Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SALAH satu misteri terbesar dalam astrofisika adalah mengapa atmosfer Matahari, atau korona, memiliki suhu yang jauh lebih tinggi daripada permukaan Matahari itu sendiri.
Fenomena ini telah membingungkan ilmuwan selama beberapa dekade dan terus menjadi topik penelitian yang intens.
Baca juga : Ini yang Dicari Ilmuwan saat Gerhana Matahari Total di AS
Berikut adalah penjelasan mengenai fenomena ini berdasarkan fakta dan sumber ilmiah.
Permukaan Matahari, yang dikenal sebagai fotosfer, memiliki suhu sekitar 5.500 derajat Celsius. Di sisi lain, korona atau atmosfer terluar Matahari dapat mencapai suhu jutaan derajat Celsius.
Perbedaan suhu yang ekstrem ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana atmosfer yang lebih jauh dari inti panas Matahari bisa lebih panas?
Baca juga : Waspada! Besok Akan Terjadi Ancaman Serius Matahari Terhadap Bumi
Berikut beberapa teori yang diajukan oleh para ilmuwan untuk menjelaskan fenomena ini:
Studi terbaru menggunakan instrumen canggih seperti Teleskop Ruang Angkasa Solar Dynamics Observatory (SDO) dan Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) telah memberikan wawasan lebih mendalam tentang fenomena ini.
Observasi dari misi Parker Solar Probe NASA juga diharapkan dapat menjawab lebih banyak pertanyaan mengenai pemanasan korona.
Baca juga : Apa Penyebab Mata Berair saat Melihat Matahari? Ini Dia 6 Faktornya
Meskipun masih banyak yang harus dipelajari, teori-teori dan penelitian terkini memberikan gambaran yang semakin jelas tentang mengapa atmosfer Matahari lebih panas daripada permukaannya.
Gelombang Alfvén, rekoneksi magnetik, dan nanoflares adalah beberapa mekanisme yang berperan penting dalam fenomena ini.
Pemahaman yang lebih baik tentang pemanasan korona tidak hanya penting untuk astrofisika tetapi juga untuk memprediksi cuaca luar angkasa yang dapat mempengaruhi Bumi. (Z-10)
Sumber:
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Tim ilmuwan di Swedia berhasil menangkap fenomena langka aurora biru di ketinggian 200 kilometer, lebih tinggi dari prediksi model ilmiah.
Eksoplanet tersebut berada dalam sistem TRAPPIST-1, yang terletak sekitar 40 tahun cahaya dari Bumi. Sistem ini ditemukan pada tahun 2016 oleh lima astronom asal Belgia
Sesekali, ketika menatap langit, kita bisa melihat cahaya yang lebih terang di kedua sisi matahari. Fenomena itu dikenal sebagai sun dogs.
Penelitian terbaru mengungkap mikrometeorit fosil mampu menyimpan jejak oksigen atmosfer kuno.
Setiap kali petir menyambar, terbentuk gas nitrogen oksida (NOx), jenis polutan yang juga dihasilkan dari asap knalpot kendaraan.
Fenomena langka ini memungkinkan aliran air mengukir Ngarai Lodore sedalam 700 meter tepat di jantung pegunungan, sebuah jalur yang secara logika topografi
Jika skenario itu terjadi, sebagian besar daratan akan berada jauh dari pengaruh pendinginan laut. Fenomena ini dikenal sebagai efek kontinentalitas, yakni kondisi ketika wilayah pedalaman
Berbeda dengan Bumi yang memiliki lempeng tektonik yang saling bertabrakan atau menjauh, Bulan hanya memiliki satu kerak yang utuh dan berkesinambungan.
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Prof Steve Brusatte dari University of Edinburgh bersama Dr Gregor Hartmann dari Helmholtz-Zentrum, Jerman.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature melalui makalah berjudul Soft photonic skins with dynamic texture and colour control.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved