Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDENSI COP29 meluncurkan Digitalisation Day pertama dalam konferensi global dengan dukungan lebih dari 90 pemerintah dan lebih dari 1.000 anggota komunitas teknologi digital, termasuk perusahaan, organisasi masyarakat sipil, serta organisasi internasional dan regional. Peluncuran ini sekaligus menandai disahkannya Deklarasi COP29 tentang Aksi Digital Hijau.
Deklarasi ini, yang merupakan bagian dari Action Agenda COP29 pada September 2024, menyerukan penggunaan alat digital untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), memperkuat ketahanan iklim, dan mendorong pembangunan berkelanjutan. Presidensi COP29 telah membangun dukungan lintas sektor untuk mendorong kolaborasi dalam mempercepat digitalisasi ramah iklim, meningkatkan efisiensi energi, dan mempromosikan akses digital yang inklusif, khususnya di negara-negara berkembang.
“Digitalisation Day pertama di COP29 membuka babak baru dalam aksi iklim, menjadikan teknologi digital sebagai alat transformasi. Dengan Deklarasi COP29 tentang Aksi Digital Hijau, kita memiliki peluang unik untuk melawan krisis iklim sekaligus mendorong industri digital untuk bertanggung jawab atas jejak lingkungan mereka. Mulai dari kecerdasan buatan dalam pemodelan iklim hingga optimalisasi sistem energi terbarukan, kemajuan digital menjadi kunci mempercepat solusi berkelanjutan secara global," kata Presiden COP29 Mukhtar Babayev
Pengintegrasian Digitalisation Day ke dalam program tematik konferensi mencerminkan peran penting teknologi dalam menghadapi perubahan iklim.
Hal ini juga menunjukkan komitmen Presidensi COP29 untuk memanfaatkan solusi digital dalam aksi iklim global. Inisiatif ini dikembangkan bersama mitra seperti International Telecommunication Union (ITU), Komite Eksekutif Teknologi UNFCCC, dan pihak lainnya, serta melanjutkan upaya yang dimulai di COP28 untuk mengeksplorasi peluang dan tantangan dalam memanfaatkan teknologi untuk aksi iklim.
Melalui inisiatif ini, COP29 bertujuan menempatkan digitalisasi sebagai inti dari aksi iklim, memberdayakan negara dan komunitas untuk beradaptasi dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Deklarasi ini mendapatkan dukungan dari berbagai organisasi internasional seperti UNDP, UNEP, UNESCO, UNIDO, WIPO, World Bank, hingga sektor swasta seperti Alibaba Group, Google, Nokia, Huawei, dan Cisco. Para pemimpin ini mengeksplorasi bagaimana teknologi digital dapat merevolusi aksi iklim melalui digitalisasi yang ramah lingkungan, pengurangan emisi di sektor teknologi informasi dan komunikasi (ICT), serta peningkatan akses ke teknologi hijau.
“Visi dan dukungan Presidensi COP29 serta negara tuan rumah Azerbaijan memungkinkan terlaksananya Digitalisation Day. Momen bersejarah ini harus mendorong kita untuk mengurangi jejak lingkungan teknologi digital sekaligus memanfaatkan potensinya untuk menghadapi krisis iklim. Mari terus membangun momentum digital hijau ini hingga COP30, demi masa depan digital yang lebih berkelanjutan," kata Sekretaris Jenderal ITU Doreen Bogdan-Martin
Dengan Deklarasi ini, COP29 mengukuhkan komitmennya untuk mempercepat inovasi digital yang mendukung aksi iklim, memberikan harapan akan solusi berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Ata/M-3)
Indonesia memiliki potensi besar dengan carbon credit sebesar 570 juta ton yang telah diverifikasi, dan ada tambahan 600 juta ton yang akan ditawarkan ke pasar internasional.
Aturan yang jelas dalam penerapan pasar karbon diperkirakan akan menghasilkan aliran keuangan sebesar USD1 triliun per tahun pada 2050 secara global.
Korban terbesar dari perubahan iklim adalah negara miskin atau negara yang wilayahnya rentan terhadap naiknya permukaan air laut. Belum lagi dampak keamanan pangan (food security).
Negara-negara berkembang akan membutuhkan USD 1,1 triliun setiap tahunnya untuk pendanaan iklim.
Pembicara yang terdiri dari delapan pemuda dari berbagai negara serta lima pembicara senior sebagai perwakilan PBB, lembaga pemerintah, swasta dan non-profit organizations.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana pola hujan ekstrem mempercepat pelepasan karbon tanah ke atmosfer dan bagaimana biochar menjadi kunci ketahanan tanah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved