Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBERADAAN serangga sebagai penyangga ekosistem kini berada dalam ancaman serius. Faktor yang paling berkontribusi antara lain perubahan iklim dan aktivitas manusia.
Pakar Entomologi IPB University, yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Damayanti Buchori menegaskan bahwa perubahan iklim dan aktivitas manusia telah berkontribusi besar terhadap kepunahan spesies serangga, yang belum sepenuhnya diketahui manusia.
"Perubahan iklim membuat serangga harus beradaptasi. Bagi yang bisa, mereka bertahan. Tapi bagi yang tidak, mereka akan punah," tegas Kepala Pusat Kajian Sains Keberlanjutan dan Transdisiplin IPB University itu.
Namun, lanjut Prof Damayanti, yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak dari aktivitas manusia yang mengubah bentang alam secara masif.
MI/HO--Pakar Entomologi IPB University, yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Damayanti Buchori"Perubahan tata guna lahan atau land use change yang dilakukan secara besar-besaran telah menyebabkan hilangnya habitat alami bagi banyak serangga," katanya.
Ia menambahkan, "Baru-baru ini pemerintah sempat menyebutkan bahwa hutan itu untuk kepentingan pangan dan energi. Apakah ini artinya tidak ada lagi tempat buat biodiversitas? Ini bahaya sekali."
Menurut Prof Damayanti, saat ini, banyak spesies serangga punah sebelum sempat diidentifikasi.
"Kita saat ini baru mengenal 1 juta spesies serangga, padahal diperkirakan jumlahnya mencapai 5 juta. Banyak yang sudah punah sebelum dikenali, bahkan tidak kita ketahui," ungkapnya.
Terkait dengan ancaman aktivitas manusia, Prof Damayanti juga menceritakan penelitian yang dilakukan oleh Perhimpunan Entomologi Indonesia bersama beberapa peternak lebah.
Hasil riset tersebut menunjukkan indikasi menurunnya populasi lebah di berbagai wilayah Indonesia. Lebih dari separuh (57%) peternak lebah yang menjadi responden mengaku pernah mengalami kejadian di mana populasi lebah ternak mereka berkurang drastis atau bahkan punah.
Di luar negeri, fenomena ini dikenal sebagai Colony Collapse Disorder (CCD), yang bisa dipicu oleh beberapa faktor yang bersamaan mempengaruhi populasi lebah seperti: serangan parasit tungau, pestisida (khususnya dari golongan neonicotinoid), dan perubahan iklim.
"Di Indonesia belum pernah ada penelitian mengenai CCD ini, tapi pengaruh negatif dari pestisida neonicotinoid telah dibuktikan sangat beracun bagi lebah," ungkapnya.
Di Amerika Utara dan beberapa negara Eropa sudah ada data mengenai menurunnya populasi lebah. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran dari berbagai kalangan. Bagaimana dengan Indonesia? Sangat disayangkan Indonesia belum memiliki data tersebut.
Prof Damayanti menyebut, data dasar (baseline information) terkait populasi lebah secara nasional belum ada, apalagi kalau bicara tentang wildbee (lebah liar di alam).
"Populasi lebah di Bogor saja kita tidak tahu. Padahal tanpa data ini, kita tidak bisa memastikan apakah sedang terjadi penurunan atau tidak," ucapnya. (Z-1)
Sepanjang 2025, tim peneliti berhasil mencatat 1.618 jenis flora dan fauna. Terdapat penambahan 275 jenis flora dan fauna baru yang teridentifikasi di kawasan tersebut.
Kepodang kuduk hitam (Oriolus chinensis Linnaeus) merupakan salah satu dari 99 spesies burung yang ada di kampus IPB Dramaga.
Di sekitar kampus IPB Dramaga, setidaknya ada 50 spesies serangga pengunjung bunga berhasil diidentifikasi dari empat ordo Hymenoptera, Lepidoptera, Diptera, dan Coleoptera.
Setiap jenis kupu-kupu membutuhkan tumbuhan pakan dan inang untuk meletakkan telurnya yang spesifik (plant specific).
Kampus IPB Dramaga menjadi rumah bagi setidaknya 23 spesies mamalia dari total 777 spesies mamalia di Indonesia.
Setelah berjuta-juta tahun lamanya, spesies capung bernama Cordualadensa Acorni ditemukan di Dinosaur Provincial Park, Alberta, Kanada.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved