Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM rangka Hari Peduli Autis Dunia, Komnas Perlindungan Anak (PA) menggelar diskusi berjudul Autis Terus Meningkat, Pilihlah Wadah yang Bebas BPA. Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut, Ketua Komnas Perlindungan Anak Hery Chariansyah, praktisi kesehatan Catherine Tjahjadi, Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi NasDem Ratu Ngadu Bonu Wulla, Duta anak Autis Cornelia Agatha, dan pemilik sekolah Imaculata Autism Boarding School, Imaculata Umiyati.
Dalam seminar tersebut disimpulkan sebaiknya para ibu menghindari penggunaan wadah yang mengandung BPA.
"Kita berterima kasih kepada pemerintah, juga BPOM, atas peraturan BPOM No 6 tahun 2024 yang telah mengundangkan Perubahan Kedua PerkaBPOM No 31 tahun 2018 tentang label pangan olahan. Tapi, bagi kami yang memperjuangkan kesehatan anak, tidak bisa menerima berpotensi. Tetap harus dihindari," papar Hery Chariansyah.
Baca juga : Komnas Perlindungan Anak: Labelisasi Galon BPA Tak Bisa Ditunda
Lebih jauh Hery menekankan penyandang Autis di dunia makin meningkat.
"Menurut data terbaru, setiap 36 kelahiran terdapat satu anak yang lahir autis. Dan BPA itu sangat berperan besar sebagai penyebabnya. Untuk itu, ibu-ibu harus pandai memilih wadah yang tidak mengandung BPA," tandas Hery.
Sementara itu, menurut Dr Imaculata, Bunda Anak Autis yang juga pemilik sekolah Imaculata Autism Boarding School, setelah dilakukan penelitian terhadap darah atau feses anak autis di Amerika Serikat (AS) ternyata banyak mengandung logam berat dan BPA.
Baca juga : Komnas Perlindungan Anak Berkirim Surat ke Presiden terkait BPA
"Jadi setelah diperiksa ternyata positif, isinya logam berat dan BPA. Maka dari itu, hindari penggunaan wadah yang jelas-jelas berpotensi BPA. Sebab BPA butuh waktu untuk meracuni kita," tutur Imaculata Umiyati.
Sedangkan, menurut Catherine Tjahjadi, paparan BPA masuk ke dalam tubuh karena suhu panas maupun gesekan. Sehingga bermigrasi dari wadah ke air, setelah air dikonsumsi inilah munculnya paparan BPA yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit terutama autis.
"Jadi BPA itu sifatnya merusak hormon Endokrin. Dampaknya menimbulkan penyakit mental. Jadi kita harus jeli memilih wadah. Kalau ada kode nomer 7 di dalam segitiga hindari. Gunakan yang berkode 1, 2, 4, dan 5 itu semua aman bagi kesehatan" ungkap Chaterine.
Baca juga : Komnas PA Minta BPOM Sahkan Peraturan Label Pangan Olahan
Sedangkan, Anggota Komisi IX Fraksi NasDem, Ratu Ngadu Bonu Wulla, menegaskan siap mengawal pelaksanaan di lapangan.
"Kita berterima kasih kepada BPOM yang telah mengeluarkan peraturan no 6 tahun 2024, yang berisi diundangkannya Perubahan Kedua PerkaBPOM No 31 tahun 2018 tentang pelabelan galon guna ulang. Walau pun sudah disahkan, pelaksanaan di lapangan butun di awasi. Itulah salah satu fungsi DPR RI," tandas Ratu.
Pesan yang paling mendalam datang dari Wakil Ketua Komnas PA, yang juga menjadi duta Anak Autis, Cornelia Agatha. Menurutnya, merawat anak autis itu berat. Lebih baik mencegah dengan memilih wadah yang bebas BPA.
"Saya mempunyai saudara yang terkena autis. Itu bukan hanya satu keluarga yang runtuh, tapi semuanya. Sebab akhirnya seluruh keluarga hanya terfokus pada anak yang autis. Anak yang lain jadi tidak diperhatikan, ini malah menimbulkan masalah baru," tutur Cornelia Agatha. (Z-1)
PP TUNAS adalah jawaban atas kekhawatiran kalangan medis terhadap dampak negatif media sosial bagi tumbuh kembang anak.
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Suga BTS ikut menulis buku terapi autisme berbasis musik bersama peneliti Severance Hospital. Ia juga terlibat langsung dalam programnya.
Kabar baik bagi ibu hamil! Tinjauan ilmiah terbaru dari The Lancet menegaskan paracetamol aman dan tidak terbukti meningkatkan risiko autisme atau ADHD pada anak.
Studi menemukan ketidakseimbangan hormon tiroid yang berlangsung selama beberapa trimester kehamilan dapat meningkatkan risiko autisme pada anak.
Penelitian baru menunjukkan kemampuan kognitif, bukan sekadar gangguan pendengaran, menentukan seberapa baik seseorang memahami percakapan di tempat ramai.
Belakangan, asam folinat mulai menarik perhatian sebagai salah satu pendukung terapi pada anak dengan autisme. Apa sebenarnya zat ini dan bagaimana perbedaannya dengan vitamin B9.
Penelitian terbaru dari Stanford mengungkap peran evolusi otak manusia dalam tingginya prevalensi autisme.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved