Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PENASEHAT Khusus Presiden bidang Ekonomi Bambang Brodjonegoro menilai komitmen dan tanggung jawab negara maju sangat kurang terkait mitigasi perubahan iklim. Padahal, kata Bambang, penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia juga negara maju itu sendiri.
Ia mencontohkan tingkat kehadiran yang rendah dari para kepala negara di Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP) ke-29 di Baku, Azerbaijan, pada 11–22 November 2024.
Hal itu berdampak pada minimnya komitmen pendanaan. “Awalnya COP-29 ini ditujukan sebagai COP finance yang fokusnya di pendanaan, bukan hanya bicara skemanya seperti apa, komitmennya seperti apa, tapi lebih konkret, siapa mau ngasih apa ke mana,” kata Bambang dalam acara Green Press Community 2024 di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Sabtu (23/11).
Belum lagi Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump diprediksi berkurang komitmennya terhadap upaya mitigasi perubahan iklim. “Amerika adalah salah satu yang mengalami dampak berat akibat climate change tapi mereka juga yang agak kurang antusias bicara mengenai climate change. Padahal mereka salah satu penghasil emisi terbesar,” ujar Bambang.
Karena itu, ia menilai adanya ketidakadilan global ketika negara yang menghasilkan emisi terbesar kurang bertanggung jawab untuk ikut melakukan mitigasi terhadap perubahan iklim.
Di sisi lain, kata Bambang, korban terbesar dari perubahan iklim adalah negara miskin atau negara yang wilayahnya rentan terhadap naiknya permukaan air laut. Belum lagi dampak keamanan pangan (food security).
Ia mengakui bahwa sudah cukup banyak pendanaan yang diarahkan untuk mengatasi perubahan iklim dari negara maju. Masalahnya, kata Bambang, kebanyakan yang menikmati dana tersebut adalah negara-negara maju itu sendiri.
“Uang yang berasal dari negara maju tadi kita melihat datanya, penerima terbesar mereka juga. Kenapa misalkan negara-negara maju terutama di Eropa memang mereka sudah banyak menggunakan listrik dari tenaga surya, tenaga angin? Karena mereka punya uang untuk investasi di situ,” ujarnya.
Dalam hal ini, dana dari sektor swasta di negara maju itu diinvestasikan ke dalam pengembangan energi terbarukan di negara maju pula.
“Mereka mengatakan, ‘kita sih mau invest di negara seperti Indonesia atau negara-negara yang tergolong low income, cuma kita masih belum berani melihat risiko yang ada di negara tersebut. Kita masih merasa harga listrik di negara-negara tersebut belum cukup untuk return dari investment tersebut’,” tutur Bambang.
“Akhirnya mereka cari aman saja, cari tempat untuk investasi dan dapat return yang cukup dan itu kembali lagi ke negara maju. Itulah ketidakadilan global yang dari COP ke COP berusaha dipecahkan. Tapi terus terang kalau saya amati perkembangannya sangat lambat,” pungkasnya. (H-2)
Indonesia memiliki potensi besar dengan carbon credit sebesar 570 juta ton yang telah diverifikasi, dan ada tambahan 600 juta ton yang akan ditawarkan ke pasar internasional.
Aturan yang jelas dalam penerapan pasar karbon diperkirakan akan menghasilkan aliran keuangan sebesar USD1 triliun per tahun pada 2050 secara global.
Negara-negara berkembang akan membutuhkan USD 1,1 triliun setiap tahunnya untuk pendanaan iklim.
PRESIDENSI COP29 meluncurkan Digitalisation Day pertama dalam konferensi global dengan dukungan lebih dari 90 pemerintah dan lebih dari 1.000 anggota komunitas teknologi digital
Pembicara yang terdiri dari delapan pemuda dari berbagai negara serta lima pembicara senior sebagai perwakilan PBB, lembaga pemerintah, swasta dan non-profit organizations.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana pola hujan ekstrem mempercepat pelepasan karbon tanah ke atmosfer dan bagaimana biochar menjadi kunci ketahanan tanah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved