Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar menjelaskan sistem kedewasaan atau maturitas untuk menilai tingkat kualitas produksi obat pada industri farmasi perlu terus didorong dalam rangka meningkatkan proses produksi, distribusi hingga penjualan yang akan berdampak pada harga jual obat di pasaran.
Baca juga : Ini Fakta Klorokuin, Eks Obat Covid-19 yang Dianggap Berbahaya
“Harga obat selama ini dianggap mahal karena kita impor bahan lalu harganya naik, tapi semata-mata karena faktor itu, ternyata ada faktor lain. Hubungannya dengan faktor maturitas ini tentu kita berasumsi dengan peningkatan maturitas dari seluruh farmasi, industri farmasi kita masuk ke level tertinggi, maka akan berdampak lebih besar pada produksi termasuk harga obat,” katanya pada Acara ‘Focus Group Discussion dan Penggalangan Komitmen Maturitas Industri Farmasi di Jakarta pada Selasa (24/9).
Taruna memaparkan jika produksi obat pada perusahaan farmasi semakin meningkat maka harga akan turun sesuai teori ekonomi pasar. Namun jika perusahaan farmasi memproduksi dalam bentuk terbatas akan berdampak pada kenaikan harga.
“Bagaimana caranya supaya produksinya meningkat? Bukan hanya untuk pasar dalam negeri, tapi bagaimana menggarap pasar luar negeri. Pasarnya meningkat, jumlah harus dibuat lebih banyak. Kalau (produksi obat) lebih banyak, harganya turun. Itu logika yang paling masuk akal, logika dagangnya,” tuturnya.
Baca juga : Efek Penggunaan Dexamethasone dan Hydroxychloroquine untuk Covid
Saat ini, BPOM tengah fokus untuk mempermudah perusahaan farmasi di Tanah Air menuju mancanegara dengan menguatkan posisi BPOM di dunia melalui beberapa indikator salah satunya memperkuat WHO Listed Authority yang saat ini masih dalam level 3.
“Badan pengawas obat dan makanan harus menjadi terpandang di dunia global dunia internasional, pertama lewat WHO atau World Health Organization, List Authority, memang itu list yang tertinggi, Badan POM akan masuk juga ke maturitas level tertinggi, level 4 dalam bidang obat. Dan kalau kita sudah masuk, kita optimis tahun depan,” tuturnya.
Taruna mengaku saat ini proses akreditasi tersebut masih berjalan hingga November mendatang. Setelah proses tersebut selesai, WHO akan memberi penilaian.
Baca juga : Tingkatkan Pengawasan Rutin untuk Hindari Cemaran Obat Dampak Putusan Kasus GGAPA
“November ini juga dari WHO akan datang melihat, kita optimis. Jika semua persoalan itu kita penuhi, kita akan masuk ke 30 negara top di dunia. Kita se-level Jepang, Amerika dan sebagainya,” katanya.
Selain itu, BPOM juga mendorong peningkatan PICP-S (Pharmaceutical Inspection Cooperation Scheme) di Indonesia yang saat ini sudah masuk dalam 41 negara untuk mengukur money factoring.
“Kalau kita masuk ke level itu juga dan kita sudah masuk, dua hal ini akan membawa regulator Indonesia menjadi reputasi global. Manfaatnya adalah industri obat yang ingin mengirim ekspor dagang mereka dari luar negeri tidak harus datang ke Indonesia mengecek pabriknya, dia cukup lihat, oh ini sudah maturitas lembaganya sudah diakui sejajar,” ungkapnya.
Hal ini menurut Taruna dapat mengurangi biaya dan lamanya waktu approval untuk bisa dipasarkan di negara tujuan ekspor.
“Itu akan mengurangi dua hal yaitu biaya, karena kalau dia datang ke sini mengecek industri-nya, industri harus bayar sehingga mengurangi biaya. Yang kedua, mengurangi lama waktu jadi perusahaan tidak perlu menunggu berlama-lama untuk keluhan approval-nya di negara-negara tersebut. Dan akhirnya dengan aspek itu, kita optimis tahun depan bisa menggali semuanya,” tandasnya. (Dev/M-4)
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial dinilai terancam setelah perubahan regulasi paten terbaru.
Lucia menjelaskan ketika terjadi bencana banyak orang yang terkena luka bisa karena seng, paku, dan sebagainya maka diberikan serum anti tetanus, untuk mencegah infeksi.
Obat dapat berasal dari bahan kimia, tumbuhan, maupun hewan, dan biasanya digunakan dengan dosis tertentu agar aman dan efektif.
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) mengadakan seminar “Peran Strategis GPFI dalam Menegaskan Prinsip 4K untuk Menunjang Kesehatan Nasional”
Obat yang mengandung steroid bisa membahayakan kesehatan tulang apabila dikonsumsi secara terus menerus.
BPOM mencatat, suplemen ilegal dapat berasal dari pabrik-pabrik tersembunyi yang beroperasi di tengah permukiman padat dengan kondisi yang jauh dari standar Cara Pembuatan yang Baik (CPB).
TPID bersama Satgas Pangan bertugas menjamin kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pokok penting, sambil aktif mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan penimbunan
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kemitraan dan keberhasilan Kosmesia dalam mendampingi UMKM kosmetik melalui Proaktif yang digagas BPOM.
Kolaborasi ini menegaskan komitmen bersama dalam membangun ekosistem distribusi produk yang aman, transparan, dan terpercaya.
BADAN Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-96 di Aula Bhinneka Tunggal Ika (BTI) BPOM, Jakarta, Selasa (28/10
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Taruna Ikrar menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kemandirian farmasi nasional melalui pengembangan obat bahan alam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved