Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
GEDUNG Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Bahari di Kelurahan Gandaria Selatan, Jakarta Selatan, nampak semarak oleh serombongan kaum ibu bersama anak-anak balita yang berusia 0-3 tahun pada Selasa, (26/11). Mereka tengah mengikuti kegiatan kuliah umum tentang tumbuh kembang anak Program Rumah Anak SIGAP binaan Tanoto Foundation.
Nampak seorang fasilitator mengajak peserta menyanyikan lagu Tepuk Sigap yang serentak diikuti penuh semangat para ibu yang bernyanyi bersama. 'Siapkan generasi anak siap berprestasi, wahai bapak dan ibu ayo ke RAS Bahari, tuk ikut kegiatan pendampingan stimulasi, asah asih dan asuh, tumbuh kembang batita, anak tumbuh sehat jadi generasi Sigap'.
Turut hadir pada kegiatan ini, Sekretaris Kelurahan Gandaria Selatan M. Ridwan, Ketua PKK Hesti Novita Sari, dua nara sumber kuliah umum yakni Penyuluh KB Sahira Damayanti dan Bidan Vani dari Puskesmas Pembantu.
Koordinator Program Sigap Tanoto Foundation wilayah DKI Jakarta, Syamsul Rizal mengutarakan kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat peserta layanan Rumah Anak Sigap mengenai pengasuhan dan pengembangan anak usia dini dengan mengundang nara sumber ahli.
"Kuliah umum ini kami gelar tiap tiga bulan sekali sebagai bagian layanan Rumah Anak Sigap di RPTRA Bahari yang melibatkan warga,orangtua,unsur kelurahan dan posyandu setempat," ungkap Rizal.
Menurut Rizal terdapat empat layanan Rumah Anak Sigap yakni Gandaria Selatan, Jakarta Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat , Duren Sawit dan Cipinang Besar Utara di Jakarta Timur.
Koordinator Rumah Anak Sigap Gandaria Selatan, Dea Tasya Sari mengutarakan dari 7 RW dengan 75 RT di wilayah ini terdapat 1050 balita,pihaknya memprioritaskan warga kelurahan Gandaria Selatan mengikuti program layanan Rumah Anak Sigap yang dimulai sejak 2019.Namun pada 2020 manakala baru dibuka untuk warga terkendala pandemi covid sehingga RPTRA Bahari tutup sementara.
"Kendati pandemi kami tetap beraktivitas dengan memberi layanan vaksin dan jemput bola mendatangi para orang tua dan memberi mainan untuk anak anak dengan tetap menjaga protokol kesehatan," ungkap Dea yang lulusan Sarjana S1 PAUD.
Manakala pandemi melandai dan berlalu, pelayanan Rumah Anak Sigap secara normal diberikan pada warga yang mencakup, pertama, kegiatan tematik dengan memberikan materi pada orang tua tentang pengasuhan sesuai dengan usia anak dalam satu bulan satu kali berdasarkan modul yang telah disiapkan.
Kedua, kegiatan bermain bersama sebanyak dua kali dalam satu bulan dengan kegiatan menstimulasi tumbuh kembang anak secara berkelompok yang juga sesuai dengan usia anak.
"Para ibu peserta layanan Rumah Anak Sigap yang aktif sekitar 70 orang. Kami terbuka bagi warga yang mengikuti layanan ini secara gratis namun ada persyaratan yang mesti dipenuhi yakni anak berusia 0- 3 tahun, memiliki kartu keluarga dan lain lain," ungkap Dea.
Pada kesempatan itu, M Arlan, 31, bersama istri Nuryati, 32, yang hadir mendamping putrinya Aretha, 2,5 mengaku anaknya sejak usia satu tahun telah aktif mengikuti layanan Rumah Anak Sigap. Menurutnya, layanan ini telah sangat membantu dalam menumbuh kembangkan Aretha.
"Iya, saya dan istri sangat terbantu. Kami bisa berkonsultasi tentang gizi anak, juga bisa curhat dengan fasilitator dalam membimbing anak kami," ungkap Arlan.
Dia berharap kegiatan layanan Rumah Anak Sigap dapat terus berlanjut. Arlan yang bekerja sebagai wirausahawan ini mengingatkan walaupun anak dijaga di rumah dengan baik namun faktor lingkungan memengaruhi tumbuh kembang anak dewasa ini.
"Saya kira lingkungan itu memengaruhi banget, karena di luar lingkungan rumah saya di Gandaria Selatan ini kendati baik namun ada anak-anak yang berperilaku kurang cocok, yang saya pantau mungkin akibat bermain game sehingga saya protektif menjaga Aretha. Ibaratnya, jika bisa setiap detik apa pun yang anak saya lakukan saya mesti tahu," tukas Arlan mewanti-wanti.
Bagi Pujiati,35, yang telah mengikutsertakan putrinya Azkia Bilqis selama dua tahun, sejak usia 4 bulan hingga kini berusia 2,8 bulan, keberadaan Rumah Anak Sigap telah sangat membantu tumbuh kembang anaknya dengan baik. "Alhamdulillah secara rutin saya ikuti selama dua tahun ini apa yang diberikan modul oleh fasilitator Rumah Anak Sigap disini," ungkap Pujiati.

Program Lead Tanoto Foundation Irwan Gunawan mengutarakan melalui program Sigap, Tanoto Foundation berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia dengan berkontribusi pada pencegahan stunting dan pengasuhan anak usia dini untuk generasi siap sekolah. "Melalui program unggulan SIgap yang berarti energik atau siap untuk mengambil tindakan Tanoto Foundation menyentuh semua fase pendidikan dari buaian hingga menjadi pemimpin," kata Irwan.
Dikatakan layanan Rumah Anak Sigap memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya para orang tua yang memiliki anak usia 0-3 tahun dengan memberikan pengasuhan yang baik dan mendapatkan kesempatan stimulasi yang tepat.
Pihaknya juga ingin memberikan contoh layanan pengembangan anak usia dini holistik integratif atau PAUD HI dapat diwujudkan melalui Rumah Anak Sigap. Selama ini, lanjut dia, Tanoto Foundation bekerja sama dengan pemerintah kabupaten atau pemerintah provinsi namun kewenangan stakeholder yang menaungi PAUD berada di dinas pendidikan pada level kabupaten atau kota sehingga bekerja sama dengan pemerintah kabupaten atau kota.
Sementara itu, Kepala Bidang PAUD Dinas Pendidikan DKI Jakarta Wawan Sofwanudin mengapresiasi kemitraan yang telah terjalin baik dengan Tanoto Foundation. "Kemitraan dengan Tanoto Foundation, alhamdulillah sudah tahun ke tiga menuju tahun keempat.Layanan Rumah Anak Sigap tujuannya jelas untuk melahirkan generasi yang sehat dan berprestasi dari sejak usia dini," kata Wawan.
Menurut Wawan, Sigap mempunyai program dengan beberapa item itemnya ada secara fisik, menghadirkan tenaga ahli untuk menjadi narasumber kemudian dibuat juga modul sebagai acuan dalam pelaksanaan sebagai hal yang baik dan positif.
Namun begitu, lanjut Wawan, pihak Dinas Pendidikan DKI Jakarta memiliki kesiapan bagi pengembangan anak usia dini mulai usia 3-6 tahun. Sehingga hal ini menjadi tantangan untuk mendukung, mendorong orangtua yang anaknya ber usia 0-3 tahun dapat terlayani.
Hingga kini program layanan Rumah Anak Sigap telah berjalan di 29 lokasi yakni berada empat titik di DKI Jakarta. Di Kalimantan Timur meliputi 9 titik di Kabupaten Kutai Kartanegara, di Pandeglang, Banten 9 titik. Sementara itu di Jawa Tengah ada 4 titik mencakup Kabupaten Tegal, Brebes, Banyumas dan Kota Semarang serta di Riau 2 titik di Siak dan Pelalawan.(H-2)
Fokus kolaborasi ini adalah menggalakkan program pencegahan stunting bagi warga masyarakat di sekitar Pondok Gede, Kota Bekasi.
PT Hengjaya Mineralindo resmi berkolaborasi dengan Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tenggara dalam mengimplementasikan program Taman Asuh Sayang Anak
Dinas kesehatan sulbar melakukan cek kesehatan gratis untuk memantau pertumbuhan dan cakupan gizi anak sebagai upaya pencegahan stunting.
Dinas Kesehatan Denpasar mencatat 4.400 balita telah diperiksa, dengan 13 di antaranya mengalami stunting.
Kemendukbangga/BKKBN terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting).
DALAM upaya mewujudkan Generasi Maju Bebas Stunting, K-24 Group berkolaborasi dengan PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) menyelenggarakan kegiatan edukatif.
SEJUMLAH ibu terlihat berkumpul di sebuah ruang dengan ukuran sekitar 7 x 5 meter dari keseluruhan bangunan dengan luas sekitar 63 meter persegi.
Tidak banyak kepala desa yang mau melanjutkan program setelah masa pendampingan berakhir. Namun kondisi itu tidak berlaku bagi Saeful Muslimin, Kepala Desa Tuwel, Tegal, Jateng.
Di SDN 015 Marangkayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pembelajaran numerasi tidak selalu dimulai dari buku dan papan tulis.
Di sebuah rumah sederhana di Kota Jambi, 7 Mei 1980, Zulva Fadhil tumbuh sebagai anak perempuan yang gemar membaca.
Program tersebut nantinya jika memang memberikan dampak yang nyata akan dibuatkan sebagai program nasional oleh pemerintah.
Ruang sederhana di SDN 015 Marang kayu, yang dulu penuh debu dan dinding retak, kini telah bertransformasi menjadi perpustakaan ramah anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved