Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
YAYASAN Kanker Indonesia mengatakan puasa intermiten atau pola diet makan dengan batasan waktu, yang melibatkan pergantian antara periode puasa dan makan, memiliki manfaat sebagai penekan risiko kanker.
"Justru puasa intermiten bisa mencegah kanker," kata Ketua Umum YKI Prof Aru Wisaksono Sudoyo dalam sebuah diskusi, Rabu (19/2).
Aru menjelaskan, pembagian waktu ideal puasa intermiten adalah 16/8 atau 16 jam berpuasa dan 8 jam makan. Selain itu, bisa juga diterapkan diet OMAD (One Meal a Day) yakni makan satu kali dalam sehari.
Puasa intermiten disarankan untuk mencegah kanker karena saat tidak mendapatkan asupan makan, metabolisme tubuh akan mengonsumsi sel-sel tidak berguna atau berbahaya, termasuk sel kanker.
"Badan kamu nanti akan kebingungan mencari energi, jadi dia mengambil sel-sel yang tidak ada gunanya dalam tubuh, sel-sel yang beracun, sel-sel yang toksik. Kita harapkan sel-sel kanker yang baru mau mulai dia dimakan sama tubuh," ujar Aru.
Saat sudah memasuki jam makan, Aru menekankan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
Ia juga menganjurkan untuk mengurangi atau menghindari konsumsi daging merah dan ultra processed food, makanan yang sudah diproses secara industri dan mengandung banyak bahan tambahan.
"Pada jam makan, makannya harus yang bagus. Makan yang seimbang, ada sayur, buah, karbohidratnya jangan banyak-banyak, protein, yang penting jangan kebanyakan daging merah," ucapnya.
Diet puasa intermiten bisa dilakukan lima hari dalam seminggu, selang-seling, atau pola jadwal lain sesuai keinginan.
Saat menjalani puasa di bulan Ramadan, Aru menganjurkan berbuka puasa hanya dengan minum air putih dan mulai mengonsumsi makanan berat setelah ibadah salat tarawih.
"Jadi begitu maghrib cuma minum air putih, karena baru 12 jam kan. Mungkin sudah isya baru makan supaya tetap 16 jam (berpuasa)," pungkas dia. (Ant/Z-1)
Pelajari manfaat puasa intermiten untuk menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan jantung, dan mengatur hormon lapar.
Studi terbaru menunjukkan bahwa menunda waktu sarapan—sebagai bentuk puasa intermiten ringan—berpotensi menurunkan lonjakan kadar gula darah
Penelitian University of Surrey: diet rendah karbohidrat bisa berikan manfaat metabolik setara puasa intermiten tanpa pembatasan kalori ekstrem.
Seorang pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa
Sekitar 30 persen kasus kanker diketahui dapat kambuh dalam lima tahun pertama setelah pasien dinyatakan remisi, terutama jika kontrol kesehatan tidak dilakukan secara rutin.
Karena ginjal terletak di bagian belakang rongga perut, tumor kecil sulit dideteksi tanpa teknologi terkini di bidang kesehatan.
Peneliti Universitas Southampton kembangkan antibodi inovatif yang mampu memicu sel T menyerang kanker lebih agresif. Simak teknologi baru di balik imunoterapi ini.
Profil Kevin Keegan, legenda sepak bola Inggris dan peraih dua Ballon d'Or yang baru saja didiagnosa kanker. Simak perjalanan karier 'King Kev' dari Liverpool hingga Newcastle.
Radioterapi merupakan satu dari tiga pilar utama terapi kanker, berdampingan dengan prosedur pembedahan dan terapi sistemik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved