Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGGUNAAN bahasa asing selain bahasa Inggris terutama bahasa-bahasa negara Asia Timur sangat diperlukan bagi mahasiswa agar bisa bersaing dalam pasar kerja global.
"Sekarang ini bahasa Inggris sudah menjadi standar, saatnya mahasiswa juga dibekali tiga bahasa asing kawasan Asia Timur seperti Mandarin, Korea, dan Jepang," ujar Rektor Universitas Pancasila (UP) Prof Dr Ir Marsudi Wahyu Kisworo IPU saat penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan tiga instansi, di Jakarta, Kamis (29/8).
Penandatanganan MoU dalam rangka peningkatan kemampuan bahasa asing (Mandarin, Korea, Jepang) civitas academica UP itu dilakukan bersama Universitas Al Azhar Indonesia (Mandarin), Annyeong Edu Indonesia (Korea) dan PT Rajawali Berdikari Indonesia (Jepang).
Baca juga : Enam Universitas di Indonesia Jadi Pusat Pembelajaran Bahasa dan Inovasi Tiongkok
Ikut hadir dalam penandatanganan MoU ini, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Prof Dr Ir Asep Saefuddin MSc, Komisaris Annyeong Edu Indonesia Fero Walandouw, dan Business Operational Head of PT Rajawali Berdikari Indonesia Syarif Hidayatullah SPd CHc MCHt.
Menurut Marsudi, peningkatan kemampuan bahasa asing bagi civitas academica UP juga diperlukan karena kekuatan ekonomi dunia sudah mulai bergerak ke Asia, khususnya Tiongkok dan Jepang.
"Mengapa Korea? Sebab, Korea memiliki potensi kemajuan teknologi yang pesat bersama Tiongkok. Saya harap nantinya lulusan perguruan tinggi di Indonesia, khususnya UP, bisa bersaing di pasar global negara-negara Asia Timur," terangnya.
Baca juga : UMJ Tandatangani Kesepakatan dengan Delapan Universitas Tiongkok
Dalam kerja sama tersebut, mahasiswa bukan hanya mendapatkan kemampuan berbahasa, melainkan juga akan memperoleh sertifikat dan kesempatan kerja magang di Tiongkok, Korea, dan Jepang yang disponsori perusahaan-perusahaan negara bersangkutan.
Marsudi mengatakan kerja sama dengan tiga institusi terkait kemampuan bahasa asing (Mandarin, Korea, Jepang) itu akan berjalan lima tahun.
"Nantinya ada kelas-kelas bahasa kecil sekitar 20 orang per kelas, dan ada rencana kelas bahasa tersebut dibuka untuk masyarakat umum," tuturnya.
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Prof Dr Ir Asep Saefuddin MSc menambahkan UAI memiliki pusat bahasa Mandarin. Melalui kerja sama ini, pihaknya akan berupaya meningkatkan kemampuan bahasa Mandarin, dari sisi tulisan, lisan, termasuk bahasa untuk bisnis.
"Untuk tahap awal dengan UP, kerja sama mencakup bahasa Mandarin. Ke depannya bisa kerja sama dalam hal riset, budaya, dan pertukaran mahasiswa," pungkasnya. (H-2)
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Jepang melalui NEDO menawarkan beberapa skema kerja sama penelitian untuk menyiapkan industri di bidang energi baru dan teknologi.
Kedua perguruan tinggi menargetkan kontribusi lebih besar menciptakan pendidikan berkualitas bagi industri dan masyarakat.
Inisiatif ini menyoroti pentingnya hubungan budaya dalam kemitraan yang berkelanjutan antara Australia dan Indonesia.
Kemitraan strategis ini menegaskan posisi Todak Academy sebagai salah satu pemimpin regional dalam pengembangan talenta digital masa depan di kawasan ASEAN.
Kerja sama tersebut menjadi tonggak penting penerapan sanksi sosial sebagai alternatif hukuman pidana,
Pertemuan ini menjadi tonggak awal terbentuknya Kerja Sama Regional Bali, NTB, dan NTT.
Selama 59 tahun, Universitas Pancasila menjadi rumah bagi lahirnya generasi penerus bangsa.
Menurutnya, ketiga faktor tersebut belum menunjukkan relevansi Bahasa Portugis yang signifikan bagi Indonesia.
Pembelajaran bahasa asing akan membuat anak didik Indonesia lebih terasah kecerdasan dan daya kreatifnya.
Kemendikdasmen diminta untuk melakukan kajian terkait dengan permintaan Presiden Prabowo Subianto menjadikan bahasa Portugis sebagai pelajaran di sekolah.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani, mengatakan ia menyambut rencana pelajaran bahasa Portugis di sekolah tersebut, tetapi harus dengan relevansi yang jelas.
Menurut sebuah penelitian, mereka yang bisa berbicara lebih dari dua bahasa, biasanya memiliki kemampuan kognitif hingga pemecahan masalah yang lebih baik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved