Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMPOSER legendaris Ludwig van Beethoven telah lama menjadi subjek perdebatan terkait kesehatan dan penyebab kematiannya.
Kini, para ilmuwan internasional berhasil mengurutkan genom Beethoven, memberikan wawasan baru yang mengejutkan tentang kondisi kesehatan dan penyebab kematian sang komposer.
Kesehatan Beethoven yang Misterius
Beethoven terkenal dengan gangguan pendengaran progresif yang menyebabkan ia hampir tuli tahun 1818, serta masalah gastrointestinal dan penyakit hati yang berkontribusi pada kematiannya pada 1827.
Sejak ia meminta dokternya untuk mendokumentasikan penyakitnya pada 1802, banyak teori tentang kondisi kesehatannya. Penelitian baru ini mengungkapkan beberapa faktor risiko yang sebelumnya tidak diketahui, yang mungkin berperan dalam kematiannya.
Tristan Begg, penulis utama penelitian dari Universitas Cambridge, mengungkapkan bahwa Beethoven diketahui mengonsumsi alkohol secara teratur, seperti tercatat dalam "buku percakapannya."
"Jika konsumsi alkoholnya cukup berat dalam jangka waktu yang cukup lama, interaksi dengan faktor risiko genetiknya menghadirkan satu kemungkinan penjelasan untuk sirosisnya," kata Begg.
Ini menjadi petunjuk penting dalam mengungkap penyebab penyakit hati yang parah yang diderita Beethoven.
Penelitian ini juga menemukan Beethoven terinfeksi virus hepatitis B, yang diperburuk konsumsi alkoholnya. Johannes Krause, dari Institut Antropologi Evolusi Max Planck, menyatakan, "Kita tidak bisa mengatakan dengan pasti apa yang membunuh Beethoven, tetapi sekarang kita setidaknya dapat mengonfirmasi adanya risiko keturunan yang signifikan, dan infeksi virus hepatitis B."
Hal ini mengarah pada kemungkinan bahwa penyakit hati yang diderita Beethoven berkontribusi besar terhadap kematian Komposer Jerman itu meninggal pada usia 56 tahun, pada 1827,
Meski banyak hal yang terungkap, masih ada beberapa misteri yang belum terpecahkan. Peneliti tidak dapat menemukan penjelasan genetik yang jelas untuk gangguan pendengaran Beethoven.
"Meskipun dasar genetik yang jelas untuk hilangnya pendengaran Beethoven tidak dapat diidentifikasi, para ilmuwan memperingatkan bahwa skenario seperti itu tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan," jelas Dr Axel Schmidt dari Institut Genetika Manusia di Rumah Sakit Universitas Bonn.
Selain itu, meskipun Beethoven mengalami masalah pencernaan yang kronis, para peneliti tidak menemukan bukti genetik yang mendukung dugaan penyakit seperti celiac atau intoleransi laktosa.
Aspek menarik lainnya dari penelitian ini adalah penemuan tentang garis keturunan Beethoven. Analisis DNA menunjukkan perbedaan pada kromosom Y, yang mengindikasikan adanya "peristiwa paternitas pasangan ekstra" dalam garis ayah Beethoven, yaitu hubungan di luar nikah.
Maarten Larmuseau, ahli silsilah dari KU Leuven, menjelaskan, bahwa melalui kombinasi data DNA dan dokumen arsip, kami dapat mengamati perbedaan antara silsilah hukum dan biologis Ludwig van Beethoven.
Meskipun beberapa pertanyaan masih belum terjawab, penemuan ini memberi wawasan baru yang berharga tentang penyebab kematian Beethoven.
Dengan menganalisis genom Beethoven, para ilmuwan kini memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai faktor risiko genetik yang dapat menjelaskan kondisi medisnya, termasuk penyakit hati yang kemungkinan besar berkontribusi pada kematiannya.
Penelitian ini membuka pintu bagi studi lebih lanjut, yang diharapkan dapat mengungkap lebih banyak informasi mengenai kehidupan dan kematian salah satu komposer terbesar sepanjang masa. (CNN/Eartth/Z-3)
Selain upaya pencarian fisik dan forensik, Kemenag juga memastikan hak-hak administratif jemaah tetap terjaga.
Keluarga Alvaro Kiano Nugroho masih menunggu hasil tes DNA dari RS Polri sebelum memakamkan bocah 6 tahun yang menjadi korban pembunuhan ayah tirinya, Alex Iskandar
Studi terbaru menemukan perbedaan tiga huruf genetik dalam “genom gelap” yang membuat wajah neanderthal lebih besar dan kuat dibanding manusia modern.
James Watson, ilmuwan Amerika peraih Nobel yang menemukan struktur DNA, meninggal pada usia 97 tahun.
Penelitian terbaru menunjukkan Neanderthal bukan manusia gua bodoh seperti anggapan umum. Ini fakta tentang Neanderthal.
Penelitian Universitas Tokyo menemukan sel punca penyebab uban juga dapat berubah menjadi kanker kulit, tergantung pada jenis stres DNA yang dialaminya.
VILPA merupakan akitifitas singkat tetapi intens yang biasa kita lakukan. Durasi setiap aktivitas biasanya hanya 30–60 detik, tetapi intensitasnya cukup tinggi.
Sseorang yang terbiasa terpapar sinar matahari aktif umumnya memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian nonkanker/non-CVD.
Tingkat kematian akibat stroke di Indonesia mencapai 178,3 per 100.000 penduduk (disesuaikan dengan usia).
Kematian jantung mendadak (Sudden Cardiac Death/SCD) menjadi ancaman serius yang tak bisa dianggap remeh.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa sesaat sebelum kematian, otak memperlihatkan peningkatan aktivitas yang tidak biasa.
Di era digital, informasi menyebar dengan cepat, terutama melalui media sosial. Namun, tidak semua kabar yang viral dapat dipercaya
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved