Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DAMPAK dari perubahan iklim saat ini telah mengancam berbagai spesies dunia. Termasuk spesies yang berada dalam perlindungan hutan.
Spesies yang tidak dapat bertahan hidup karena perubahan cuaca dan iklim yang ekstrem akan dengan cepat mengalami kepunanahan. Tak hanya itu, ini juga dapat mengakibatkan perubahan drastis terhadap habitat mereka, sehingga banyak spesies yang terpaksa untuk beradaptasi atau beimigrasi.
Menyoroti hal tersebut, Direktur Program Kehutanan KEHATI, Samedi memberikan contoh terkait spesies yang memiliki rentang suhu hidup yang sempit. Kata Samedi, "Ada beberapa serangga yang sifatnya hanya bisa hidup di selang suhu yang sempit. Contohnya nyamuk, yang hanya bisa hidup di suhu sekitar 20 hingga 30 derajat (Celcius)".
Baca juga : Forum SSKE Komitmen Bersama Cegah Laju Perubahan Iklim
Ia melanjutkan, jika suhu berada dibawah atau melebihi puncaknya, populasi nyamuk akan turun drastis atau bahkan menghilang. "Begitu di bawah atau berada dipuncaknya, mungkin nyamuk sudah jalan (menghilang)," kata Samedi kepada media dalam acara Forum Bumi di Jakarta, Kamis (8/8).
"Itu juga sekarang kalau ada iklim berubah, suhunya semakin berubah, itu tuh (penyebab) beberapa spesies itu juga akan hilang," imbuhnya.
Pertama, perubahan iklim memengaruhi suhu dan curah hujan. Artinya, beberapa spesies tidak mampu beradaptasi, terutama spesies yang memiliki toleransi yang rendah terhadap perubahan suhu.
Baca juga : Kayu dan Bambu Lokal Bersertifikasi FSC Solusi Masalah Iklim
Selain itu, perubahan iklim akan berdampak pada perubahan fenologi, yaitu pengaturan waktu musiman untuk tahapan atau pristiwa siklus kehidupan. Contohnya siklus reproduksi dan pertumbuhan banyak organisme, seperri migrasi dini burung dan gangguan perkembangbiakan karena telur tidak dapat dibuahi.
Perubahan iklim juga dapat mengubah siklus hidup beberapa hama dan penyakit, sehingga bisa menyebabkan terjadinya penyebaran penyakit.
Dampak dari perubahan iklim akan berakibat pada kompleksitas interaksi antar spesies, seperti predation, kompetisi, penyerbukan dan penyakit. Artinya ekosistemnya tidak berfungsi dengan baik.
Baca juga : AS Resmi Dukung Pengelolaan Hutan dan Tata Guna Lahan Indonesia
Terakhir, dampak dari perubhan iklim terhadap spesies di hutan adalah lajunya kepunahan.
Kepunahan telah menjadi kenyataan sejak awal waktu spesies muncul. Bahkan beberapa juta spesies yang ada saat ini adalah spesies yang berhasil bertahan dari setengah miliar spesies yang pernah ada sebelumnya.
Di masa lalu, spesies yang punah digantikan dengan spesies baru yang mengisi sisa-sisa atau celah yang ada. Namun saat ini hal tersebut tidak mungkin terjadi karena banyak tempat atau habitat yang rusak dan hilang.
Dengan demikian, kemungkinan perubahan iklim di masa depan akan semakin meluas akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer yang akan meningkatkan suhu permukaan bumi. Sehingga, perubahan-perubahan tersebut dapat memberikan tekanan besar pada seluruh ekosistem.
MENTERI Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan, kearifan lokal harus dimanfaatkan dalam upaya menjaga kelestarian hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Bencana yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, menjadi pemicu bagi para aktivis lingkungan ini untuk bergerak menyelamatkan Indonesia.
Jerome Polin menjelaskan bahwa Indonesia telah kehilangan 10 juta hektare hutan selama dua dekade.
INDONESIA menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan pemikiran keagamaan modern yakni kerukunan dan ekoteologi.
TRAGEDI banjir bandang yang menghantam Aceh, Sumut, dan Sumbar seharusnya menjadi pembuka mata.
Walhi Kalsel mengatakan Kalimantan Selatan (Kalsel) biasa mengalami hal serupa yakni banjir seperti Sumatra jika hutan terus menyusut.
Sepanjang 2025, tim peneliti berhasil mencatat 1.618 jenis flora dan fauna. Terdapat penambahan 275 jenis flora dan fauna baru yang teridentifikasi di kawasan tersebut.
Kepodang kuduk hitam (Oriolus chinensis Linnaeus) merupakan salah satu dari 99 spesies burung yang ada di kampus IPB Dramaga.
Di sekitar kampus IPB Dramaga, setidaknya ada 50 spesies serangga pengunjung bunga berhasil diidentifikasi dari empat ordo Hymenoptera, Lepidoptera, Diptera, dan Coleoptera.
Setiap jenis kupu-kupu membutuhkan tumbuhan pakan dan inang untuk meletakkan telurnya yang spesifik (plant specific).
Kampus IPB Dramaga menjadi rumah bagi setidaknya 23 spesies mamalia dari total 777 spesies mamalia di Indonesia.
Setelah berjuta-juta tahun lamanya, spesies capung bernama Cordualadensa Acorni ditemukan di Dinosaur Provincial Park, Alberta, Kanada.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved