Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
NYERI dada sering kali dianggap sepele dan diabaikan oleh banyak orang. Padahal, kondisi ini mungkin bisa saja menjadi pertanda awal dari penyakit jantung yang serius.
Dilansir dari laman Mayo Clinic, nyeri dada yang disertai dengan sensasi terbakar atau tekanan berat di area dada bisa menandakan masalah serius pada jantung. Meskipun tidak semua nyeri dada berkaitan dengan jantung, penting untuk memahami bahwa beberapa jenis nyeri dada memang merupakan gejala serangan jantung atau kondisi lain yang berhubungan dengan jantung.
Nyeri dada yang disebabkan penyakit jantung biasanya muncul karena aliran darah ke jantung terhambat. Ini terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang menyuplai oksigen ke otot jantung. Kondisi ini disebut angina, yang sering kali menjadi pertanda awal sebelum terjadi serangan jantung. Nyeri dada akibat angina seringkali terasa seperti tekanan berat atau sesak di dada, yang kadang menjalar ke lengan, leher, rahang, atau punggung.
Baca juga : Waspadai Ciri-Ciri Penyakit Jantung di Usia Muda
Dalam banyak kasus, nyeri dada yang berhubungan dengan jantung tidak akan membaik hanya dengan istirahat atau perubahan posisi tubuh. Inilah sebabnya mengapa penting untuk segera mencari bantuan medis jika mengalami nyeri dada yang tidak biasa.
Selain nyeri dada, ada beberapa tanda lain yang harus diwaspadai sebagai gejala serangan jantung,
Jika mengalami nyeri dada yang berlangsung lebih dari beberapa menit atau disertai dengan gejala lain seperti sesak napas, mual, atau kelelahan ekstrem, segera hubungi layanan darurat. Semakin cepat seseorang mendapatkan perawatan medis untuk serangan jantung, semakin besar peluangnya untuk selamat.
Baca juga : Mengapa Serangan Jantung Semakin Mengancam Anak Muda?
Penanganan yang cepat dapat membantu mengurangi kerusakan pada jantung dan meningkatkan peluang pemulihan penuh. Jangan menunda atau mengabaikan gejala-gejala yang mungkin muncul, bahkan jika mereka terasa ringan.
Mencegah penyakit jantung bisa dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti makan makanan bergizi, rutin berolahraga, dan menghindari merokok. Memahami gejala awal serangan jantung dan nyeri dada yang berbahaya juga bisa membantu seseorang mendapatkan perawatan lebih cepat.
Jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan penyakit jantung, hipertensi, atau diabetes, sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Dengan begitu, Anda bisa memonitor kondisi jantung dan mengambil langkah-langkah pencegahan jika diperlukan.
Baca juga : Inilah 7 Makanan Pantangan yang Harus Dihindari oleh Penderita Penyakit Jantung
Nyeri dada tidak boleh dianggap sepele, terutama jika disertai dengan gejala-gejala lain seperti sesak napas, kelelahan ekstrem, atau mual. Nyeri dada bisa menjadi pertanda awal dari serangan jantung, terutama jika nyeri tersebut terasa seperti tekanan berat atau sensasi terbakar yang tidak membaik dengan istirahat.
Orang-orang sering menggambarkannya sebagai 'seekor gajah' atau 'seutas tali yang ketat' yang mencengkram dada. Pahami gejala-gejala ini dapat menyelamatkan nyawa karena penanganan dini serangan jantung dapat mengurangi kerusakan jantung.
Jangan pernah ragu untuk mencari bantuan medis jika mengalami nyeri dada yang tidak biasa atau gejala serangan jantung lainnya. (Z-3)
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Pola makan berperan besar dalam kesehatan jantung. Kenali 5 jenis makanan tinggi garam, gula, dan lemak yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan sebaiknya dihindari.
Studi terbaru mengungkap tingkat obesitas di AS melonjak drastis hingga 70% setelah standar pengukuran baru yang menggabungkan BMI dengan lingkar pinggang diterapkan.
Studi terbaru mengungkap jalan kaki lebih dari 10 menit dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini, terutama bagi orang dengan gaya hidup sedentari.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved