Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
CURAH hujan tinggi yang terus melanda berbagai wilayah di Indonesia sejak Oktober ternyata bukan karena pengaruh angin monsun Asia yang menandai musim hujan. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional Erma Yulihastin menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh ketidaksinkronan kondisi atmosfer.
"Angin monsun Asia sebenarnya belum aktif, tetapi hujan sudah tinggi. Ini terjadi karena ada beberapa faktor yang berkontribusi secara signifikan," ungkapnya saat dihubungi, Minggu (24/11).
Erma memaparkan tiga faktor utama penyebab kondisi tersebut. Pertama, dinamika vortex yang tumbuh di Samudra Hindia.
"Sejak Oktober, vortex aktif di Samudra Hindia. Ia kadang menjauh menjadi bibit siklon, tetapi terus muncul kembali, baik di selatan maupun utara ekuator, sehingga membangkitkan hujan signifikan," jelasnya.
Kedua, suhu permukaan laut yang memanas di wilayah tersebut turut memperparah curah hujan. Faktor ketiga adalah gelombang atmosfer yang aktif, terutama jenis Kelvin yang menjalar dari barat ke timur, membawa pola hujan signifikan ke wilayah barat.
Dampak dari fenomena ini, menurut Erma, terutama dirasakan oleh wilayah pesisir barat Sumatra yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia.
"Kota-kota di pesisir barat Sumatra rentan sekali. Hujan biasanya mulai terjadi tengah malam, lalu menjalar ke wilayah lain seperti Kalimantan dan Jawa," ujarnya.
Di Jawa, wilayah selatan menjadi yang paling rentan. Topografi daerah ini, dengan kombinasi antara pesisir dan pegunungan, meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi.
"Bogor, Bandung, Sukabumi, semuanya punya pola yang sama. Gunung-gunung di wilayah ini, seperti Gunung Salak, menjadi hotspot hujan, sehingga intensitas curah hujan di sana sangat tinggi," kata Erma.
Tak hanya itu, daerah-daerah transisi seperti Depok, Cipinang, hingga Tangerang Selatan juga berpotensi terdampak.
"Hujan yang terbentuk di pegunungan akan mengalir ke utara, tetapi karena angin saat ini berasal dari timur, aliran hujan ini lebih cenderung bergeser ke barat, meliputi Jakarta Barat dan Jakarta Selatan," jelasnya lagi.
Erma menekankan bahwa langkah mitigasi bencana harus segera dilakukan sebelum intensitas hujan mencapai puncaknya pada akhir Desember.
"Masih ada waktu untuk mempersiapkan diri," tegasnya. Ia merekomendasikan agar drainase di kota-kota besar segera dibersihkan. "Kalau ada waktu tanpa hujan, segera kerja bakti membersihkan drainase yang tersumbat. Jangan tunggu sampai air menggenang," sarannya.
Selain itu, penguatan tanggul juga harus menjadi prioritas. "Tanggul di sepanjang aliran sungai harus diperbaiki dan ditinggikan. Kalau kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin tanggul-tanggul itu tidak mampu menahan debit air yang besar," ungkap Erma.
BMKG menyatakan, dalam sepekan terakhir, hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem tercatat di sejumlah wilayah.
BNPB laporkan perkembangan terbaru terkait situasi bencana di Indonesia. Sejumlah daerah masih menghadapi dampak bencana yang signifikan, terutama akibat banjir dan cuaca ekstrem.
BNPB menggelar rapat koordinasi penanganan bencana hidrometeorologi basah di Bandung beberapa waktu lalu untuk antisipasi libur natal 2024 dan tahun baru 2025 di Jawa Barat.
Tercatat sepanjang 2024, tercatat ada 1.389 bencana hidrometeorologi di Jabar.
Wilayah yang diguyur hujan tersebut yakni Kabupaten Kupang, Ngada, Manggarai Timur, Ende, sebagian Manggarai Barat, Manggarai dan Sumba Timur.
PRESIDEN Prabowo Subianto menambah dana riset pada 2026 hingga Rp12 triliun. Hal itu disampaikan saat pertemuan dengan 1.200 guru besar, dekan, dan rektor, presiden minta kerja sama dengan BRIN
Kerusakan padang lamun di pesisir Jawa dan sebagian Sumatra berpotensi menjadi salah satu sumber emisi karbon tersembunyi terbesar di Indonesia.
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan kesiapan riset dan inovasi Giant Sea Wall untuk mengatasi banjir rob dan penurunan tanah di Pantura Jawa.
Kerja sama dengan BRIN disebut akan menghadirkan teknologi pemeliharaan beras hasil karya dalam negeri.
Proyeksi hingga 2040 menunjukkan Sumatera menjadi wilayah paling rawan terhadap cuaca ekstrem.
Keberadaan Arsinum sangat membantu warga yang kesulitan memperoleh air bersih dan air minum setelah bencana.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved