Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
ELANG jawa (Nisaetus bartelsi), burung pemangsa endemik Indonesia, kini terancam punah. Padahal, keberadaannya di alam liar menandakan ekosistem yang seimbang dan sehat. Hal itu disampaikan Guru Besar IPB University dari Fakultas Pertanian Prof Syartinilia Wijaya.
Menurut Prof Syartinilia, elang jawa sangat bergantung pada hutan alami, terutama pohon-pohon tinggi sebagai tempat bersarang. Ia menegaskan, konservasi raptor (burung pemangsa) dan habitatnya merupakan kunci untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
"Raptor merupakan spesies indikator yang sensitif terhadap disfungsi ekosistem. Karena itu, keberadaan mereka penting dalam studi ekologi dan pemantauan kondisi lingkungan," ujarnya dalam wawancara di sela kesibukannya mengajar di Departemen Arsitektur Lanskap IPB University, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, peneliti di Asian Raptor Research Conservation Network (ARRCN) ini menerangkan, terdapat dua jenis raptor berdasarkan pola hidupnya, yakni raptor endemik seperti elang jawa dan raptor migran seperti sikep-madu asia (Pernis ptilorhynchus).
Elang jawa sendiri dikategorikan sebagai spesies terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan telah ditetapkan sebagai spesies prioritas nasional oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA) melalui SK Dirjen No 200/IV/KKH/2015.
Saat ini, populasi elang jawa diperkirakan hanya sekitar 511 pasang, tersebar di 74 patch habitat dengan luas total sekitar 10.804 km persegi atau sekitar 8,4% dari luas Pulau Jawa. Habitat ini kini terancam akibat fragmentasi hutan, perburuan ilegal, perubahan iklim, dan aktivitas manusia.
Prof Syartinilia juga menekankan pentingnya manajemen lanskap terintegrasi dengan pendekatan ekologi lanskap.
"Konservasi elang jawa memerlukan manajemen multi-skala, lintas batas, dan adaptif terhadap perubahan," jelasnya.
Tanpa langkah nyata dan terintegrasi, Prof Syartinilia memproyeksikan pada tahun 2050 luas habitat potensial elang jawa akan mengalami penurunan signifikan.
Karena itu, Prof Syartinilia memberikan sejumlah upaya konservasi yang dapat dilakukan melalui pemilihan skala spasial yang tepat dalam perencanaan konservasi, pengelolaan koridor habitat, serta adaptasi terhadap perubahan iklim dan gangguan manusia. (Z-1)
Wamen UMKM Helvi Moraza menegaskan pentingnya penguatan ekosistem usaha, konektivitas rantai pasok, serta digitalisasi layanan agar UMKM
CIFOR-ICRAF Indonesia bersama Kelompok Kerja Solutions for Integrated Land and Seascape Management in Indonesia (Pokja SOLUSI) Sulawesi Tengah menggelar konsultasi publik.
kemandirian daerah dapat dicapai melalui penguatan regulasi inovasi dan perluasan replikasi praktik-praktik yang terbukti efektif.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan kolaborasi multisektor merupakan fondasi utama bagi penguatan ekosistem inovasi yang berkelanjutan di Indonesia.
Sebanyak 123.320 bibit pohon ditanam di Jawa Barat dalam rangka program Penanaman Vegetasi untuk Mitigasi, bertepatan dengan Hari Pohon Sedunia.
Peningkatan kualitas pendidikan di daerah merupakan upaya strategis dalam memperkuat daya saing bangsa.
WWF mencatat populasi gajah terus menurun akibat deforestasi masif dan hilangnya habitat.
SEEKOR anak badak jawa (Rhinoceros sondaicus) lahir di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten.
KLHK bersama Polda Sumsel berhasil menangkap ZA (60) pelaku perdagangan ilegal cula badak dan pipa gading gajah di Kota Palembang.
POPULASI gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Provinsi Riau terus mengalami penurunan semenjak 20 tahun terakhir dan semakin di ambang kepunahan.
POLDA Sumatra Utara (Sumut) menangkap dua orang pelaku perdagangan hampir satu ton sisik Trenggiling. Sisik satwa dilindungi tersebut dijual para pelaku secara online.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved