Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BEBERAPA waktu lalu Badan Meteorologi Jepang memperingatkan tentang gempa besar di sepanjang pantai Pasifik pasca yang terjadi di Kyushu.
Gempa megathrust di Nankai saat itu ternyata sudah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia. Nankai sendiri letaknya berada di timur Pulau Shikoku, Kyushu dan Kinki Jepang.
Bahkan menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono sempat mengatakan bahwa gempa megathrust di Nankai dapat memicu gemba dahsyat hingga megnitudo 8.0 setiap satu sampai dua abad sekali.
Baca juga : BMKG: Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia
Selain itu di Palung Nankai juga gempa megathrust ini berpotensi hingga magnitudo 9.1. Dari hal tersebut Daryono gempa megathrust ini akan terjadi di Indonesia, tepatnya di Selat Sunda dan Mentawai.
Gempa megathrust adalah jenis gempa bumi yang terjadi di zona subduksi, yaitu wilayah di mana satu lempeng tektonik menyusup di bawah lempeng lainnya.
Gempa ini biasanya memiliki magnitudo yang sangat besar karena terjadi pada patahan yang panjang dan melibatkan area yang luas.
Baca juga : BMKG: Waspada Gelombang Sangat Tinggi di Perairan Indonesia
Gempa megathrust dapat menyebabkan tsunami besar dan kerusakan yang meluas di daerah sekitar episentrumnya.
Zona subduksi seperti yang ada di sepanjang wilayah pesisir Sumatra dan Jawa di Indonesia sangat rentan terhadap gempa megathrust.
Contoh dari gempa megathrust yang terkenal adalah Gempa dan Tsunami Samudra Hindia pada tahun 2004 yang terjadi di lepas pantai Sumatra dan menyebabkan kehancuran besar di beberapa negara di sekitar Samudra Hindia.
Baca juga : BMKG Imbau Masyarakat Waspada Gelombang Tinggi 6 Meter di Perairan Indonesia
Fenomena ini sangat dipelajari oleh para ahli geologi dan seismologi karena potensi dampaknya yang sangat besar terhadap keselamatan manusia dan infrastruktur di daerah yang terdampak.
Upaya mitigasi, seperti peringatan dini tsunami dan bangunan yang tahan gempa, sangat penting untuk mengurangi risiko dari gempa megathrust.
Gempa megathrust, seperti gempa besar lainnya, biasanya tidak memiliki tanda-tanda yang dapat dirasakan jauh sebelum kejadian.
Baca juga : Gelombang Tinggi 6 Meter, BMKG: Minta Warga Pesisir Waspada
Namun, ada beberapa fenomena yang bisa menjadi indikasi atau peringatan dini akan terjadinya gempa megathrust.
Foreshocks: Gempa kecil atau getaran yang terjadi sebelum gempa utama (mainshock) kadang-kadang bisa menjadi tanda awal dari gempa megathrust. Namun, tidak semua gempa besar didahului oleh foreshocks, sehingga ini bukanlah indikator yang dapat diandalkan.
Perubahan Pergerakan Tanah: Di beberapa kasus, sebelum gempa megathrust terjadi, tanah mungkin menunjukkan pergerakan kecil yang bisa dideteksi oleh alat pengukur atau sensor geologi. Pergerakan ini mungkin tidak terasa oleh manusia, tetapi bisa terdeteksi oleh peralatan khusus.
Penurunan Permukaan Laut Secara Tiba-Tiba: Di zona subduksi, permukaan laut bisa tiba-tiba surut dengan cepat sebelum terjadi tsunami yang diakibatkan oleh gempa megathrust. Ini adalah tanda bahaya yang sangat serius, dan orang-orang di daerah pesisir harus segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi.
Aktivitas Seismik: Peningkatan aktivitas seismik di zona subduksi, seperti gempa kecil yang sering terjadi dalam waktu singkat, bisa menjadi indikasi bahwa tekanan di zona megathrust sedang meningkat dan bisa menyebabkan gempa besar.
Emisi Gas: Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa emisi gas seperti radon dari tanah bisa meningkat sebelum terjadinya gempa besar. Namun, ini bukan tanda yang dapat diandalkan secara universal karena bervariasi tergantung kondisi geologi setempat.
Gangguan pada Peralatan Elektronik: Beberapa laporan menyebutkan gangguan pada peralatan elektronik atau sinyal radio sebelum gempa besar terjadi, meskipun ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan dan bukan indikator yang dapat diandalkan.
Perubahan Level dan Kualitas Air Sumur: Di beberapa daerah, perubahan level air di sumur atau perubahan kualitas air, seperti kekeruhan atau munculnya gas, telah dilaporkan sebelum gempa besar.
Suara Gemuruh atau Dentuman: Beberapa orang melaporkan mendengar suara gemuruh atau dentuman dari dalam bumi sebelum gempa besar terjadi. Namun, ini juga bukan tanda yang pasti dan seringkali tidak terdeteksi oleh banyak orang.
Dari tanda-tanda terjadinya gempa megathrust di atas, tentu kalian perlu melakukan beberapa upaya untuk mengevakuasi diri.
Ketika gempa megathrust terjadi, ada beberapa upaya yang harus dilakukan untuk melindungi diri dan mengurangi dampak dari bencana tersebut. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil:
Dengan mempersiapkan diri sebelum, selama, dan setelah gempa megathrust, risiko dan dampak dari bencana ini dapat diminimalkan.
Secara umum, tidak ada tanda-tanda yang pasti dan dapat diandalkan untuk memprediksi kapan gempa megathrust akan terjadi.
Oleh karena itu, persiapan dan kesiapsiagaan yang berkelanjutan adalah kunci untuk menghadapi risiko gempa megathrust.
Teknologi seperti sistem peringatan dini gempa dan tsunami menjadi sangat penting untuk memberikan peringatan sesegera mungkin setelah gempa terjadi. (Z-12)
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat langkah antisipasi cuaca ekstrem dengan membangun koridor pengendalian hujan dari Perairan Selat Sunda hingga Kabupaten Tangerang
BMKG mengatakan masih diperlukan lebih banyak riset dan observasi terkait subduksi dan potensi kegempaan di wilayah Selat Sunda dan Selatan Jawa.
BMKG juga telah memasang sebanyak 15 sirine untuk evakuasi, yang sebelumnya hanya dua pada tahun 2018
Masyarakat dan nelayan diimbau untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau pada radius lima kilometer.
GUNUNG Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, kembali mengeluarkan erupsi pada pukul 02.42 WIB.
Langkah ini diambil untuk menekan intensitas hujan di daratan dengan cara menebar garam di awan-awan hujan sebelum memasuki wilayah pemukiman padat.
Penundaan pelayaran ini sejalan dengan peringatan dini cuaca maritim yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang.
Sejak Januari 2026, pusat-pusat tekanan rendah tersebut telah mulai terpantau di wilayah selatan Indonesia dan berkontribusi terhadap peningkatan intensitas hujan di sejumlah daerah.
Lestari mengungkapkan bahwa pada penghujung 2025, sejumlah pakar sebenarnya telah menyampaikan peringatan mengenai potensi hujan lebat, fluktuasi cuaca, serta dampak perubahan iklim.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan status siaga hujan lebat untuk wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah pada 10 hari (dasarian) terakhir di Januari 2026.
Gelombang tinggi disertai hujan badai di perairan selatan mencapai 1,25-6 meter dan di perairan utara 1,25-2,5 meter cukup berbahaya terhadap aktivitas pelayaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved