasih sayang bukan hanya soal perasaan, dalam jangka panjang, dampaknya bisa sangat serius bagi kesehatan mental dan fisik.
Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan kasih sayang dapat meningkatkan risiko kematian dini, meskipun tidak secara langsung menyebabkan kematian secara tiba-tiba.
Artikel ini membahas secara lengkap apakah manusia bisa mati karena kekurangan kasih sayang serta bagaimana efeknya terhadap tubuh dan pikiran.
Kekurangan kasih sayang atau affection deprivation adalah kondisi saat seseorang tidak mendapatkan cukup perhatian, pelukan, sentuhan, atau keintiman emosional dari orang lain. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, dan sering kali tidak disadari.
Orang yang mengalami kekurangan kasih sayang lebih rentan terhadap:
Dalam jangka panjang, hal ini dapat merusak citra diri dan menyebabkan gangguan psikologis yang lebih serius.
Efek dari kurangnya kasih sayang tidak berhenti di mental. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa:
Sentuhan fisik yang sehat, seperti pelukan atau genggaman tangan, terbukti mampu meningkatkan kadar oksitosin (hormon cinta) yang berperan dalam menjaga ketenangan dan keseimbangan tubuh.
Anak-anak yang tidak mendapatkan cukup kasih sayang dari orang tua cenderung:
Secara langsung, kekurangan kasih sayang tidak menyebabkan kematian mendadak. Namun secara tidak langsung, risikonya cukup besar.
Kesepian kronis dan stres berkepanjangan dapat memicu penyakit serius yang meningkatkan kemungkinan kematian dini. Sebuah penelitian dari Harvard menyebutkan bahwa kesepian kronis bisa sebanding bahayanya dengan merokok 15 batang per hari.
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak negatif akibat kurang kasih sayang:
Kekurangan kasih sayang bukan hanya soal kesedihan—dampaknya nyata bagi tubuh dan pikiran. Meski tidak menyebabkan kematian secara langsung, efek kumulatifnya dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius yang berujung pada kematian dini. Oleh karena itu, penting untuk menjaga koneksi sosial dan terbuka terhadap kasih sayang, baik dalam memberi maupun menerima.
Sumber:
Berjalan cepat minimal 15 menit setiap hari dapat menurunkan risiko kematian dini hingga 20%, mengurangi risiko penyakit serius.
Peneliti juga menekankan bahwa meskipun 10.000 langkah bukan angka ajaib, konsistensi dalam berjalan kaki (bahkan dengan target lebih rendah seperti 7.000–8.000 langkah)
MENGONSUMSI makanan ultra-proses dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi atau memperpendek umur yakni produk berbasis daging, unggas, dan makanan laut siap saji,
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di jagat maya menjadi pemicu utama kecemasan masyarakat saat ini.
Sifatnya yang non-invasif, tanpa obat, tanpa efek ketergantungan, dan tanpa downtime menjadi keunggulan terbesar Exomind.
Kepemilikan ponsel pintar pada remaja awal dikaitkan dengan faktor risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
Kesehatan mental pelajar semakin memprihatinkan. Data CDC dan WHO menunjukkan tingginya depresi, pikiran bunuh diri, dan kasus bullying pada remaja di sekolah.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga melakukan edukasi dan workshop kesehatan mental di sekolah-sekolah dan komunitas, serta penguatan tenaga psikolog klinis di puskesmas kecamatan.
Pengemudi mobil Audi yang menerobos Gerbang Tol Simatupang, pintu masuk utama menuju Tol JORR di Jakarta Selatan, pada Rabu (19/11) diklaim mengalami depresi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved