Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah upaya perempuan menjalani gaya hidup sehat dan seimbang, satu ancaman tersembunyi masih sering luput dari perhatian: kanker ovarium. Penyakit ini dikenal sebagai salah satu kanker paling mematikan pada sistem reproduksi wanita, karena gejalanya kerap tidak spesifik dan baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut.
Menurut data GLOBOCAN 2022, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara dengan jumlah kasus kanker ovarium tertinggi di dunia. Setiap tahun, tercatat 15.130 kasus baru dengan 9.673 kematian. Penyebab utamanya adalah kurangnya kesadaran akan gejala awal dan terbatasnya metode deteksi dini yang akurat.
“Gejalanya sering dianggap sepele—seperti perut kembung, nyeri panggul, atau gangguan pencernaan ringan. Padahal, inilah sinyal awal yang tak boleh diabaikan,” ungkap Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Onkologi Muhammad Yusuf DI sesi edukasi “Kanker Ovarium: Bahaya Tersembunyi yang Harus Diwaspadai” yang diselenggarakan AstraZeneca Indonesia, di Jakarta, Kamis (24/7).
Ia menekankan pentingnya edukasi publik terhadap risiko dan upaya deteksi dini kanker ovarium demi meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia.
Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan perempuan terkena kanker ovarium. Di antaranya adalah riwayat keluarga dengan kanker ovarium, mutasi genetik BRCA1/BRCA2, menstruasi terlalu dini, menopause terlambat, tidak pernah hamil, serta kondisi genetik seperti Homologous Recombination Deficiency (HRD). Selain itu, obesitas dan usia yang menua juga berkontribusi pada peningkatan risiko.
Sayangnya, belum tersedia metode skrining yang benar-benar akurat dan dapat diandalkan untuk mendeteksi kanker ovarium secara dini.
Meski begitu, pemeriksaan seperti transvaginal ultrasound dan tes darah CA-125 bisa digunakan sebagai upaya pendukung. Di sinilah pentingnya pemantauan rutin terhadap kesehatan reproduksi, khususnya bagi mereka yang memiliki faktor risiko tinggi.
Gaya hidup sehat masih menjadi salah satu langkah pencegahan paling efektif. Menjaga berat badan ideal, konsumsi makanan bergizi seimbang, berhenti merokok, dan penggunaan kontrasepsi oral terbukti dapat membantu menurunkan risiko.
“Kesehatan reproduksi perlu dijaga sejak dini, bukan hanya saat gejala muncul,” kata Yusuf menegaskan.
Kanker ovarium stadium lanjut umumnya memerlukan tindakan operasi besar untuk mengangkat ovarium, tuba falopi, dan jaringan sekitarnya yang terdampak. Setelah operasi, pasien biasanya menjalani kemoterapi. Namun, tingkat kekambuhan tetap tinggi—bahkan mencapai 70% dalam tiga tahun pertama.
Dalam konteks ini, pendekatan terapi lanjutan seperti maintenance therapy berbasis PARP inhibitor (misalnya Olaparib) mulai diandalkan. Terutama untuk pasien dengan status HRD-positif, terapi ini dapat memperlambat kekambuhan dan memperpanjang masa remisi.
“Menjalani perawatan yang terpersonalisasi setelah operasi dan kemoterapi adalah langkah tepat. Antisipasi terhadap kekambuhan membuka peluang hidup lebih baik,” ujar Medical Director AstraZeneca Indonesia Feddy.
Ia juga menegaskan komitmen AstraZeneca dalam mendukung edukasi publik serta memberikan akses terhadap terapi inovatif.
Senada dengan itu, President Director AstraZeneca Indonesia Esra Erkomay menambahkan, “Kami percaya bahwa inovasi tidak berhenti pada penemuan obat. Komitmen kami mencakup peningkatan kesadaran dan akses pengobatan yang adil bagi seluruh pasien kanker ovarium di Indonesia.”
Setiap perempuan berhak mendapatkan informasi, diagnosis, dan terapi terbaik untuk menjaga kualitas hidupnya. Meski kanker ovarium adalah tantangan besar, bukan berarti tidak ada harapan. Dengan kombinasi antara edukasi yang memadai, gaya hidup sehat, dan kemajuan terapi medis, peluang hidup dengan kualitas yang lebih baik kini semakin terbuka.
Maka, jika Anda atau orang terdekat memiliki gejala atau faktor risiko yang disebutkan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Deteksi dini bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjaga masa depan yang lebih sehat dan bermakna. (Z-1)
Tes darah Galleri yang dikembangkan perusahaan AS, Grail, berhasil mendeteksi lebih dari 50 jenis kanker dalam uji klinis di Amerika Utara.
Demi mendalami perannya sebagai Shella Selpi Lizah, seorang pejuang kanker ovarium, Mawar De Jongh rela menurunkan berat badan hingga 6 kilogram dalam waktu dua bulan.
Louise Altese-Isidori, 50, asal AS, didiagnosis kanker ovarium stadium 4B tanpa gejala apa pun.
Studi PAOLA-1 menunjukkan pasien HRD-positif yang menjalani maintenance therapy dengan Olaparib dan Bevacizumab memiliki masa bebas penyakit hingga 37 bulan.
Bahkan setelah menjalani operasi dan kemoterapi, tingkat kekambuhan kanker ovarium tetap tinggi dalam tiga tahun pertama.
Fokus entitas adalah pada pemberdayaan, baik melalui peningkatan kemampuan komunikasi strategis maupun melalui dukungan emosional dan edukasi bagi perempuan.
Pernyataan itu juga menyampaikan bahwa KJRI Jeddah turut memfasilitasi pemulangan satu WNI dengan kondisi lumpuh akibat sakit ke Indonesia.
Lestari Moerdijat mendorong penguatan peran perempuan sebagai bagian dari langkah strategis pelestarian budaya nasional.
Perempuan pascamenopause menghadapi berbagai tantangan kesehatan, mulai dari penurunan kepadatan tulang hingga melemahnya sistem imun.
Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi, meraih penghargaan Tokoh Perempuan Penggerak Ekonomi dan UMKM.
Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved