Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK jemaah lansia yang tersesat baik saat di Madinah maupun Makkah selama penyelenggaraan musim haji. Pencarian terhadap lansia yang tersesat membutuhkan waktu, apalagi jika lansia tersebut tidak memiliki handphone. Untuk membantu mendeteksi keberadaan lansia tersebut kini tengah dikembangkan alat khusus yang bernama smart locator.
Saat ini penggunaan alat tersebut masih dalam uji coba. Petugas Haji Daerah (PHD) Umum JKS 23 Bekasi, Muhammad Yahya Firdaus menjelaskan, selain membantu lansia, ia juga diberi tugas oleh Kesejahteraan Rakyat Pemprov Jawa Barat (Kesra Jabar) untuk melakukan ujicoba penelitian penggunaan smart locator selama di Tanah Suci.
Alat ini akan membantu mendeteksi keberadaan lansia jika tersesat ataupun pada saat emergency. Alat ini diproyeksikan untuk membantu pelayanan bagi lansia yang tidak bisa menggunakan smart phone, sehingga diharapkan dapat meminimalkan hal-hal yang tidak diinginkan pada lansia tersebut
Baca juga : Kemenag Kaji Skema Remunerasi PPIH 2024, Siapkan Petugas Khusus di Armuzna
Penggunaan alat ini, lanjut Yahya, cukup dikalungkan kepada jemaah lansia. "Fungsi alat ini digunakan untuk lansia dengan cara dikalungkan atau dipasang sebagai gelang tergantung,” ujar Yahya kepada Media Center Haji di Grand Zowwar Hotel, Madinah, Senin (28/5).
Smart locator yang memiliki diameter sekitar 3 cm terdapat tombol bulat di tengah. Jika tombol ini ditekan, alat akan mengirimkan sinyal SOS data lengkap kepada ketua regu. Data yang akan dikirim adalah nama lengkap, data jemaah, lokasi kejadian, dan jam kejadian.
"Smart locator telah disambungkan ke whatsapp blast grup kloter, sehingga ketika ketua rombongan ataupun pun ketua kloter menerima pesan ini akan mudah mendeteksi keberadaan jemaah tersbut,” papar Yahya yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT.
Baca juga : 23 Ribu Jemaah Haji Berada di Madinah, Petugas Antisipasi Jemaah Tersasar
Selain ditekan tombolnya, ia juga menambahkan, alat ini juga sensitif terhadap getaran. Jika terjadi kecelakaan pada jemaah lansia atau terjatuh alat ini akan mengirimkan sinyal SOS data tersebut. "Ketika sudah diaktivasi, alat ini sudah merekam data jemaah melalui chip yang disimpan di dalam smart locater,” ungkap dia.
Alat ini akan diujicoba di Makkah dengan asumsi beberapa tim akan bertemu di Makkah. Untuk uji coba alat ini, smart locator yang digunakan sebanyak 30 unit dan nantinya akan diberikan ke enam orang pada setiap kloter JKS 23. "Kemarin alat ini sudah kami uji coba di kebun kurma ketika city tour. Dan alhamdulillah alat ini berfungsi dengan baik. Sinyal SOS yang dikirimkan ke grup whatsapp blazz terbaca dengan baik dan jelas,” tukasnya.
Pemegang hak paten smart locator Muhammad Reza mengakui saat ini alat ini baru pada tahap ujicoba fungsional. Hal ini untuk memastikan sinyal di Arab Saudi cukup baik dan dapat berfungsi mengirimkan sinyal dengan baik ke grup whatsapp blast.
Baca juga : Marsini, Potret Jemaah Haji Lansia Berkebutuhan Khusus
"Kedua yang perlu diujicoba ketika Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) untuk memastikan kapasitas seluler yang ada di sana berjalan dengan baik,” Ucap Reza.
Ia menerangkan, inisiasi smart locator ini adalah Biro Kesra Jabar dan nantinya pihak Kemenag Jabar sebagai eksekusinya.
“Setelah sampai di tanah air, kita akan ada kuesioner untuk memastikan penggunaannya dari sisi user apakah terganggu atau tidak dan kedua adalah fungsi dari alat itu sendiri. Ini bisa menjadi saran untuk perbaikan ke depannya seperti apa,” pungkas Reza. (P-5)
Pemerintah menetapkan kuota khusus bagi jamaah haji lanjut usia (lansia) sebesar 5 persen di setiap provinsi pada penyelenggaraan 2026.
Angka kematian jemaah haji Indonesia disorot Saudi. Timwas DPR minta seleksi kesehatan diperketat demi keselamatan jemaah, khususnya lansia berpenyakit.
Skema Tanazul yang rencananya akan diikuti sekitar 37.000 jemaah tiba-tiba dibatalkan dan diundur untuk penyelenggaraan haji tahun depan.
KEMENTERIAN Agama (Kemenag) mengungkapkan tengah menunggu surat resmi dari Pemerintah Arab Saudi mengenai pembatasan jemaah haji berusia lanjut (lansia) di atas 90 tahun.
Tambahan kuota haji yang telah diberikan kepada Indonesia sebanyak 20 ribu. Mestinya penambahan itu untuk mengurangi beban tunggu jemaah haji lansia, bukan diberikan kepada haji plus.
KKHI akan melakukan jemput bola dengan meningkatkan deteksi dini terhadap jemaah yang berisiko tinggi
Para peserta mulai menemukan nilai-nilai penting seperti kedisiplinan, kegembiraan, dan kekompakan selama mengikuti pelatihan.
Pemahaman terhadap regulasi media sosial di Arab Saudi menjadi hal penting yang wajib ketuhui, baik oleh petugas maupun jemaah haji.
Metode pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan konsep semimiliter menjadi pendekatan baru dalam membentuk karakter petugas haji yang akan melayani jemaah.
Beberapa peserta diklat diketahui mengidap penyakit yang berisiko tinggi mengganggu tugas lapangan, seperti Tuberkulosis (TB) dan gangguan ginjal.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menegaskan calon petugas haji harus fokus melayani jemaah, bukan pejabat
Petugas haji merupakan representasi negara yang diberi amanah untuk melayani jemaah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved