Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDIRI Alzheimer Indonesia DY Suharya menjelaskan satu orang terkena demensia akan berdampak pada produktivitas keluarga. Penyakit yang kerap disebut hidden disability ini umumnya menyerang lansia. Pada 2024, ujarnya, ada sekitar 55 juta orang demensia di dunia, 26 juta di Asia-Pasifik, dan 1,2 juta di Indonesia.
“Demensia akan mengganggu fungsi otak, mempengaruhi emosi, daya ingat, pengambilan keputusan, dan lain-lainnya. Tidak hanya itu, lebih dari 60% tenaga dokter kesehatan di dunia, menganggap Demensia sesuatu yang tidak bisa diapa-apakan, tidak bisa dicegah, dan sebagainya,” katanya pada konferensi pers di Gedung Unika Atmajaya Jakarta, Jum’at (20/9).
Baca juga : Penggagas Aplikasi Kesehatan Irene Tanihaha Ajak Warga Lansia Jalani Hidup Sehat
Ia menegaskan bahwa demensia atau istilah awamnya pikun, bukan hal yang normal dan dianggap bagian dari penuaan. Dimensia, sambungnya, merupakan gangguan kesehatan yang harus ditangani, antara lain mencegah lansia agar jangan sampai pikun.
“Upaya kita semua ini ialah memberikan wadah untuk lansia agar tidak pikun, dengan aktivitas bermakna di Academy Healthy Aging Center, memberikan aktivitas untuk orang dengan demensia, setelah diagnosa lalu apa, mereka tetap berkontribusi,” jelasnya.
Masyarakat, terangnya, perlu mengetahui potensi dan faktor risiko demensia. Selain itu, sambungnya, ketersediaan layanan di fasilitas kesehatan seperti konseling untuk para pendamping pasien dimensia, atau keluarganya.
Baca juga : Demensia dan Alzheimer Ancam Kejahteraan Hidup, Cegah sejak Dini
Demensia secara umum menyerang fungsi kognitif, oleh karena itu akan terjadi perubahan perilaku pada pasien yang memiliki dimensia. Menurutnya ketika ada anggota keluarga yang terdiagnosis dimensia, perlu komitmen dari keluarga khususnya pendamping untuk mengontrol dan memperlambat penurunan kesehatan orang dengan gangguan demensia (ODD).
“Hal ini harus menjadi perhatian bersama karena demensia alzheimer menyumbang 60-70% dari keseluruhan kasus demensia di dunia, 90% pengidap demensia berusia 65 tahun ke atas,” katanya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, Demensia alzheimer merupakan penyebab kematian paling tinggi ke-7 secara global pada 2019, mengalahkan diabetes melitus, penyakit ginjal, diare, sirosis hati, tuberkulosis, dan HIV/AIDS. Alzheimer dapat timbul dari kombinasi berbagai faktor penyakit dengan kadar yang berbeda-beda tiap orangnya. namun paling umum dijumpai adalah usia tua.
Baca juga : Sering Mimpi Buruk Bisa Jadi Pertanda Risiko Demensia
Ditaksir terdapat 1,63 juta kematian terjadi pada tahun tersebut akibat alzheimer dan demensia lainnya. Jumlah ini meningkat 181 persen dibandingkan pada 2000, tertinggi dari seluruh penyebab kematian yang lain.
Sementra itu, Alvin Dwi Payana yang merupakan seorang caregiver atau pendamping bagi orang dengan demensia mengatakan tidaklah mudah merawat seorang ODD. Dikatakan bahwa ODD kerap kali mengalami gangguan yang cukup rumit mulai dari penyakit fisik, kesulitan tidur, halusinasi, hingga masalah mental dan emosional.
“Saya merawat bapak yang telah terdiagnosa demensia sejak 2011, memang bagi kami yang merawat harus ada komitmen karena penurunan kognitif dan komunikasinya harus khusus, demensia menyebabkan bapak tidak bisa melakukan beberapa hal sendirian, mereka butuh untuk diajak jalan-jalan agar penurunan memorinya bisa ditekan dan kalaupun turun diharapkan tidak signifikan,” jelasnya. (H-3)
Seiring bertambahnya usia, kebutuhan nutrisi ikut berubah. Pada lansia, massa otot dan kepadatan tulang cenderung menurun, sementara daya tahan tubuh bisa melemah
Penggunaan benda sederhana di rumah, seperti botol air mineral, sudah bisa memberikan dampak signifikan bagi mereka yang sudah berumur.
DUKUNGAN untuk lansia menjadi hal yang penting untuk membantu meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup mereka, khususnya menjelang bulan Ramadan.
Dinas Sosial DKI Jakarta sangat mengapresiasi kegiatan ini demi meningkatkan kualitas hidup lansia.
Namun demikian, lansia dengan penyakit kronis tetap dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum berpuasa untuk penyesuaian obat dan pola makan.
Sekolah Lansia KUN dihadirkan sebagai wadah pembelajaran bagi para lanjut usia agar tetap memiliki ruang untuk berkembang, beraktivitas, dan berperan aktif di tengah masyarakat
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved